Mohon Perhatian! 12 Sumur High Impact Dibidik Sumbang 2,2 Miliar Barel Setara Minyak

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di balik lapisan batuan yang tersembunyi jauh di bawah permukaan bumi, Indonesia masih menyimpan peluang besar untuk menemukan sumber energi baru. Tantangannya adalah bagaimana membaca petunjuk geologi, menentukan titik pengeboran yang tepat, dan membuktikan bahwa potensi tersebut benar-benar menyimpan minyak dan gas bumi.

Tahun 2026 menjadi salah satu momentum penting bagi upaya tersebut. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menaruh harapan besar pada 12 sumur eksplorasi high impact atau sumur berpotensi tinggi. Meski hanya mencakup sekitar 31 persen dari keseluruhan rencana pengeboran, belasan sumur ini ditargetkan menyumbang sekitar 80 persen dari potensi sumber daya yang diperkirakan sebelum pengeboran.

Angkanya tidak kecil. Dari target pre-drill resources sebesar 2,6 miliar barel setara minyak (billion barrels of oil equivalent/BBOE), SKK Migas membidik potensi sekitar 2,2 BBOE melalui 12 sumur tersebut.

Target itu memperlihatkan arah strategi eksplorasi Indonesia: bukan sekadar memperbanyak sumur yang dibor, melainkan memusatkan perhatian pada lokasi-lokasi yang dinilai memiliki peluang sumber daya signifikan.

“Pada tahun 2026, kita memiliki 12 sumur high-impact, yang mewakili sekitar 31 persen dari total rencana pengeboran, tetapi mencakup sekitar 80 persen dari target cadangan yang diperkirakan sebelum pengeboran (pre-drill resource target),” seperti diceritakan Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus kepada ruangenergi.com, Selasa (27/10/2026), di Jakarta.

Di antara sumur-sumur yang menjadi perhatian, Pertamina mengelola lima lokasi yang masuk dalam kelompok sumur berpotensi tinggi. Kelimanya tersebar pada sejumlah wilayah kerja dengan karakteristik geologi dan tantangan eksplorasi masing-masing.

Sumur-sumur tersebut adalah Besar-1 yang dikelola Pertamina East Natuna (PEN), Banyu Geni-01 dan Wijaya Kusuma-1 yang dikelola Pertamina EP (PEP), Padang Pancuran-002 yang juga berada di bawah PEP, serta Tingkilan-1 yang dikelola Pertamina Hulu Energi Lepas Pantai Bunyu (PHE LPB).

Kelima sumur itu menjadi bagian dari upaya membuktikan potensi sumber daya migas melalui kegiatan pengeboran eksplorasi. Namun, besarnya potensi yang diperkirakan sebelum pengeboran belum otomatis berarti penemuan migas telah berhasil dikonfirmasi.

Di sinilah pengeboran memainkan peran penting. Data geologi dan geofisika dapat membantu menentukan lokasi prospektif, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi bawah permukaan yang sesungguhnya.

Bagi industri hulu migas, setiap sumur eksplorasi merupakan proses pembuktian. Hasil pengeboran dapat membuka peluang pengembangan lapangan baru, tetapi juga dapat menunjukkan bahwa perkiraan awal belum sesuai dengan kondisi aktual.

Harapan eksplorasi juga mengarah ke kawasan Indonesia timur. Rikky menyampaikan bahwa SKK Migas menantikan pengeboran sumur oleh Petronas bersama Total E&P di Blok Bobara, yang berlokasi di dekat Papua, pada pertengahan November 2026.

“Pada pertengahan November, kami menantikan pengeboran sumur oleh Petronas bersama Total E&P di Blok Bobara, yang terletak di dekat Papua,” kata Rikky.

Pengeboran tersebut menjadi salah satu agenda eksplorasi yang dinantikan karena hasilnya akan memberikan bukti lebih lanjut mengenai potensi geologi di wilayah tersebut.

Kawasan Indonesia timur selama ini menjadi bagian dari perhatian dalam upaya memperluas pencarian sumber daya migas. Meski demikian, besarnya peluang di suatu wilayah tidak dapat hanya ditentukan oleh letak geografis atau perki