Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Proyek Pipa Transmisi Gas Bumi Dumai–Sei Mangkei (Dusem) terus dikebut. Membentang sepanjang 534 kilometer, proyek strategis nasional ini menjadi salah satu tulang punggung baru untuk mengintegrasikan jaringan gas bumi di wilayah Sumatra bagian utara sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Dikutip dari Halo Migas, proyek yang masuk dalam skema MYC 2025–2027 tersebut terbagi dalam dua segmen utama. Segmen pertama menghubungkan SKG Belawan di Dumai dengan Stasiun Labuhan Batu, sedangkan segmen kedua membentang dari Stasiun Labuhan Batu menuju Fasilitas Duri.
Berdasarkan data per 11 Agustus 2026, progres pembangunan menunjukkan capaian yang cukup signifikan. Secara gabungan, realisasi fisik proyek Dusem telah mencapai 37,528 persen.
Angka tersebut berasal dari capaian fisik Segmen 1 sebesar 38,966 persen dan Segmen 2 sebesar 36,09 persen.
Segmen 1 Tembus 38,966 Persen
Segmen pertama memiliki panjang pipa 268 kilometer setelah proses Detail Engineering Design (DED). Hingga 11 Agustus 2026, realisasi fisiknya mencapai 38,966 persen, lebih tinggi dibandingkan target rencana sebesar 38,153 persen.
Dari sisi keuangan, realisasi pada segmen ini telah mencapai 22,586 persen.
Pekerjaan konsultansi ditangani KSO Surveyor Indonesia–Tata Guna Patria, sementara pekerjaan konstruksi dilaksanakan KSO WIKA–Nindya.
Segmen 2 Capai 36,09 Persen
Sementara itu, Segmen 2 yang menghubungkan Stasiun Labuhan Batu–Fasilitas Duri memiliki panjang pipa 266 kilometer setelah DED.
Realisasi fisiknya per 11 Agustus 2026 mencapai 36,09 persen, jauh di atas target rencana sebesar 21,92 persen. Adapun realisasi keuangan mencapai 20,703 persen.
Untuk segmen ini, pekerjaan konsultansi dilaksanakan KSO PT Sucofindo–PT Kanta Karya Utama.
Adapun konstruksi dikerjakan oleh sejumlah perusahaan, yakni PT Remaja Bangun Kencana Kontraktor, PT Brantas Abipraya (Persero), serta PT Sumber Bangun Sentosa–PT Singgar Mulia.
Bukan Sekadar Pipa
Proyek Dusem bukan sekadar pembangunan infrastruktur pipa gas. Di balik bentangan pipa sepanjang lebih dari 500 kilometer tersebut, pemerintah menaruh agenda yang lebih besar: membangun konektivitas energi di Sumatra bagian utara.
Jaringan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gas industri, meningkatkan efisiensi distribusi energi, sekaligus mengintegrasikan jaringan pipa gas di wilayah Sumatra bagian utara.
Dengan terhubungnya jaringan tersebut, gas bumi diharapkan dapat mengalir lebih fleksibel menuju pusat-pusat kebutuhan energi dan industri. Infrastruktur ini sekaligus menjadi bagian penting dalam membangun sistem distribusi gas yang lebih terintegrasi.
Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pengerjaan proyek tersebut.
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh lini tim, kontraktor, dan tenaga kerja yang terlibat atas dedikasi dan kerja keras dalam mengawal proyek vital ini.”
Pembangunan Dusem ditargetkan rampung pada 2027.
Jika target tersebut tercapai, Sumatra bagian utara tidak hanya memiliki pipa gas baru, tetapi juga sebuah urat nadi energi yang menghubungkan wilayah, industri, dan sumber daya gas dalam satu jaringan yang lebih terintegrasi.
Proyek Dusem pun diharapkan menjadi fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan industri sekaligus memperkuat ketahanan energi di kawasan Sumatra bagian utara.


