Jakarta Pusat. Jakarta, ruangenergi.com – Restrukturisasi dan penyederhanaan struktur organisasi di lingkungan Pertamina Subholding Upstream (SHU) mendapat perhatian dari Serikat Pekerja PT Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI).
SP PDSI meminta proses streamlining tidak berhenti pada penggabungan atau pengurangan struktur organisasi. Lebih jauh, restrukturisasi dinilai harus mampu menciptakan nilai tambah bisnis sekaligus memperkuat kapasitas pengeboran nasional.
Karena itu, SP PDSI mendorong PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) diperkuat sebagai National Drilling Champion, sekaligus menjadi konsolidator utama bisnis pengeboran di lingkungan Pertamina.
Ketua Umum SP PDSI, Rahmat Wijaya, mengatakan pengeboran merupakan salah satu mata rantai paling krusial dalam bisnis hulu migas. Keberhasilan pengeboran akan sangat menentukan kemampuan industri hulu dalam mengejar target produksi minyak dan gas nasional.
“Transformasi organisasi merupakan kebutuhan agar perusahaan semakin adaptif. Namun, keberhasilan streamlining tidak boleh diukur sekadar dari berapa banyak struktur yang dikurangi atau organisasi yang dilebur, melainkan dari nilai tambah yang dihasilkan bagi Pertamina secara keseluruhan,” kata Rahmat dalam keterangan tertulis, 7 Agustus 2026.
Menurutnya, setiap keputusan restrukturisasi harus berpijak pada rasionalitas bisnis, efisiensi operasional, dan keandalan perusahaan dalam jangka panjang.
SP PDSI melihat PDSI memiliki modal bisnis yang kuat untuk menjadi pusat konsolidasi bisnis pengeboran Pertamina.
Saat ini PDSI mengoperasikan 58 unit rig, yang disebut sebagai salah satu armada pengeboran terbesar di Asia Tenggara. Armada tersebut ditopang standar HSSE, kemampuan engineering, serta pengalaman dan kompetensi operasional yang telah terakumulasi selama puluhan tahun.
Dengan skala tersebut, SP PDSI menilai terdapat peluang economies of scale yang besar bagi Pertamina.
Efisiensi biaya operasional, optimalisasi utilisasi aset, standardisasi keselamatan kerja, hingga fleksibilitas mobilisasi rig ke berbagai wilayah operasi hulu migas menjadi sejumlah keunggulan yang dapat diperoleh melalui konsolidasi bisnis pengeboran.
“Memperkuat dan mengkonsolidasikan fungsi pengeboran ke dalam satu wadah yang fokus seperti PDSI adalah bentuk efisiensi itu sendiri,” tegas Rahmat.
Kompetensi Pengeboran Jangan Dipandang Sebagai Cost Center
Di balik puluhan rig yang beroperasi, SP PDSI mengingatkan ada aset lain yang jauh lebih penting, yakni manusia dan kompetensi pengeboran.
Menurut SP PDSI, pekerja dan kompetensi pengeboran harus ditempatkan sebagai competitive advantage, bukan semata-mata sebagai cost center.
Pengalaman para insan pengeboran Pertamina yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dinilai sebagai modal intelektual yang strategis bagi industri migas nasional.
Karena itu, kompetensi tersebut perlu dijaga dan dikembangkan melalui pembentukan center of excellence pengeboran nasional.
“Perjuangan kami bukan sekadar membela nama atau struktur organisasi, melainkan menjaga keberlangsungan kompetensi pengeboran nasional,” ujar Rahmat.
Ia menegaskan, penguatan PDSI sebagai National Drilling Champion bukan hanya berkaitan dengan kepentingan satu entitas perusahaan. Langkah tersebut dinilai memiliki dampak lebih luas terhadap daya saing Pertamina dan ketahanan energi Indonesia.
“Memperkuat PDSI sebagai National Drilling Champion berarti memperkuat daya saing Pertamina dan memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga,” katanya.
SP PDSI menyatakan siap menjadi mitra strategis manajemen dalam proses transformasi Pertamina dengan mengedepankan pendekatan yang objektif, profesional, serta berorientasi pada penciptaan nilai maksimal bagi perusahaan dan negara.
Dengan demikian, restrukturisasi di tubuh Subholding Upstream diharapkan tidak sekadar menghasilkan organisasi yang lebih ramping, tetapi juga melahirkan struktur bisnis yang semakin kuat, efisien, dan mampu mendukung agresivitas pengeboran untuk mengejar target produksi migas nasional.


