Sungai Anggur 3 Menggeliat, Target Discovery 1.500 BOPD

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Perburuan cadangan minyak baru terus digenjot. Di Blok Belida, pengeboran Sumur Sungai Anggur 3 (SA-3) kini berlangsung selama 24 jam secara bergiliran. Sumur tersebut diharapkan mampu menghasilkan discovery dengan potensi produksi sekitar 1.500 barel minyak per hari (BOPD).

Kabar tersebut disampaikan Eddy Tampi kepada Kepala SKK Migas Djoko Siswanto. Dalam pesannya, Eddy melaporkan bahwa para pekerja terus menjalankan pengeboran siang dan malam, meski harus bekerja jauh dari keluarga.

Eddy Tampi (atau Ham Eddy Tampi) adalah seorang praktisi, investor, dan tokoh pengusaha senior di sektor industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia yang berkarier sejak tahun 1972. Ia dikenal sebagai pimpinan atau petinggi di perusahaan energi swasta PT Sele Raya (seperti PT Sele Raya Merangin Dua dan PT Sele Raya Sejati).

“Karyawan bekerja siang dan malam selama 24 jam secara bergiliran, berkorban jauh dari keluarga dan mempertaruhkan jiwa dan raga untuk mencari migas bagi Indonesia,” tulis Eddy, seperti disampaikan kepada Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Kamis (24/09/2026).

Ia juga memohon doa agar pengeboran SA-3 menghasilkan temuan sesuai target.

“Semoga Tuhan Yang Maha Esa merestui usaha kerja kita sehingga dapat menghasilkan discovery 1.500 BOPD,” ujarnya.

Menurut Eddy, sejumlah persoalan yang sebelumnya menjadi hambatan kegiatan hulu migas, termasuk perizinan dan pembebasan lahan, telah ditangani melalui koordinasi SKK Migas dan Kementerian ESDM.

Ia menyebut waktu penyelesaian sejumlah proses kini jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

“Proses hanya empat bulan bahkan kurang, sedangkan dahulu sampai dua tahun,” tulis Eddy.

Namun, menurut dia, masih terdapat pekerjaan rumah pada sisi fiskal, khususnya terkait mekanisme di Kementerian Keuangan.

Salah satu yang disoroti adalah proses pengembalian PPN yang disebut membutuhkan waktu minimal delapan bulan. Sementara itu, keterlambatan pembayaran oleh perusahaan, menurut Eddy, dapat dikenakan denda.

Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kepastian dan keseimbangan sistem fiskal dalam investasi hulu migas.

Eddy kemudian mengaitkan persoalan fiskal hulu migas dengan kebutuhan Indonesia terhadap impor minyak dan gas.

Menurut dia, apabila persoalan fiskal di sektor hulu migas tidak segera diselesaikan secara menyeluruh, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh investor, tetapi juga dapat berimbas kepada keuangan negara.

“Apabila Kemenkeu tidak bisa segera memperbaiki permasalahan fiskal di hulu migas hingga tuntas 100 persen, maka yang pasti rugi dan susah Kemenkeu juga karena harus mengeluarkan uang untuk impor migas,” kata Eddy.

Sebaliknya, ia menilai peningkatan produksi migas domestik yang dibiayai oleh investasi non-APBN dapat membantu mengurangi kebutuhan pembiayaan negara untuk memenuhi kebutuhan energi dari luar negeri.

“Apabila produksi dalam negeri meningkat dan 100 persen biaya investor non-APBN, maka beban Kemenkeu akan berkurang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menempatkan pengeboran SA-3 bukan semata sebagai aktivitas teknis mencari cadangan baru. Lebih jauh, keberhasilan eksplorasi dan percepatan produksi domestik berkaitan dengan upaya memperkuat pasokan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Kini, pekerjaan di lapangan terus berjalan. Rig SA-3 beroperasi 24 jam, sementara target 1.500 BOPD menjadi angka yang ditunggu dari Sumur Sungai Anggur 3.