Secercah Harapan bagi Kehadiran Energi Nuklir di Indonesia

Jakarta, ruangenergi.com – Setelah rencana pendirian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepara lebih dari satu dekade lalu dibatalkan, ide pemanfaatan nuklir seakan menjadi tabu di negeri ini. Namun lewat RUU Omnibus Law yang sedang godok saat ini, wacana tersebut sekali lagi muncul ke permukaan.

Lebih lanjut, wacana tersebut muncul dalam draft RUU Pasal 208 ayat 1 dalam draft RUU Omnibus Law dijelaskan bahwa pengusahaan ketenaganukliran, yang meliputi kegiatan eksplorasi seperti survey pendahuluan dan studi kelayakan, lalu eksploitasi seperti konstruksi, penambangan, produksi, pengangkutan hingga penjualan, hanya dapat dilakukan oleh mereka yang mendapat izin yang diberikan oleh badan pelaksana.

Izin tersebut dapat diberikan oleh bada pelaksana kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), koperasi, badan swasta, dan/atau badan lain untuk melakukan kegiatan usaha tenaga nuklir.

Sementara, pasal lain yang juga menyoal pemanfaatan energi nuklir ialah Pasal 209 yang menjelaskan bahwa produksi yang dimaksud berupa pengadaan bahan baku untuk pembuatan bahan bakar nuklir. Untuk pembuatan bahan bakar nuklir sendiri hanya dilaksanakan oleh Badan Pelaksana dan dapat bekerja sama dengan BUMN, koperasi, dan/atau badan swasta.

Menanggapi wacana tersebut, Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan bahwa RUU Omnibus Law ini membukan pintu penggunaan nuklir demi masa depan Indonesia

BACA JUGA  Direktur Pengembangan dan Niaga Indonesia Power Meninggal Dunia

Baca juga : RI Butuh Rp 200 T Setahun Buat Kejar Target Energi Baru 23%

Disisi lain, ia juga tidak menafikan bahwa belum tentu akan dibangun PLTN usai undang-undang ini rampung.

“Bukannya kemudian saya mengatakan bahwa nuklir positif akan dibangun, tapi lebih kepada exploring any possibilities wish to move forward,” ujar Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis.

Walaupun demikian, Darmawan mengakui bahwa PLTN memiki resikonya tersendiri dan kecelakaan nuklir sendiri memiliki dampak yang sangat berbahaya dan oleh karenannya dibutuhkan sebuah penelitian mendalam jika ia memang akan digunakan di Indonesia.

“Jadi kalau melihat tenaga nuklir ini, sedang dalam tahap pengembangan kalau kita lihat dulu Chernobyl gimana kecelakaannya, dan ini sedang diperbaiki,” lanjut Darmawan.

Kabar baiknya, sampai hari ini nuklir masih menjadi salah satu energi andalan dunia dan sampai saat ini teknologinya terus mengalami pemutakhiran yang pesat sehingga Indonesia bisa memantau dan memanfaatkannya hasilnya dimasa depan.

“Tenaga nuklir sedang ada pengembangan. Dunia sedang memetakan Do and don’t terkait energi nuklir ini. Kami tidak mengajukan any decission today maupun promises. Tapi kami terus monitor,” tutup Darmawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *