Parna Raya Bangun Pabrik Nitrat Terintegrasi Rp4,9 Triliun di Gresik, Tekan Impor hingga 95%

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Gressik, Jawa Timur, ruangenergi.com-Industri petrokimia nasional memasuki babak baru. Parna Raya Group resmi memulai pembangunan Integrated Nitrate Complex Plant di Kawasan Industri Maspion (MIE), Gresik, Jawa Timur, Jumat (8/5/2026). Proyek jumbo senilai lebih dari US$300 juta atau sekitar Rp4,9 triliun itu digadang-gadang menjadi salah satu penggerak utama hilirisasi industri strategis Indonesia.

Melalui anak usahanya, PT Bara Blasting Perkasa (BBP), Parna Raya akan membangun fasilitas produksi Nitric Acid, Ammonium Nitrate, dan NPK Nitrate dalam satu kawasan industri terintegrasi. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat rantai pasok industri pertambangan, bahan peledak, hingga sektor pertanian nasional.  

Tak tanggung-tanggung, proyek tersebut ditargetkan mampu memangkas ketergantungan impor Ammonium Nitrate hingga 90 persen dan impor NPK Nitrate sampai 95 persen. Selain itu, kebutuhan Nitric Acid dalam negeri juga diproyeksikan bisa ditekan hingga 50 persen.  

“Proyek ini bukan sekadar pembangunan pabrik, tetapi bagian dari penguatan ekosistem industri strategis nasional,” demikian disampaikan manajemen BBP dalam keterangan resminya.  

Pasokan bahan baku utama berupa Anhydrous Ammonia akan disuplai dari PT Kaltim Parna Industri di Bontang, Kalimantan Timur. Sementara fasilitas penyimpanan amonia didukung terminal milik PT Parna Maspion Sejahtra di Gresik. Skema ini membuat rantai produksi dinilai lebih efisien dan terintegrasi dari hulu ke hilir.  

Dalam tahap operasional nanti, pabrik Nitric Acid akan memiliki kapasitas 455 metric ton per hari (MTPD), Ammonium Nitrate 240 MTPD, dan NPK Nitrate mencapai 909 MTPD. Teknologi proses menggunakan lisensi Casale dan Azotec, sedangkan kontraktor EPC dipercayakan kepada Wuhuan Engineering Co. Ltd asal Wuhan, China.  

Vice President Wuhuan Engineering, Yin Lin, mengatakan pihaknya optimistis proyek dapat selesai tepat waktu dengan mengedepankan standar keselamatan dan teknologi terbaru. Ia juga menekankan mayoritas tenaga kerja proyek berasal dari Indonesia.  

Direktur BBP Mei Suryawan bersama Project Director Nahot P. Napitupulu menilai pembangunan kompleks nitrat terintegrasi ini akan memberikan efek berganda bagi ekonomi nasional, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas industri hilir, hingga tambahan pendapatan daerah.  

Dukungan juga datang dari pengusaha nasional Alim Markus. Pemilik Maspion Group itu menyatakan bangga karena Parna Raya terus memperluas investasi petrokimia di dalam negeri.

“Cintailah produk-produk Indonesia,” ujar Alim Markus dalam seremoni groundbreaking.  

Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menilai proyek tersebut menjadi tonggak penting penguatan ekosistem industri strategis di Jawa Timur. Pemerintah daerah, kata dia, siap memberikan dukungan penuh agar investasi berjalan lancar dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.  

Sesuai jadwal, proyek memasuki tahap konstruksi dan instalasi sepanjang 2027, sebelum ditargetkan mulai commissioning dan beroperasi pada akhir tahun yang sama.