PLN EPI Dorong Pemanfaatan Biomassa Desa melalui Inovasi BIODES untuk Perkuat Ekosistem Cofiring

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tangerang, ruangenergi.com – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong penguatan ekosistem biomassa berbasis desa melalui inovasi BIODES (Biomassa dari Desa): Integrasi Pertanian Terpadu & Ekonomi Kerakyatan untuk Sustainabilitas Cofiring Biomassa. Inovasi yang mengintegrasikan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, pemberdayaan masyarakat, dan rantai pasok tersebut dipaparkan PLN EPI dalam Knowledge Hub Enlit Asia MKI Electricity Connect 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, sebagai salah satu upaya mendukung keberlanjutan pasokan biomassa untuk program cofiring.

BIODES dikembangkan untuk mengoptimalkan limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan serta tanaman energi yang dibudidayakan pada lahan kering atau marjinal. Melalui pendekatan tersebut, desa tidak hanya ditempatkan sebagai sumber bahan baku, tetapi menjadi bagian dari ekosistem produksi dan rantai pasok biomassa yang melibatkan petani, BUMDes, pemasok, hingga pembangkit.

Inovasi BIODES dipaparkan oleh tim PLN EPI yang terdiri atas Khalda Az Zahra, Pandu Trijaka, dan Nurlita Dewi Utami dalam sesi bertema “BIODES(Biomassa dari Desa).

Pengembangan BIODES menjadi salah satu pendekatan PLN EPI dalam menjawab tantangan peningkatan kebutuhan biomassa untuk program cofiring. Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2022 yang digunakan dalam pengembangan BIODES, ketersediaan biomassa berbasis limbah siap pakai memiliki keterbatasan dari sisi volume dan keberlanjutan pasokan. Potensinya diperkirakan mencapai titik jenuh pada sekitar 2,4 juta ton, sementara masih terdapat kesenjangan pasokan sekitar 7,6 juta ton untuk memenuhi target cofiring dalam RUPTL 2025–2034.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan mengatakan BIODES menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun ekosistem biomassa yang berkelanjutan dengan mengoptimalkan potensi sumber daya di tingkat desa.

“BIODES merupakan wujud komitmen PLN EPI dalam membangun ekosistem biomassa yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan mengintegrasikan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, serta rantai pasok yang terkelola, kami berupaya menghadirkan pasokan biomassa yang berkualitas dan berkelanjutan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung transisi energi Indonesia,” ujar Mamit.

Melalui BIODES, PLN EPI mengembangkan enam pendekatan Utama yakni optimalisasi potensi biomassa desa, penanaman tanaman energi dengan pola tumpang sari, pengembangan rantai pasok berbasis spoke-hub, peningkatan kualitas dan kuantitas biomassa; digitalisasi berbasis marketplace, serta integrasi desa dengan industri. Pendekatan ini diarahkan untuk membangun rantai pasok yang lebih efisien sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam ekosistem biomassa.

Officer Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI sekaligus perwakilan tim BIODES Khalda Az Zahra menjelaskan bahwa inovasi tersebut tidak hanya mengandalkan biomassa dari limbah, tetapi juga mendorong pengembangan tanaman energi secara produktif dan terintegrasi dengan komoditas pangan.

“Melalui BIODES, kami ingin mengoptimalkan potensi biomassa yang ada di desa sekaligus membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi. Tidak hanya mengandalkan limbah yang sudah tersedia, BIODES juga mendorong penanaman tanaman energi secara tumpang sari dengan tanaman pangan, sehingga aspek keberlanjutan pasokan biomassa dapat berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat desa,” ujar Khalda.

Implementasi awal BIODES dikembangkan di Kabupaten Cilacap sejak 2023 melalui pemanfaatan 106 hektare lahan. Program dilaksanakan secara bertahap mulai dari survei dan sosialisasi, penerapan sistem pertanian terpadu, panen dan pengumpulan hasil pada SUB-HUB, produksi biomassa melalui BUMDes, hingga pengiriman biomassa ke PLTU Adipala. Ekosistem tersebut selanjutnya diperkuat melalui digitalisasi untuk mengintegrasikan rantai pasok biomassa.

Melalui model SUB-HUB dan HUB, biomassa dari sejumlah sumber di tingkat desa dapat dikumpulkan, diolah, dan dikonsolidasikan sebelum disalurkan ke pembangkit. Model ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik sekaligus menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan biomassa.

Pengembangan BIODES diproyeksikan mampu menghasilkan tambahan pasokan biomassa hingga 15.000 ton per tahun, melibatkan 330 petani, memanfaatkan 106 hektare lahan marjinal, serta menciptakan 25 lapangan kerja baru. Program ini juga diproyeksikan memberikan tambahan pendapatan bagi petani kecil hingga Rp 100.000 per hari per pekerja.

Dari sisi ekonomi, BIODES berpotensi meningkatkan pendapatan PLN EPI dan BUMDES secara signifikan Sementara dari aspek lingkungan, pemanfaatan biomassa melalui program tersebut diproyeksikan berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sekitar 6.750 ton CO₂e, sekaligus mendukung agenda Net Zero Emissions (NZE), swasembada energi, dan ketahanan pangan.

Manfaat pengembangan tanaman energi mulai dirasakan masyarakat yang terlibat dalam implementasi BIODES di Kabupaten Cilacap. Kepala Desa Keleng Arsidi mengatakan tanaman energi dapat menjadi alternatif sumber pendapatan masyarakat, khususnya ketika hasil komoditas pertanian utama mengalami penurunan.

“Akibat musim yang tidak menentu, tahun ini kami mengalami gagal panen jagung. Alhamdulillah dengan adanya penanaman gamal dan kaliandra dapat menjadi tambahan pendapatan kami di kala musim paceklik,” ujar Arsidi.

Dorong Replikasi dan Perluasan Ekosistem

Ke depan, PLN EPI membuka peluang replikasi BIODES ke berbagai wilayah dengan menyesuaikan potensi biomassa dan karakteristik masing-masing daerah. Setelah implementasi awal di Kabupaten Cilacap, roadmap BIODES mencakup pengembangan ke desa-desa di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur, dilanjutkan dengan pengembangan bersama mitra pemasok di luar Pulau Jawa serta scale-up pada berbagai lokasi PLTU cofiring.

Secara bertahap, BIODES ditargetkan dapat dikembangkan hingga 100 desa untuk memperkuat ekosistem pasokan biomassa sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis beyond kWh. Model tersebut juga berpotensi direplikasi lebih luas dengan mengintegrasikan potensi desa, petani, BUMDes, mitra pemasok, industri, dan pembangkit dalam satu ekosistem.

Melalui BIODES, PLN EPI mendorong biomassa tidak hanya menjadi substitusi sebagian batu bara pada pembangkit, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan berbasis desa. Integrasi antara pertanian, pemberdayaan masyarakat, digitalisasi, dan kebutuhan energi diharapkan mampu menciptakan rantai pasok biomassa yang berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi dan lingkungan.

Inovasi tersebut juga menjadi bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) PLN EPI serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim, dan SDG 15 Ekosistem Daratan.