Target Pembangunan Pembangkit Listrik Panas Bumi di Indonesia Akan Disampaikan Saat UNCCC

Jakarta,ruangenergi.com- Menjelang penyelenggaraan UN Climate Change Conference (UNCCC) tahun 2021 di  Glasgow, UK dimana para pemimpin dunia akan berbicara termasuk Indonesia harus mempresentasikan target Net Zero Emission (NZE).

Tentunya target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Indonesia menjadi bagian yang penting kedalam dokumen yang akan dipresentasikan oleh pemerintah pada acara akbar tersebut karena pembangunan PLTP melibatkan pembangunan ekonomi melalui kontribusi Environment, Social, Governance yang berkelanjutan serta dari sisi SDM dan masyarakat, berbagai tingkatan pekerja dari buruh sampai pendidikan S1,S2, S3 ikut terlibat.

“NZE merupakan tantangan bangsa dunia termasuk Indonesia, bagaimana menumbuhkan ET secara eksponensial. Teori menyimpulkan untuk dapat terbangun, maka paling tidak pembangunan ET mencapai 10 – 12 GW per tahun sampai dengan 2030, termasuk dengan melakukan modernisasi grid/jaringan, mengatasi over capacity PLN dan kondisi bundling dan unblinding; Untuk mencapai NZE tahun 2050, 2060 atau 2070; ET harus tumbuh secara eksponensial dan ekstrim. Memang berat untuk mencapai NZE karena perlu usaha yang luar biasa sekali dan tidak bisa hanya dilakukan pendekatan Business As Usual. Hal ini tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga negara besar seperti Tiongkok telah mencanangkan akan pensiunkan 1.200-1.300 GW PLTU dalam waktu 40 tahun, dan pada saat yang sama Tiongkok akan membangun ET ribuan GW, dan ini bukan hal yang mudah,” kata Direktur Utama PT Geo Dipa Energi Riki F.Ibrahim dalam bincang santai virtual dengan ruangenergi.com,Selasa (14/09/2021) di Jakarta.

Riki menuturkan, berita dari Xinhua, Kantor Berita Pemerintah Tiongkok 3 Agustus 2021 yang melaporkan rapat politbiro yang dihadiri Presiden Xi: Politbiro memerintahkan untuk target mencapai peaking carbon sebelum 2030 dan dekarbonisasi di 2060 yang dilakukan secara terkoordinasi dan tertata rapi.

“Semua pengembang usaha swasta ET (termasuk Geothermal) tidak hanya Pemerintah perlu melakukan: inventarisasi, memastikan dengan akurat/pasti seluruh kemampuan yang riil ET Indonesia termasuk Geothermal (MW) yang mampu berkontribusi dalam penyediaan energi sampai 2030, 2040, 2050, agar dapat tumbuh secara eksponensial. Tentu dalam merealisasikan ini akan diperlukan pendanaan dunia sektor perubahan iklim yang tidak sedikit,”papar Riki.

Begitu pula dengan memastikan bahwa isu sosial dan lingkungan telah dikaji secara keseluruhan pada saat persiapan Proyek. Termasuk menyingkapkan secara utuh semua informasi relevan bagi masyarakat terdampak dan pemangku kepentingan masyarakat umum.

Indonesia Dikarunia Begitu Banyak Sumber Energi

Indonesia dikarunia dengan begitu banyak sumber energi, baik sumber Energi Fosil (Minyak, Gas, Batubara) dan ET (Panas Bumi, Hydro, Surya, Biomasa, Angin dan Samudra). Namun, disadari dan tidak ada yang dapat membantah bahwa energi fosil semakin lama akan semakin habis, bila terus digunakan. Sementara manfaat sumberdaya fosil seperti Coal and Oil/Gas dapat dipergunakan untuk nilai industri yang lebih tinggi seperti untuk Tekstil/Pakaian, Petrokimia, Obat-obatan, dll. Disamping itu, energi ET yang Indonesia miliki masih terbatas realisasinya

Hampir, semua energi ET, site and size specific. ET harus saling mengisi (complimentary), dan masing masing ET memiliki kelebihan dan kekurangan. Misal ET Geothermal, Hydro, Biomas, pembangunan pembangkit memerlukan waktu lebih lama, dan harga listrik yang dihasilkan lebih tinggi, namun listrik yang dihasilkan stabil dan tersedia 24 jam. Sehingga dapat dijadikan sebagai pengganti PLTU yang berfungsi sebagai baseload.

“Pembangunan Pembangkit Listrik ET tertentu dalam hal ini PV farm (Surya) yang dikatakan saat ini sangat murah harga listriknya dan dapat dilakukan dengan waktu relatif lebih singkat, bahkan ada yang mengatakan 3 – 4 cent $/kWh (akan tetapi listrik Floating PV Cirata yang baru saja dibangun harga listrik 5.8 cent $/kWh (lahan atau permukaan waduk tidak perlu di beli oleh Pengembang). Maka terlalu pagi untuk meyakini bahwa harga listrik PV farm, murah yang berkisar 3 – 4 cent$/kWh,”jelas Riki dengan nada prihatin.

Selain itu,lanjut Riki, perlu dipertimbangkan beberapa hal lainnya pula bahwa (i). Listrik yang dihasilkan oleh PV farm tidak stabil, karenanya tidak dapat dijadikan sebagai baseload, (ii). Apakah kondisi jaringan listrik PLN yang ada saat ini sudah dapat menerima dan mengelola listrik yang intermiten (naik turun) bahkan pada jam tertentu tidak menghasilkan listrik, dan (iii). Diperlukan pembangkit lain untuk backup ketika listrik dari PV farm tidak tersedia, atau berkurang.

BACA JUGA  Gerak Cepat SKK Migas Kolaborasi Dengan PHE Atasi Ceceran Minyak ONWJ

Peningkatan ET lewat teknologiPLTS/PV yang dikatakan murah harga listriknya untuk negara seperti Indonesia yang memiliki berbagai macam sumberdaya energinya itu masih harus dibuktikan karena teknologi PLTS/PV farm belum terbukti beroperasi selama 40 tahun, bahwa teknologi yang lebih murah harganya dapat sebagai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, mengingat import teknologi industri ini masih sangat tergantung dari luar negeri dan menjadi kendala utama dalam membangun industri dalam negeri.

“Bahwa walaupun pembangunan PLTP masih bergantung dari teknologi import karena Indonesia belum memiliki industri pabrikan Turbin/Generator dll. Namun PLTP terbukti memberikan pembangunan ekonomi melalui kontribusi Environment, Social, Governance yang berkelanjutan (Sustainability) serta dari sisi SDM dan masyarakat, berbagai tingkatan pekerja dari buruh sampai pendidikan S1, S2, S3 ikut terlibat,”tutur Riki.

Riki menambahkan,meskipun pembangunan PLTP memerlukan waktu yang lebih panjang dari pembangunan pembangkit ET lainnya, namun keunggulan PLTP, seperti yang sudah diutarakan diatas, apalagi sekitar 40% sumber daya Geothermal dunia berada dalam perut bumi NKRI. PLTP selayaknya akan memiliki peran yang besar dalam penyediaan listrik bangsa ini untuk mencapai NZE, oleh karena itu perlu dicatat bahwa tambahan daya dari PLTP akan menjadi peluang untuk melakukan secara exsponential.

Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan

Pembangunan PLTP berarti pembangunan ekonomi secara berkelanjutan yang melibatkan berbagai hal yang sangat penting menyangkut Ketahanan dan Kemandirian Energi Nasional. Potensi total sumber daya Panas Bumi Indonesia ekivalen + 23 GW, dan kapasitas terpasang saat ini 2.1 GW.

Dalam RUEN, dinyatakan bahwa kapasitas listrik dari sumber Panas Bumi pada tahun 2030 sebesar 8.0GW. Ini artinya bahwa dari tahun 2022 s/d tahun 2030 harus terbangun PLTP baru dengan total kapasitas + 5.9 GW.

Walaupun dengan cara IPO, pembangunan PLTP masih sangat tidak mungkin mengingat harga listrik Indonesia masih belum dapat dipaksakan dengan harga tinggi seperti di negara tetangga Singapora dan Phillipines yang jauh lebih kecil jumlah pendudukannya dan sedikit sekali sumberdaya alamnya.

Diharapkan kapasitas total listrik dari PLTP Indonesia dapat mencapai 30-40% dari total sumberdaya yang ekivalen + 23 GW. Tentu apabila lebih besar akan lebih baik lagi agar taget NZE dunia tercapai, dengan jalan satu-satunya adalah pembangunan pembangkit ET termasuk PLTP harus dilakukan secara eksponential melalui dukungan pendanan dunia.

“Dan target pencapaian yang akan dipresentasikan oleh pemerintah dalam pertemuan dengan para pemimpin dunia di 2011 UNCCC Glasgow, UK yang direncanakan berlangsung pada tanggal 31 Oktober hingga 12 November 2021 perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan di bidang ET, baik dari sisi regulasi, teknologi, dan pendanaan ET mencapai komitmen Indonesia dan dunia,”tutup Riki mengakhiri obrolan santai virtualnya bersama ruangenergi.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *