Musi Banyuasin, Sumsel, ruangenergi.com — Kabar menggembirakan datang dari sektor hulu migas nasional. Untuk pertama kalinya, minyak produksi sumur masyarakat di Sumatera Selatan resmi dialirkan ke fasilitas resmi milik negara melalui Terminal Ramba, Sabtu (23/5/2026). Pengaliran perdana dilakukan oleh Petromuba kepada Pertamina EP dan disebut menjadi tonggak penting penataan sumur masyarakat secara legal, aman, dan produktif.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, dalam laporannya pada Senin (25/5/2026), menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan tersebut setelah adanya deklarasi bersama dengan unsur Muspiko Sumatera Selatan.
“Alhamdulillah, setelah deklarasi bersama Muspiko Sumsel, akhirnya tepat pada 23 Mei 2026 untuk pertama kalinya Petromuba mengalirkan minyak dari sumur masyarakat ke Pertamina EP melalui Terminal Ramba Sumsel,” tulis Djoko Siswanto dalam laporannya kepada jajaran Kementerian ESDM, SKK Migas, dan Pertamina.
Tak hanya menjadi sejarah baru dalam tata kelola sumur masyarakat, kualitas minyak mentah yang dihasilkan juga disebut sangat istimewa. Berdasarkan hasil pengukuran awal, kandungan air atau BSW (Basic Sediment and Water) tercatat hanya 0,1 persen. Sementara derajat API mencapai 51,6 — angka yang menunjukkan minyak tergolong sangat ringan dan bernilai tinggi.
Dalam industri perminyakan, crude oil dengan API gravity tinggi sangat diminati karena lebih mudah diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) dan menghasilkan produk jadi dalam jumlah besar. Dengan karakteristik tersebut, minyak dari Sumsel ini diperkirakan mampu menghasilkan lebih dari 95 persen fraksi BBM saat diolah di kilang.
Pengaliran perdana sebanyak 143 barel itu memang masih relatif kecil. Namun, langkah awal ini dinilai sangat strategis karena membuka peluang peningkatan lifting nasional dari sumber-sumber produksi masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya masuk dalam rantai pasok resmi negara.
Program ini juga dipandang sebagai model kolaborasi baru antara pemerintah daerah, aparat, SKK Migas, Pertamina, dan masyarakat dalam mengelola potensi migas rakyat secara lebih tertib dan produktif.
“Insya Allah produksi migas akan naik,” tulis Djoko menutup laporannya dengan nada optimistis.
Momentum ini sekaligus menjadi sinyal bahwa upaya pemerintah mengejar target lifting migas nasional mulai menunjukkan hasil nyata di lapangan. Jika pola pengelolaan seperti di Sumsel berhasil direplikasi di daerah lain, kontribusi sumur masyarakat berpotensi menjadi tambahan penting bagi ketahanan energi nasional.

