Penajam Paser Utara, Kaltim, ruangenergi.com– Bagi sebagian pelajar, industri hulu migas mungkin hanya identik dengan rig pengeboran, anjungan lepas pantai, atau pipa-pipa raksasa. Namun, di balik operasi yang kompleks itu, tersimpan kebutuhan besar akan sumber daya manusia yang kompeten, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Semangat itulah yang dibawa PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), melalui program Guru Tamu PHKT Goes to School di SMK Negeri 2 Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Sebanyak 100 siswa dari sembilan program keahlian memperoleh kesempatan belajar langsung dari para praktisi industri migas dan SKK Migas mengenai dunia kerja, budaya keselamatan, hingga perkembangan teknologi di sektor energi.
Bagi para siswa, kegiatan ini bukan sekadar seminar. Mereka diajak memahami bagaimana industri hulu migas bekerja, mengapa keselamatan menjadi budaya utama, serta kompetensi apa saja yang harus dipersiapkan agar mampu bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif.
Head of Communication Relations & CID PHKT, Elis Fauziyah, menegaskan bahwa industri energi membutuhkan generasi penerus yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga karakter, integritas, dan kepedulian terhadap aspek keselamatan. Karena itu, program Guru Tamu menjadi salah satu bentuk investasi perusahaan dalam menyiapkan SDM masa depan.
Namun, komitmen Pertamina Hulu Indonesia terhadap pengembangan masyarakat di sekitar Wilayah Kerja Mahakam tidak berhenti pada program Guru Tamu.
Sebagai operator yang menjalankan operasi hulu migas di Kalimantan Timur, PHI selama ini juga mengembangkan berbagai program edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang menyasar berbagai kelompok usia. Mulai dari edukasi mengenai industri migas dan budaya keselamatan (HSSE), penguatan kapasitas sekolah melalui kolaborasi dengan dunia industri, peningkatan literasi lingkungan, hingga berbagai pelatihan keterampilan dan pengembangan masyarakat yang menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat di sekitar wilayah operasi tidak hanya menjadi saksi aktivitas industri migas, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan daya saing sehingga mampu ikut merasakan manfaat kehadiran industri energi.
Bagi PHI, keberlanjutan operasi bukan hanya diukur dari keberhasilan menjaga produksi migas nasional, tetapi juga dari kemampuan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Karena itu, investasi pada pendidikan dipandang sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun masa depan daerah.
Apresiasi pun datang dari Kepala SMK Negeri 2 Penajam Paser Utara, Asfianty Abbas Hasan Yunus. Menurutnya, kolaborasi dengan PHKT memberikan pengalaman belajar yang tidak diperoleh di ruang kelas serta membuka wawasan siswa mengenai kebutuhan nyata dunia industri. Sementara itu, salah seorang peserta, Dzata Bahjah, mengaku memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai dunia kerja sehingga menjadi bekal berharga menjelang praktik kerja lapangan maupun saat memasuki dunia profesional.
Melalui berbagai program edukasi yang terus diperluas, Pertamina Hulu Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan energi nasional tidak hanya dibangun melalui produksi minyak dan gas, tetapi juga melalui investasi jangka panjang pada manusia. Sebab, generasi muda yang kompeten hari ini akan menjadi penggerak industri energi Indonesia di masa depan.


