Pengamat: Penurunan Harga BBM Bisa Picu Pengangguran

Jakarta Ruangenergi.com – Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai akan berdampak terhadap peningkatan angka pengangguran di Indonesia.

Menurut Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria dalam pesan tertulisnya di Jakarta, Kamis (28/5) di tengah harga minyak dunia yang belum menentu saat ini, memang ada persyaratan agar harga BBM bisa turun, yakni sumur eksplorasi hulu dan kilang minyak di negeri ini harus ditutup semuanya.

Selain itu, ata dia, produksi hulu migas nasional tidak perlu dibeli Pertamina dan melakukan impor 100 persen kebutuhan BBM karena harga sedang murah. “Dengan cara tersebut, harga BBM dalam negeri akan turun. Tetapi, itu tadi, jutaan orang terancam PHK, sebab jumlah pekerja pada industri hulu migas dan juga sektor pendukung, memang luar biasa besar,” tukasnya.

Dia menegaskan, bahwa tidak hanya Pertamina, tetapi juga KKKS lain, industri jasa pendukung, dan sejumlah sektor ikutan, semua akan terkena dampak.

“Memang tidak mudah menurunkan harga BBM karena harga minyak masih sangat berfluktuasi, apalagi saat ini justru dalam tren yang sedang meningkat,” tambah dia.

Saat ini, kata dia, tercatat untuk jenis WTI pada level 34,30 dolar AS/barel dan Brent 36,33 dolar AS/barel, dan diperkirakan masih terus meningkat, setidaknya hingga ke level 50 dolar/barel.

“Makanya, jika harga BBM diturunkan mengikuti harga minyak dunia yang turun, apakah masyarakat serta-merta ikhlas harga BBM dinaikkan jika harga minyak dunia ternyata naik?” tanya dia.

BACA JUGA  Kementrian ESDM Sebut Harga Biodiesel April Turun Rp 914 per Liter

Sofyano juga mengingatkan, bahwa penurunan harga BBM tidak akan memberi dampak bagi masyarakat, karena di saat pandemi Covid-19, banyak yang diam di rumah atau menjalankan work from home (WFH). “Dalam kondisi stay at home dan WFH, masyarakat lebih membutuhkan elpiji dan tarif listrik yang lebih murah ketimbang BBM,” pungkasnya.

Terpisah, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan juga meminta agar harga BBM harus disikapi secara komprehensif dan melihat dari seluruh aspek, sebab Pertamina sebagai BUMN energi terbesar di Indonesia tidak hanya mengelola sektor hilir, tetapi juga hulu dan sektor pengolahan atau kilang.

“Ketika kemarin harga minyak dunia jatuh, maka sektor hulu Pertamina paling terpukul. Padahal, hulu adalah penyumbang terbesar pendapatan Pertamina,” tukasnya.

Saat ini, kata Mamit, harga minyak dunia sebenarnya sudah mengalami rebound. Bahkan peningkatan untuk WTI sangat tajam dibandingkan ketika berada pada level negatif.

Menurut dia, peningkatan harga tersebut akan terus terjadi seiring mulai dibukanya beberapa negara terkait kebijakan penguncian, sehingga secara otomatis nanti akan ada penambahan permintaan BBM.

Hal itu kata dia, belum termasuik adanya kesepakatan OPEC plus untuk memangkas produksi 9,7 juta barel per hari sampai Juni yang dilanjutkan 7,7 juta barel per hari sampai akhir 2020.

“Jadi, bisa dibayangkan kalau misalnya kita menurunkan harga BBM, dan Juli harus kita menaikkan kembali. Jika itu yang terjadi, saya khawatir akan ada gejolak di masyarakat,” kata Mamit.(Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *