Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan ternyata bukan sekadar soal membangun kilang dan memproduksi bahan bakar hijau.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, membagikan pengalamannya saat melakukan management walkthrough ke Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur.
Melalui akun Instagram pribadinya, Oki menyoroti satu hal yang kerap luput dalam pembahasan SAF: infrastruktur di ujung rantai, yakni bandara, harus sama kuatnya dengan kemampuan produksi di hulu.
“Kapabilitas produksi SAF di hulu (co-processing dan green refinery) hanya akan menciptakan nilai penuh jika didukung infrastruktur penyaluran yang sama kuatnya di titik akhir rantai nilai: bandara,” tulis Oki dalam unggahannya.
Menurut Oki, Juanda menjadi salah satu dari tiga bandara terbesar di Indonesia dari sisi trafik dan pergerakan pesawat, bersama Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai.
Karena itu, kesiapan AFT Juanda menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem penerbangan berkelanjutan di Indonesia.
Dua Jalur Produksi SAF
Oki menjelaskan, Pertamina kini membangun kemampuan produksi SAF melalui dua jalur.
Pertama, co-processing dengan memanfaatkan kilang yang sudah ada.
Strategi ini dinilai menjadi cara tercepat untuk meningkatkan produksi SAF. Pertamina memodifikasi unit proses di kilang eksisting agar dapat mengolah campuran avtur fosil dengan bahan baku nabati, termasuk Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.
Teknologi tersebut telah diterapkan di tiga kilang Pertamina, yakni Cilacap, Balongan, dan Dumai.
Pengembangan SAF berbasis UCO sendiri bukan lagi sekadar wacana. Pertamina sebelumnya telah mengirimkan SAF berbahan minyak jelantah untuk kebutuhan penerbangan komersial.
Jalur kedua adalah membangun dedicated green refinery.
Oki menyebut Pertamina tengah membangun Green Refinery Cilacap sebagai standalone dedicated green refinery pertama di Indonesia dengan kapasitas 6.000 barel per hari.
Berbeda dengan co-processing yang memanfaatkan dan memodifikasi fasilitas kilang yang telah tersedia, dedicated green refinery memang dirancang sejak awal untuk menghasilkan SAF dalam volume lebih besar. Proyek ini juga telah memasuki tahap pembangunan.
“Kilang Hijau” Harus Tersambung ke Bandara
Namun, bagi Oki, produksi SAF hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang menuju penerbangan yang lebih berkelanjutan.
Bahan bakar hijau tersebut harus bisa disimpan, diuji kualitasnya, dialirkan dan akhirnya masuk ke tangki pesawat dengan standar keselamatan yang sangat ketat.
Di AFT Juanda, Oki melihat fasilitas penyimpanan bahan bakar yang dilengkapi sistem proteksi, pengendalian kualitas, serta pemantauan integritas tangki secara berkala.
Fasilitas laboratorium juga menjadi bagian penting. Pengujian dilakukan secara rutin mengikuti standar penerbangan, termasuk melalui prosedur pengambilan sampel berjenjang sebelum bahan bakar disalurkan ke pesawat.
Tak kalah penting adalah hydrant system dan fasilitas pengisian bahan bakar pesawat yang menjadi jalur terakhir sebelum avtur benar-benar digunakan oleh pesawat.
Pengembangan fasilitas di Juanda sendiri sebelumnya memang diarahkan untuk memperkuat keandalan pasokan avtur, termasuk melalui pembangunan tangki dan sistem hydrant fuel yang terhubung dengan jaringan perpipaan bawah tanah.
Mengejar Target Penerbangan Rendah Karbon
Oki melihat pembangunan ekosistem SAF ini sebagai bagian dari perjalanan Indonesia menuju industri penerbangan yang lebih rendah karbon.
Menurut dia, tantangan ke depan bukan semata-mata berapa banyak SAF yang bisa diproduksi, tetapi juga seberapa siap seluruh rantai pasoknya—mulai dari bahan baku, kilang, penyimpanan, pengujian kualitas, distribusi hingga refueling di bandara.
Dengan kata lain, kilang hijau tanpa infrastruktur bandara yang siap hanya akan menghasilkan potensi yang belum sepenuhnya bernilai.
Unggahan Oki itu sekaligus memperlihatkan bahwa transformasi energi di sektor penerbangan tidak berhenti di pagar kilang.
Dari minyak jelantah dan bahan baku nabati, energi tersebut harus menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya menjadi bahan bakar yang siap menggerakkan pesawat.
Dan Juanda, menurut Oki, menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut.
“Green aviation” akhirnya bukan hanya soal bahan bakar yang lebih hijau, tetapi tentang membangun ekosistemnya dari hulu hingga ke sayap pesawat.


