PHR Andalkan Teknologi Canggih di Minas, Komisi VI DPR Beri Dukungan Penuh

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Pekanbaru, Riau, ruangenergi.com – Komitmen menjaga ketahanan energi nasional kembali mendapat sorotan. Kali ini, Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI turun langsung ke jantung operasi PT Pertamina Hulu Rokan di Lapangan Minas, Riau, untuk melihat dari dekat bagaimana inovasi teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) menjadi andalan dalam menggenjot produksi minyak nasional.

Kunjungan yang berlangsung Kamis (18/6) itu dipimpin Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade. Rombongan diterima langsung oleh jajaran manajemen, mulai dari Wiko Migantoro, Abdi Mustakim, Eri Sulistyo Sutikno hingga Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan, Muhamad Arifin.

Fokus utama kunjungan adalah meninjau fasilitas injeksi Alkali Surfactant Polymer (ASP), teknologi kunci dalam skema CEOR yang saat ini menjadi tulang punggung optimalisasi produksi di Lapangan Minas. Teknologi ini dinilai mampu “membangunkan” cadangan minyak tersisa yang tak lagi bisa diangkat dengan metode konvensional.

Lapangan Minas sendiri masih menjadi salah satu aset strategis migas nasional dengan produksi sekitar 28.000 barel minyak per hari. Dengan penerapan teknologi ASP, harapannya tingkat perolehan minyak dapat terus ditingkatkan.

Andre Rosiade menegaskan bahwa langkah inovatif seperti CEOR menjadi bukti nyata keseriusan BUMN energi dalam menjaga aset negara sekaligus memperkuat ketahanan energi.

“Berbagai inovasi teknologi, termasuk implementasi CEOR, telah berhasil meningkatkan produksi di Lapangan Minas. PHR sudah sangat baik dan perlu terus didukung demi mewujudkan swasembada energi nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menegaskan bahwa pengembangan teknologi enhanced recovery menjadi bagian penting dari strategi perusahaan untuk memaksimalkan potensi lapangan-lapangan tua di Wilayah Kerja Rokan.

Menurut Arifin, CEOR bukan sekadar inovasi teknis, tetapi bagian dari roadmap besar Pertamina untuk memastikan produksi migas tetap kompetitif di tengah tantangan penurunan alamiah sumur-sumur mature.

“Sinergi antara legislatif dan BUMN menjadi fondasi penting bagi kami untuk mengeksekusi peta jalan strategis ketahanan energi, memperkuat rantai pasok nasional, dan tetap mengedepankan prinsip Safety First dalam setiap operasi,” katanya.

Saat ini, Wilayah Kerja Rokan masih menjadi kontributor utama minyak nasional dengan porsi sekitar 30 persen dari total produksi nasional. Dengan pendekatan Back to Geology serta pemanfaatan teknologi mutakhir seperti CEOR, PHR terus membuktikan bahwa lapangan tua masih punya masa depan panjang dalam menopang energi Indonesia.

Tak hanya soal produksi, PHR juga terus menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan di berbagai wilayah operasinya, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat hingga pelestarian lingkungan.

Langkah Komisi VI DPR RI meninjau langsung inovasi di Minas menjadi sinyal kuat bahwa transformasi teknologi di sektor hulu migas kini menjadi agenda penting dalam menjaga kedaulatan energi nasional.