Wow! 16 Sumur Di-Fracturing, PHSS Kantongi Tambahan Produksi Migas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com-PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) terus mencari cara untuk mengoptimalkan produksi minyak dan gas bumi dari lapangan-lapangan mature di Kalimantan Timur.

Salah satu jurus yang kini diandalkan adalah hydraulic fracturing, teknologi stimulasi reservoir yang diterapkan pada sejumlah sumur di Wilayah Operasi Mutiara dan Pamaguan, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Program ini telah berjalan sejak 2023 hingga 2026. Dalam periode tersebut, PHSS melakukan hydraulic fracturing pada 16 sumur dengan hasil yang cukup signifikan terhadap produktivitas sumur.

Hasilnya, tambahan produksi minyak setelah hydraulic fracturing tercatat dapat mencapai 100–500 barel minyak per hari (BOPD). Sementara tambahan produksi gas berada di kisaran 0,1–0,4 MMSCFD, tergantung karakteristik reservoir masing-masing sumur.

Tak hanya mendongkrak produksi, pekerjaan ini juga diproyeksikan memberikan tambahan Estimated Ultimate Recovery (EUR) hingga 1,3 juta barel minyak dan 300.000 kaki kubik gas.

General Manager Zona 9 Dadang Soewargono mengatakan hydraulic fracturing menjadi bagian dari strategi PHSS untuk menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, sekaligus mempertahankan kinerja lapangan-lapangan migas yang telah mature.

Menurut Dadang, hydraulic fracturing merupakan metode stimulasi dengan memompa cairan bertekanan tinggi untuk memecah reservoir yang memiliki sifat fisik batuan kurang baik. Dengan begitu, jalur aliran minyak dan gas menuju sumur dapat menjadi lebih optimal.

“Melalui penerapan metode hydraulic fracturing yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing reservoir, perusahaan berhasil meningkatkan produktivitas sejumlah sumur sekaligus memperkuat upaya menjaga keberlanjutan produksi,” kata Dadang.

Salah satu hasil paling menonjol datang dari sumur PAM-66 di Lapangan Pamaguan. Setelah dilakukan hydraulic fracturing, tambahan laju produksi minyak awal sumur tersebut mencapai hingga 500 BOPD.

Bagi PHSS, keberhasilan hydraulic fracturing bukan sekadar mengejar tambahan produksi sesaat. Teknologi ini menjadi bagian dari upaya memperpanjang produktivitas lapangan migas yang sudah berumur sekaligus mengoptimalkan cadangan yang masih tersimpan di reservoir.

Setiap pekerjaan hydraulic fracturing dirancang berdasarkan kajian teknis yang mempertimbangkan karakteristik reservoir dan tantangan operasional di masing-masing sumur. Pendekatan tersebut dilakukan agar risiko dan tantangan selama pekerjaan dapat dimitigasi.

Dadang menegaskan, inovasi dan teknologi memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.

Ke depan, PHSS akan terus mengidentifikasi sumur dan reservoir potensial untuk program optimasi lanjutan. Langkah ini diarahkan untuk menjaga peningkatan produksi secara berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan.

PHSS merupakan anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di Zona 9 yang mengelola operasi dan bisnis hulu migas di Wilayah Kerja Sanga Sanga, Kalimantan Timur. Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama bagi pemerintah Indonesia yang diwakili SKK Migas, PHSS terus mengembangkan inovasi dan penerapan teknologi untuk menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.