Pertamina NRE Hadirkan Energi Bersih, Warga Pulau Sembur Rayakan Kemerdekaan dengan Cara Berbeda

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Batam, ruangenergi.com — Hari itu, Merah Putih berkibar diiringi lagu Indonesia Raya dari sound system bertenaga matahari, dengan sebuah pohon kayu yang diubah menjadi tiang bendera.

Pagi itu (17/8) menjadi momen yang berbeda bagi masyarakat Pulau Sembur, Batam. Untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, warga menggelar upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di pulau mereka.

Upacaranya sederhana. Sebatang kayu yang tumbuh di pulau dimanfaatkan menjadi tiang bendera. Warga berkumpul dan mengikuti rangkaian upacara bersama. Lagu Indonesia Raya terdengar melalui pengeras suara yang listriknya berasal dari energi surya.

Yang membuat upacara ini semakin istimewa, seluruh petugas upacara merupakan siswa SMP Negeri 49 Batam. Mereka bertugas sebagai pengibar bendera, pembaca teks Pancasila, pembaca UUD 1945, hingga petugas lainnya dalam rangkaian upacara.

Bagi para siswa, menjadi petugas upacara di Pulau Sembur bukan sekadar menjalankan tugas sekolah. Mereka mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari peringatan kemerdekaan yang untuk pertama kalinya digelar bagi masyarakat di pulau tersebut.

“Saya merasa bangga bisa menjadi petugas upacara di Pulau Sembur. Biasanya kami mengikuti upacara di sekolah, tetapi kali ini kami bisa bertugas di sini dan bersama masyarakat merayakan 17 Agustus. Apalagi kami dapat bertugas di depan masyarakat,” ujar Tika, salah satu siswa SMP Negeri 49 Batam.

Bagi masyarakat Pulau Sembur, listrik bukan sekadar kebutuhan untuk menyalakan peralatan sehari-hari. Kehadiran listrik juga membuka ruang bagi lebih banyak kegiatan masyarakat.

“Kami belum pernah mengadakan upacara seperti ini di pulau. Tahun ini kami bisa berkumpul bersama dan merayakan 17 Agustus di sini. Ada lomba-lomba juga yang sangat menyenangkan bagi masyarakat, apalagi listrik untuk sound system juga bisa menggunakan tenaga surya,” ujar Rustam, warga Pulau Sembur.

PLTS di Pulau Sembur dibangun oleh *Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE)* bersama Kementerian Koperasi sebagai bagian dari pengembangan PLTS Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. PLTS ini memiliki kapasitas 1 MWp dengan dukungan baterai 1 MWh.

PLTS Pulau Sembur dikembangkan karena wilayah tersebut sebelumnya masih mengandalkan genset yang cukup membebani ekonomi masyarakat. Proyek ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan sekitar 200 kepala keluarga sekaligus kegiatan ekonomi masyarakat melalui koperasi, termasuk melalui pembangunan pabrik es berkapasitas 4 ton per hari dan gudang pendingin.

Bagi Pertamina NRE, manfaat energi bersih tidak berhenti pada tersedianya listrik. Energi diharapkan dapat menjadi bagian dari aktivitas dan perkembangan ekonomi masyarakat.

“Bagi kami, energi bukan hanya tentang menghasilkan listrik. Yang lebih penting adalah bagaimana listrik tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung aktivitas mereka. Diharapkan kehadiran listrik secara kontinu dapat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat Pulau Sembur. Dengan tersedianya fasilitas seperti penyimpan berpendingin (cold storage) dan pembuat es (ice maker), masyarakat nelayan dapat menjaga kualitas hasil tangkapan lebih baik dan mengembangkan usaha ikannya. Apa yang terjadi di Pulau Sembur hari ini menjadi contoh sederhana bahwa energi bersih dapat hadir dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,” kata *John Anis, Direktur Utama Pertamina NRE*.

Penggunaan listrik PLTS untuk “menemani” upacara 17 Agustus menjadi salah satu gambaran kecil dari pemanfaatan energi yang kini tersedia di pulau tersebut. Dari sound system yang mengumandangkan Indonesia Raya hingga rangkaian upacara yang dijalankan para siswa, energi matahari menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan masyarakat Pulau Sembur.

“Yang kami harapkan bukan hanya listriknya menyala, tetapi masyarakat bisa semakin banyak melakukan kegiatan dan mengembangkan usahanya. Kalau kemudian listrik itu juga bisa digunakan untuk kegiatan seperti upacara hari ini, tentu menjadi hal yang membanggakan bagi kami,” lanjut John Anis.

Upacara hari itu selesai. Para siswa kembali, warga melanjutkan aktivitas mereka. Namun Merah Putih masih berkibar di atas tiang kayu yang dibuat sederhana—menjadi bagian dari cerita tentang sebuah pulau yang perlahan menikmati manfaat listrik dari matahari, sekaligus menyambut kemerdekaan dengan caranya sendiri.