Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Di tengah tekanan industri hulu migas yang makin kompleks, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) justru mencetak lompatan besar. Subholding Upstream Pertamina itu berhasil membukukan cost optimization sebesar USD 635 juta atau setara lebih dari Rp10 triliun sepanjang 2025 melalui program Optimus 2025.
Angka tersebut jauh melampaui target awal sebesar USD 250 juta dan menjadikan PHE sebagai penyumbang sekitar 57 persen dari total efisiensi di lingkungan Pertamina. Capaian itu sekaligus mengantarkan perusahaan meraih predikat Grand Champion Optimus 2025.
Keberhasilan ini dinilai bukan sekadar pencapaian finansial, melainkan sinyal kuat bahwa efisiensi kini menjadi budaya kerja baru di tubuh Subholding Upstream Pertamina.
Direktur Manajemen Risiko PHE, Whisnu Bahriansyah, mengatakan pencapaian tersebut lahir dari konsistensi implementasi program di seluruh lini organisasi, bahkan di tengah meningkatnya tantangan operasional dan kebutuhan penguatan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) serta asset integrity management.
“Pencapaian ini menunjukkan bahwa di tengah berbagai tantangan, kita tetap mampu menghadirkan kinerja unggul melalui disiplin eksekusi dan semangat perbaikan berkelanjutan,” ujar Whisnu saat membuka kegiatan OPTIMUS Award 2025 & Kick Off 2026 di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Namun, jalan ke depan dipastikan tidak semakin mudah.
Memasuki 2026, PHE menghadapi ruang efisiensi yang makin sempit. Kondisi mayoritas lapangan migas yang sudah mature dan mengalami penurunan produksi alami (declining) membuat perusahaan dituntut menemukan formula baru untuk mempertahankan kinerja.
Komisaris PHE, Nanang Untung, menegaskan strategi perusahaan ke depan akan bertumpu pada tiga pilar utama: revenue growth, efisiensi, dan cost avoidance.
“Lapangan yang kita kelola sebagian besar sudah mature dan declining. Ini membuat tantangan semakin besar, namun sekaligus membuka peluang untuk melakukan optimalisasi yang lebih kreatif dan terukur,” katanya.
Di tengah tantangan itu, peluang juga terbuka lebar. Potensi kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya kebutuhan energi nasional dinilai bisa menjadi momentum baru bagi PHE untuk memperkuat kontribusi terhadap ketahanan energi Indonesia.
Menurut Nanang, kunci memenangkan tantangan tersebut terletak pada keberanian untuk terus mencari peluang dan melahirkan inovasi baru.
“Semangat untuk mencari peluang menjadi kunci. Jika seluruh perwira memiliki dorongan yang sama, maka peluang akan muncul dan bisa direalisasikan,” ujarnya.
Program Optimus sendiri kini telah memasuki tahun keenam sejak pertama kali dijalankan di lingkungan Subholding Upstream Pertamina. Program ini menjadi instrumen utama perusahaan untuk menanamkan budaya inovasi dan efisiensi secara menyeluruh di seluruh organisasi.
Dengan tantangan industri hulu migas yang semakin berat dan ekspektasi tinggi terhadap peran sektor energi nasional, PHE menegaskan Optimus bukan lagi sekadar program efisiensi tahunan, melainkan mesin utama lahirnya berbagai terobosan bisnis baru.
“Optimus harus menjadi motor penggerak lahirnya terobosan-terobosan baru. Ini bukan sekadar program, tetapi bagian dari upaya strategis perusahaan dalam memberikan nilai tambah bagi bangsa dan negara,” tutup Whisnu.


