Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Indonesia masih menyimpan ruang eksplorasi migas yang sangat luas. Di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan energi nasional, pemerintah kini mendorong strategi yang tidak hanya bertumpu pada pencarian cadangan baru, tetapi juga mempercepat temuan dan sumber daya yang sudah tersedia menjadi produksi.
Pesan itu mengemuka dalam paparan Deputi Eksplorasi, Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, bertajuk “Transforming Upstream Potential into Production: Collaboration, Technology, and Investment Opportunities”.
Paparan tersebut menggambarkan bagaimana pemerintah tengah membangun ekosistem hulu migas yang menghubungkan data, eksplorasi, teknologi, investasi, hingga produksi.
Peluang tersebut terlihat dari peta geologi Indonesia. SKK Migas mencatat telah mengidentifikasi 128 cekungan hidrokarbon. Namun, baru 20 cekungan yang saat ini berproduksi dan 43 telah dieksplorasi. Sebanyak 65 cekungan masih berstatus unexplored.
Dari sisi wilayah kerja, terdapat 165 blok aktif, terdiri atas 107 blok eksploitasi dan 58 blok eksplorasi.
Pemerintah juga telah mengidentifikasi 126 proven plays dengan total discovered volume in place mencapai sekitar 149 BBOE. Data ESDM 2026 yang dipaparkan SKK Migas juga mencatat cadangan terbukti sekitar 2,33 miliar barel minyak dan 35 TCF gas.
Angka-angka tersebut memperlihatkan satu hal: pekerjaan rumah hulu migas Indonesia bukan semata mencari wilayah baru, tetapi bagaimana mengubah potensi yang telah terpetakan menjadi kegiatan eksplorasi, pengembangan dan akhirnya produksi.
Untuk membuka potensi tersebut, pemerintah sejak 2019 agresif melakukan kegiatan pengumpulan data di wilayah terbuka.
SKK Migas mencatat telah dilakukan lebih dari 200.000 km survei FTG, lebih dari 32.000 km seismik 2D, lebih dari 10.000 km² seismik 3D, lebih dari 170.000 km reprosesing seismik 2D, serta lebih dari 11 studi regional.
Data tersebut menjadi modal penting untuk memperkecil risiko eksplorasi sekaligus memberikan gambaran lebih jelas kepada calon investor mengenai prospek yang tersedia.
Sejumlah data eksplorasi bahkan telah dibuka, antara lain survei seismik 2D Bone-Tukang Besi sepanjang 32.215 km, FTG BirdsHead 23.029 km, FTG Akimeugah 32.336 km, hingga FTG Mamberamo sekitar 25.000 km.
Langkah tersebut mulai tercermin dalam meningkatnya jumlah area yang dapat ditawarkan kepada investor.
SKK Migas menyebut jumlah wilayah yang ditawarkan meningkat dari sebelumnya sekitar 60–75 area menjadi setidaknya 118 area, dan angka tersebut masih berpotensi bertambah seiring dengan diperolehnya data baru.
Sebagian area telah mendapatkan pengelola, sebagian lainnya sedang menjalani proses Joint Study, sementara area lain masih terbuka untuk proposal Joint Study atau akan ditawarkan melalui putaran tender wilayah kerja berikutnya.
Dalam peta Indonesia Petroleum Bidding Round 2025–2027, tercatat 25 area awarded, 43 area dalam proses Joint Study, dan 50 area lainnya masuk dalam kategori open area.

Bagi industri hulu, ini berarti pipeline peluang investasi tidak hanya datang dari satu sumber, melainkan dari berbagai tahapan—mulai dari area terbuka, studi bersama, hingga wilayah yang siap masuk proses pengembangan.
Bukan hanya eksplorasi, lapangan “menganggur” ikut dibidik
Menariknya, strategi pemerintah tidak berhenti di eksplorasi.
SKK Migas juga membuka peluang kerja sama untuk aset-aset yang sudah memiliki temuan atau struktur namun belum dikembangkan secara optimal.
Per 31 Agustus 2026, terdapat 23 idle fields, 9 stranded POD, dan 22 undeveloped discoveries yang dinilai memiliki potensi untuk dikerjasamakan.
Inilah ruang yang menarik: sumber daya yang sudah ditemukan tidak harus menunggu puluhan tahun untuk dikembangkan apabila teknologi, model kerja sama dan keekonomian dapat dipertemukan.
Di sisi produksi, SKK Migas juga mendorong teknologi Enhanced Oil Recovery atau EOR untuk meningkatkan perolehan minyak dari lapangan eksisting.
Paparan mencatat telah diluncurkan 15 proyek EOR di Indonesia. Empat proyek menggunakan CO₂, satu menggunakan injeksi uap, dan 10 lainnya menggunakan chemical EOR.
Salah satu proyek yang mendapat perhatian adalah Minas Area A, yang disebut sebagai first commercial C-EOR project in Indonesia.
Lapangan ini memiliki Original Oil In Place sekitar 8 miliar STB, dengan potensi peningkatan recovery factor hingga 17 persen. Teknologi yang digunakan adalah Alkali-Surfactant-Polymer (ASP) dengan laju injeksi 13.500 BIPD dan target peak produksi tambahan 2.800 BOPD pada 2027.
Di offshore, proyek RAMA juga menjadi tonggak penting karena disebut sebagai first offshore C-EOR pilot injection in Indonesia. Proyek tersebut memiliki oil in place 12,75 MMSTB, potensi tambahan 1,1 MMSTB dan target peak 250 BOPD pada 2028. Injeksi pertama tercatat pada Juni 2026.
Meski optimalisasi lapangan eksisting terus digenjot, eksplorasi tetap menjadi fondasi utama.
Data penemuan eksplorasi Indonesia sepanjang 2020–2026 menunjukkan jumlah discovery mencapai 12 pada 2020, 16 pada 2021, 22 pada 2022, 19 pada 2023, 26 pada 2024, 23 pada 2025 dan empat hingga periode data 2026 dalam paparan tersebut.
Success ratio eksplorasi tercatat masing-masing 57 persen pada 2020 dan 2021, meningkat menjadi 73 persen pada 2022, 50 persen pada 2023, 69 persen pada 2024, 66 persen pada 2025, dan 57 persen pada 2026.
Untuk 2026, SKK Migas menempatkan sejumlah sumur dalam kategori “Must Watch Exploration Wells”, dengan kriteria recoverable resource lebih dari 100 MMBOE.
Program ini didominasi pengeboran di offshore frontier yang diharapkan menjadi play opener bagi peluang sumber daya migas berskala besar pada masa depan. Prospek Must Watch disebut berkontribusi hampir 75 persen dari total sumber daya P50 dalam program eksplorasi 2026.
Pada akhirnya, peta besar yang dipaparkan SKK Migas bermuara pada satu agenda: mengubah potensi menjadi produksi.
Caranya dilakukan melalui kombinasi antara pembukaan data dan wilayah baru, investasi eksplorasi, pengembangan temuan, optimalisasi lapangan eksisting, teknologi EOR, serta kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha.
Proses bisnis hulu sendiri membentang panjang, mulai dari Joint Study dan Data Room, keterlibatan investor, persiapan blok dan penetapan pemenang, kemudian masuk ke tahapan studi, survei, pengeboran eksplorasi hingga Plan of Development pertama. Setelah POD disetujui, barulah pembangunan fasilitas dan produksi dilakukan.
Dengan demikian, ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak cadangan yang masih tersimpan di bawah permukaan bumi. Tantangan yang lebih besar adalah seberapa cepat Indonesia mampu mengubah sumber daya tersebut menjadi barel minyak dan gas yang benar-benar mengalir ke pasar.
Seperti pesan yang ditutup dalam paparan SKK Migas: “Unlock returns. Strengthen energy security. Invest in Indonesia’s upstream sector.”


