21 Tahun PEPC, Menjaga Api Energi Tetap Menyala

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Pagi datang bersama suara mesin dan aktivitas manusia. Di lapangan-lapangan migas, pekerjaan dimulai jauh sebelum sebagian besar orang membuka mata. Ada sumur yang harus dipantau, fasilitas yang harus dijaga, gas yang harus dialirkan, dan minyak yang harus terus diproduksikan.

Di balik semua itu, ada satu pekerjaan besar yang sering kali tidak terlihat: menjaga energi tetap tersedia.

Bagi PT Pertamina EP Cepu (PEPC), pekerjaan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan selama 21 tahun.

Pada 14 September 2026, PEPC memperingati hari jadinya yang ke-21. Tema “Energizing Together, Growing Beyond” dipilih bukan sekadar sebagai slogan perayaan. Ia menjadi gambaran perjalanan perusahaan yang tumbuh dari pengelolaan Blok Cepu hingga kini memikul tanggung jawab yang jauh lebih luas sebagai Konsolidator Regional 4 Indonesia Timur.

Dua puluh satu tahun lalu, PEPC lahir.

Tanggal 14 September 2005 menjadi titik awal. Tiga hari kemudian, perusahaan menandatangani Kontrak Kerja Sama pengelolaan Blok Cepu bersama para mitra.

Dari sana, cerita panjang itu dimulai.

Ketika Banyu Urip Mulai Berbicara

Salah satu bab terpenting dalam perjalanan PEPC terjadi pada 2007–2009.

Saat itu, perusahaan membangun dan mengoperasikan Early Production Facilities (EPF) Lapangan Banyu Urip.

Bagi masyarakat di sekitar Cepu dan Bojonegoro, aktivitas migas bukan sekadar cerita tentang angka barel minyak. Di baliknya ada ribuan orang yang bekerja, ada roda ekonomi yang bergerak, dan ada harapan bahwa kekayaan alam dari perut bumi dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.

Banyu Urip kemudian tumbuh menjadi salah satu lapangan minyak dengan kontribusi produksi terbesar bagi Indonesia.

Waktu berjalan. Tantangan berubah.

PEPC kemudian membawa cerita baru dari dunia minyak menuju gas melalui pengembangan Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Bojonegoro, Jawa Timur.

Lapangan gas tersebut kini menjadi salah satu pemasok energi bagi kebutuhan industri di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Dengan begitu, perjalanan PEPC tidak lagi hanya tentang bagaimana mengambil minyak dan gas dari dalam bumi. Ada tanggung jawab yang lebih besar: bagaimana energi tersebut sampai kepada mereka yang membutuhkannya.

Angka yang Bercerita

Di balik perjalanan panjang itu, angka produksi menjadi salah satu cara untuk melihat seberapa besar energi yang berhasil dijaga tetap mengalir.

Di Blok Cepu, PEPC memiliki hak partisipasi sebesar 45 persen. Hingga akhir Mei 2026, produksi minyak dari blok tersebut mencapai 129.915 barel per hari (BOPD).

Sementara JTB, yang dioperasikan langsung oleh PEPC, mencatat produksi gas mentah 298,24 MMSCFD dan penjualan gas 176,95 MMSCFD per Agustus 2026.

Kinerja tersebut tercatat melampaui target RKAP dan WP&B 2026 yang disepakati bersama SKK Migas.

Namun bagi manajemen PEPC, angka tersebut bukan tujuan akhir.

Di balik setiap barel minyak dan setiap aliran gas, ada manusia yang bekerja menjaga fasilitas tetap beroperasi. Ada pekerja yang berada di lapangan, teknisi yang memastikan peralatan bekerja sebagaimana mestinya, hingga masyarakat dan pemerintah daerah yang menjadi bagian dari ekosistem operasi.

“Selama 21 tahun, arah perjalanan PEPC senantiasa berorientasi pada satu tujuan, yaitu memastikan keberlangsungan pasokan energi nasional,” kata Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu, Djudjuwanto.

Menurut dia, pencapaian Banyu Urip dan JTB merupakan bagian dari perjalanan panjang tersebut.

Tetapi ada satu hal yang ingin ditegaskan PEPC: tidak ada pencapaian yang berdiri sendiri.

“Tema Energizing Together, Growing Beyond kami pilih karena pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi bersama seluruh insan PEPC, mitra kerja, pemerintah daerah, dan masyarakat,” ujar Djudjuwanto.

Energi Bukan Hanya Soal Migas

Seiring perjalanan waktu, wilayah tanggung jawab PEPC pun semakin luas.

Penunjukan sebagai Konsolidator Regional 4 Indonesia Timur membawa perusahaan memasuki ruang geografis yang jauh lebih besar.

Dari Jawa Timur, tanggung jawab tersebut kini menjangkau Sulawesi, Kepulauan Maluku hingga Papua.

Regional Indonesia Timur terdiri atas Zona 11, Zona 12, Zona 13 dan Zona 14, dengan aset migas yang tersebar di wilayah onshore maupun offshore.

Di tempat-tempat tersebut, cerita tentang energi bertemu dengan cerita tentang manusia.

Ada masyarakat yang hidup berdampingan dengan kegiatan operasi. Ada pemerintah daerah yang membutuhkan sinergi. Ada pelaku usaha lokal yang ikut bergerak. Dan ada program pemberdayaan masyarakat yang diharapkan mampu meninggalkan manfaat bahkan setelah aktivitas proyek selesai.

Karena itu, bagi PEPC, menjaga energi dan menjaga hubungan dengan masyarakat bukan dua pekerjaan yang terpisah.

“Di Regional 4 Indonesia Timur, kontribusi terhadap ketahanan energi nasional dan pembinaan hubungan dengan masyarakat merupakan dua hal yang berjalan secara beriringan,” ujar Komisaris Utama PT Pertamina EP Cepu, Taufan Hunneman.

“Nilai dari energi yang kami kelola akan semakin optimal apabila manfaatnya turut dirasakan oleh seluruh pemangku kepentingan,” lanjutnya.

Dua Puluh Satu Tahun, Sebuah Perjalanan

Pada peringatan ulang tahunnya, PEPC tidak hanya berbicara tentang sumur, produksi, fasilitas, ataupun target.

Ada doa bersama.

Ada santunan bagi anak-anak yatim di wilayah operasi.

Ada pertemuan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan.

Sederhana, tetapi memiliki makna: bahwa perjalanan sebuah perusahaan energi pada akhirnya tidak hanya diukur dari apa yang keluar dari dalam bumi, melainkan juga dari apa yang dapat diberikan kembali kepada manusia dan lingkungan di sekitarnya.

Dua puluh satu tahun adalah perjalanan yang panjang.

Dari Banyu Urip, PEPC belajar tentang bagaimana sebuah lapangan minyak dapat menjadi tulang punggung produksi nasional.

Dari JTB, perusahaan belajar bahwa gas bukan hanya komoditas, tetapi juga energi yang menghidupkan industri.

Dan dari perjalanan menuju Indonesia Timur, PEPC menghadapi babak baru: mengelola energi sekaligus membangun kolaborasi di wilayah yang lebih luas dan beragam.

Kini, perjalanan itu memasuki tahun ke-22.

Api energi harus tetap menyala. Pekerjaan harus terus berjalan. Dan di balik setiap aliran minyak dan gas, tetap ada manusia-manusia yang bekerja dalam senyap agar energi Indonesia tidak berhenti mengalir.

“Energizing Together, Growing Beyond.”

Bagi PEPC, kalimat itu bukan hanya tentang bertambahnya usia.

Ia adalah cerita tentang bekerja bersama, tumbuh bersama, dan memastikan energi yang berasal dari bumi Indonesia kembali memberi kehidupan bagi Indonesia.