Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Pertamina mulai menempatkan bisnis energi hijau bukan sekadar sebagai bagian dari agenda transisi energi, tetapi sebagai sumber pertumbuhan baru perusahaan di masa depan.
Langkah tersebut berjalan beriringan dengan tugas utama Pertamina untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi di tengah permintaan energi nasional yang terus meningkat.
Senior Vice President Business Sustainability Pertamina, Wenny Ipmawan, mengatakan strategi Pertamina diarahkan pada dua jalur sekaligus: menjaga ketahanan energi saat ini dan membangun portofolio bisnis rendah karbon untuk masa depan.
“Kebutuhan energi Indonesia masih terus tumbuh. Karena itu, transisi energi harus dilakukan secara bertahap, sambil memastikan energi tetap tersedia dan peluang bisnis rendah karbon bisa berkembang,” ujar Wenny, Rabu (30/9/2026).
Menurut dia, Pertamina tengah mengembangkan sejumlah bisnis yang dinilai memiliki prospek dalam ekonomi hijau. Portofolio tersebut mencakup biofuel, panas bumi, listrik energi bersih, pengolahan sampah menjadi energi, hingga hidrogen hijau.
Pertamina juga menyiapkan berbagai pilihan teknologi untuk mendukung pengembangan bisnis tersebut. Teknologi tenaga surya, sistem penyimpanan energi berbasis baterai, hingga carbon capture and storage (CCS) menjadi bagian dari strategi perusahaan.
Bukan Sekadar Hijau, Harus Menguntungkan
Wenny menegaskan, pengembangan energi rendah karbon tidak berhenti pada pencapaian target lingkungan. Setiap proyek juga harus memiliki kelayakan ekonomi agar dapat berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.
“Kami ingin inisiatif rendah karbon tidak berhenti pada tahap pengembangan teknologi. Proyeknya juga harus layak secara ekonomi dan dapat dijalankan secara komersial,” katanya.
Di sisi lain, Pertamina terus melakukan dekarbonisasi dari kegiatan operasional yang sudah berjalan. Upaya tersebut dilakukan melalui penghematan energi, optimalisasi penggunaan bahan bakar, serta pemanfaatan teknologi energi bersih.
Langkah ini diharapkan memberikan dua manfaat sekaligus: menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasi perusahaan.
Dekarbonisasi Tembus Target
Hasilnya mulai terlihat. Sepanjang semester I 2026, program dekarbonisasi Pertamina Group mencatat pengurangan emisi karbon 118 persen di atas target yang ditetapkan dalam RKAP 2026.
Capaian tersebut menjadi salah satu pijakan Pertamina dalam memperkuat agenda keberlanjutan sekaligus mendukung target pemerintah menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan pengembangan bisnis rendah karbon merupakan bagian dari persiapan Pertamina menghadapi lanskap energi masa depan.
“Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina terus memenuhi kebutuhan energi hari ini, sekaligus menyiapkan pilihan energi untuk masa depan,” ujar Baron.
Menurut dia, pengembangan bisnis rendah karbon diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Pertamina sebagai perusahaan energi, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Sebagai perusahaan energi kelas dunia, Pertamina berkomitmen menjalankan ESG sesuai dengan standar dunia. Dekarbonisasi Pertamina juga merupakan komitmen perusahaan menjalankan target pemerintah mencapai NZE pada tahun 2060,” pungkas Baron.
Dengan strategi tersebut, transisi energi bagi Pertamina bukan semata-mata meninggalkan energi konvensional. Perusahaan justru mencoba membangun jembatan antara kebutuhan energi hari ini dengan peluang bisnis energi masa depan—dengan energi hijau sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru.


