PHE Dorong Indonesia Jadi Kolaborator Regional dalam Pengembangan CCS

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu penggerak utama pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) di kawasan Asia Tenggara. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina pun mendorong agar pengembangan CCS di Tanah Air tidak berhenti pada proyek domestik, tetapi berkembang menjadi jaringan regional lintas negara.

Hal tersebut disampaikan Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Danusaputro, dalam International Indonesia CCS Forum (IICCS Forum) 2026 yang berlangsung di Jakarta, 26–27 Agustus 2026.

Menurut Dannif, posisi geografis Indonesia, potensi geologi yang besar, serta kedekatan dengan negara-negara di kawasan menjadi modal strategis untuk membangun konektivitas CCS regional.

Salah satu peluang yang tengah dikembangkan berada di Asri Basin, yang dinilai memiliki potensi penyimpanan karbon dan dapat dikembangkan sebagai CCS hub. Hub tersebut berpotensi mengonsolidasikan volume CO₂, baik dari sumber emisi domestik maupun negara-negara di kawasan.

“Indonesia dapat menjadi jangkar bagi terbentuknya jaringan CCS regional. Pengembangan dalam skala regional dapat dimulai dari satu proyek jangkar, yang kemudian berkembang melalui pemanfaatan infrastruktur bersama,” kata Dannif.

Bukan Sekadar Tempat Menyimpan CO₂

Bagi PHE, CCS ke depan bukan sekadar membangun fasilitas untuk menyimpan karbon. Konsep yang didorong adalah membangun ekosistem dekarbonisasi terintegrasi, dari sumber emisi hingga penyimpanan CO₂.

Karena itu, percepatan CCS lintas negara membutuhkan sejumlah fondasi penting, mulai dari harmonisasi regulasi, kepastian permintaan, skema komersial, integrasi rantai nilai, hingga jaminan keselamatan.

Aspek regulasi juga menjadi perhatian, termasuk perizinan, penghitungan volume CO₂, Monitoring, Reporting and Verification (MRV), akses data, serta kejelasan tanggung jawab dalam jangka panjang.

“Seluruh rantai nilai harus direncanakan secara terintegrasi, mulai dari penangkapan, pengangkutan, terminal, jaringan pipa, hingga penyimpanan CO₂,” ujar Dannif.

PHE Siapkan Infrastruktur hingga Pasar

Untuk mewujudkan visi tersebut, PHE menjalankan pengembangan teknis, kerangka pendukung, serta pasar dan ekosistem CCS secara paralel.

Di sisi teknis, PHE mengintegrasikan desain sistem pengangkutan CO₂, terminal, jaringan pipa, sumur, hingga fasilitas penyimpanan. Perseroan juga menyiapkan lingkup kerja yang dapat memasuki tahap Front-End Engineering Design (FEED), melaksanakan Hazard Identification (HAZID), kajian geomekanika, serta perencanaan Monitoring, Measurement and Verification (MMV).

Tak kalah penting, PHE juga tengah menyelaraskan struktur komersial dengan regulasi CCS Indonesia.

Kolaborasi diperluas melalui kerja sama antarpemerintah, khususnya terkait MRV dan pertukaran data, sekaligus menggandeng berbagai pemangku kepentingan. Mereka mencakup industri penghasil emisi CO₂, penyedia jasa, sektor pelayaran, perusahaan rekayasa, hingga pemodal strategis.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan CCS membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara. Tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan penyimpanan bawah permukaan, tetapi juga memerlukan kesiapan seluruh mata rantai bisnis.

Menuju CCS Hub Regional

Ke depan, PHE akan melanjutkan sejumlah tahapan penting. Di antaranya penyelesaian kerangka bilateral, memperoleh komitmen dari industri penghasil CO₂, melakukan appraisal dan FEED, hingga menuju keputusan investasi.

Setelah proyek jangkar terbentuk, pengembangan dapat ditingkatkan secara bertahap menuju jaringan CCS regional yang saling terhubung.

Dengan pendekatan tersebut, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi lokasi penyimpanan karbon, tetapi juga kolaborator regional dalam agenda dekarbonisasi.

PHE menilai pengembangan CCS dapat menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan industri hulu migas sekaligus membuka ruang kerja sama baru di tingkat kawasan.

Pengembangan tersebut sejalan dengan komitmen PHE untuk terus menjalankan operasi dan bisnis hulu migas secara berkelanjutan dengan menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

PHE juga menegaskan komitmennya terhadap integritas melalui penguatan budaya kepatuhan, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta pencegahan fraud guna membangun lingkungan kerja yang profesional, transparan, dan beretika.