PGN Bawa Energi Bersih ke Tiyasan, 4.500 Rumah Tangga Sudah Terhubung Jargas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Sleman, ruangenergi.com — Kawasan Tiyasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), perlahan menunjukkan wajah baru. Ruang yang sebelumnya lebih dikenal sebagai jalur penghubung, kini mulai berkembang menjadi kawasan yang mempertemukan aktivitas ekonomi, sosial, hiburan, hingga pemanfaatan energi bersih.

Perubahan itu terlihat dalam Suadesa Festival 2026 yang digelar pada 22–23 Agustus 2026. Perusahaan Gas Negara (PGN), Subholding Gas Pertamina, bersama Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) dan Pemerintah Kabupaten Sleman, membawa konsep green economic life dalam gelaran tersebut.

Bukan sekadar festival hiburan, kegiatan ini dirancang sebagai ruang bertemunya masyarakat, pelaku UMKM, konsumen, pemerintah daerah, dan energi.

Direktur Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BP BUMN, Edi Eko Cahyono, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan manfaat yang tidak berhenti ketika festival berakhir.

“Kami memberikan wadah kepada UMKM dengan ekosistem yang dibutuhkan supaya UMKM kita semakin maju. Meskipun nanti kegiatan selesai, manfaatnya kami harapkan bisa terus berlanjut,” kata Edi, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Edi, keberlanjutan manfaat menjadi salah satu perhatian penting dalam pelaksanaan program TJSL BUMN. Karena itu, kolaborasi antara BUMN, pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha diperlukan agar aktivitas ekonomi lokal memiliki fondasi yang lebih kuat.

Dari Jualan, Hiburan hingga Energi

Direktur Infrastruktur & Teknologi PGN, Hery Murahmanta, mengatakan konsep green economic life dalam Suadesa Festival menggabungkan aktivitas ekonomi masyarakat dengan ruang sosial dan pemanfaatan energi yang lebih bersih.

Salah satu penerapannya dilakukan melalui pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) untuk mendukung kegiatan usaha selama festival.

“Secara ekonomi, disiapkan tempat untuk berjualan agar bisa mandiri. Kemudian secara sosial disiapkan oleh Pemkab Sleman dalam kegiatan yang luar biasa,” tutur Hery.

Menurut dia, kekuatan konsep tersebut terletak pada keterhubungan berbagai aktivitas dalam satu kawasan. Ada pelaku usaha, konsumen, hiburan, sekaligus dukungan energi.

“Kita bisa jualan, ada pembeli, ada hiburannya, ada energinya. Sehingga konsumen bisa nyambung semua. Ini kita harapkan menjadi langkah pertama,” ujarnya.

Dengan konsep itu, Tiyasan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah festival, tetapi diharapkan berkembang menjadi ruang aktivitas masyarakat yang memiliki denyut ekonomi secara berkelanjutan.

4.500 Rumah Tangga Terhubung Jargas

Dukungan PGN terhadap pemanfaatan gas bumi di Sleman juga tidak berhenti pada kegiatan festival.

Hery menyebut sekitar 4.500 sambungan rumah tangga di Kabupaten Sleman saat ini telah terhubung dengan jaringan gas (jargas).

Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan akses energi yang dapat mendukung aktivitas masyarakat secara berkelanjutan. Pemanfaatan energi juga dapat dikembangkan melalui berbagai skema, termasuk CNG maupun jaringan gas yang telah digunakan masyarakat.

“Kami berusaha menyiapkan infrastruktur untuk energi yang ada, dan energinya bisa berkesinambungan. Nanti bisa menggunakan CNG maupun gas yang selama ini sudah digunakan oleh saudara-saudara kita di Kabupaten Sleman,” pungkas Hery.

Tiyasan yang Berubah

Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar, melihat geliat Suadesa Festival sebagai bagian dari perubahan wajah Tiyasan.

Ia mengatakan, sekitar satu dekade lalu kawasan tersebut belum menjadi ruang aktivitas yang ramai seperti sekarang.

“Sepuluh tahun lalu Tiyasan belum begitu familiar. Dulu hanya menjadi jalan pintas dari Ngaglik menuju Terminal Condongcatur. Sekarang kita bisa meramaikan kawasan ini, anak-anak bisa berkumpul, dan ada perputaran rezeki,” ujar Abu Bakar.

Menurut dia, hadirnya aktivitas ekonomi dan sosial baru dapat memberikan efek berantai bagi masyarakat sekitar. Ketika kawasan ramai, pelaku usaha memperoleh pasar, sementara masyarakat mendapatkan ruang interaksi sekaligus peluang ekonomi.

“Dengan keterlibatan BUMN seperti PGN dalam pelaksanaan aktivitas lokal, ada perputaran rezeki di situ. Baik bagi pelaku usaha, masyarakat, maupun warga Tiyasan,” tambahnya.

Pada akhirnya, Suadesa Festival 2026 membawa pesan yang lebih besar dari sekadar keramaian dua hari.

Ada UMKM yang mencari pasar, masyarakat yang membutuhkan ruang berkegiatan, pemerintah daerah yang ingin menghidupkan kawasan, dan PGN yang menghadirkan perspektif energi.

Semua dipertemukan dalam satu ekosistem.

Tiyasan pun mencoba membuktikan bahwa ruang publik dapat tumbuh menjadi ruang ekonomi—dan energi bersih dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.