Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar positif datang dari kegiatan workover sumur migas di Sumatera Utara. PT Pertamina EP Asset 1 atau PEP Zona 1 berhasil meningkatkan potensi produksi Sumur PPT-04 di Lapangan Pangkalan Susu setelah menyelesaikan pekerjaan workover pada 21 Agustus 2026.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan, pekerjaan workover Sumur PPT-04 berlangsung sejak 24 Juni hingga 21 Agustus 2026. Pekerjaan ini merupakan kerja ulang pindah lapisan dengan sasaran awal produksi 1,4 MMSCFD gas dan 74 BOPD minyak.
Hasilnya cukup menggembirakan. Berdasarkan uji produksi, Sumur PPT-04 mampu menghasilkan 1,11 MMSCFD gas dan 197,49 BOPD minyak.
“Minyak sebesar 197,49 BOPD atau mencapai 267 persen dari target,” demikian laporan Djoko Siswanto pada Minggu, 23 Agustus 2026, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Produksi tersebut berasal dari Formasi Belumai, pada interval kedalaman 2.489–2.491 meter dan 2.499–2.502 meter. Tekanan Shut in Tubing tercatat mencapai 2.700 psig.
Yang menarik, sebelum dilakukan workover, Sumur PPT-04 berada dalam kondisi tidak berproduksi atau shut in. Artinya, pekerjaan ini berhasil membuka kembali potensi produksi dari sumur yang sebelumnya berhenti berproduksi.
Namun, hasil produksi tersebut belum dapat langsung dialirkan ke sistem. Flowline untuk sumur tersebut diperkirakan baru on stream pada minggu keempat April 2027.
Untuk sementara, upaya pengaliran produksi akan dioptimalkan menggunakan truk.
Biaya di Bawah Anggaran
Dari sisi operasional, pekerjaan workover menggunakan Rig TMMJ#12 berkapasitas 750 HP dengan total durasi pekerjaan selama 58,04 hari.
Sementara dari sisi biaya, realisasi berdasarkan field estimate cost mencapai sekitar US$1,459 juta. Angka tersebut tercatat 99,73 persen dari anggaran sebesar US$1,463 juta yang telah disetujui SKK Migas.
Dengan demikian, pekerjaan dapat diselesaikan dengan biaya yang sedikit lebih rendah dibandingkan rencana anggaran.
Keberhasilan workover ini menjadi kabar penting bagi PEP Zona 1, khususnya Lapangan Pangkalan Susu yang masuk kategori Nawasena, yakni lapangan dengan tingkat keekonomian relatif tipis atau marginal.
Tambahan produksi dari Sumur PPT-04 diharapkan dapat memperkuat profil produksi migas PEP Zona 1 sekaligus memberikan pijakan baru untuk pengembangan lapangan tersebut.
Bagi SKK Migas, capaian ini menunjukkan bahwa optimalisasi sumur eksisting masih memiliki ruang besar untuk mendukung peningkatan produksi nasional.
Apalagi, dari satu sumur yang sebelumnya shut in, kini muncul potensi hampir 200 BOPD minyak dan 1,11 MMSCFD gas.
Tantangan berikutnya tinggal memastikan produksi tersebut segera mendapatkan jalur pengaliran. Jika flowline belum siap, opsi pengangkutan menggunakan truk sementara terus diupayakan.
“Lifting naik, bisa… bisa… bisa…” menjadi semangat yang mengiringi capaian tersebut. 🇮🇩👍🤝


