Pertamina EP Lirik Gandeng Mabes TNI, Bangun Benteng Karhutla dari Desa

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Indragiri Hulu, Riau, ruangenergi.com— Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, kini diperkuat dari lini paling dekat dengan masyarakat: desa.

Pertamina EP Lirik menggandeng Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) untuk membekali para kepala desa dan perwakilan masyarakat dengan pengetahuan mitigasi serta penanganan karhutla.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Sosialisasi Mitigasi dan Penanganan Karhutla yang menghadirkan Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI, Kamis (10/9/2026). Kegiatan ini diikuti unsur pemerintah kecamatan, aparat keamanan, tokoh masyarakat, kepala desa, serta perwakilan masyarakat dari seluruh desa di Kecamatan Lirik.

Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan pencegahan berbasis masyarakat. Desa ditempatkan sebagai salah satu garda terdepan untuk mengenali potensi kebakaran, melaporkan kondisi secara cepat, hingga melakukan koordinasi ketika situasi darurat muncul.

Deteksi Dini Jadi Kunci

Dalam pembekalan, Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI tidak hanya memberikan pemahaman mengenai bahaya karhutla, tetapi juga membahas deteksi dini, respons terhadap kondisi darurat, serta pentingnya koordinasi lintas instansi.

Pjs Field Manager Pertamina EP Lirik, M Ridho, mengatakan karhutla memiliki dampak yang luas sehingga pencegahannya tidak mungkin hanya mengandalkan satu institusi.

“Karhutla bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan membutuhkan sinergi seluruh elemen mulai dari pemerintah, TNI, Polri, hingga masyarakat desa,” ujar Ridho.

Menurut dia, kehadiran Tim Penyuluh Mabes TNI memberikan bekal penting kepada para kepala desa agar semakin siap menghadapi potensi karhutla.

“Harapannya, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di forum ini, tetapi diteruskan kepada masyarakat di masing-masing desa. Dengan begitu, pencegahan karhutla menjadi kesadaran dan gerakan bersama,” katanya.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena masyarakat desa berada paling dekat dengan wilayah yang berpotensi terdampak. Semakin cepat tanda-tanda kebakaran dikenali dan dilaporkan, semakin terbuka peluang untuk melakukan penanganan sebelum api berkembang lebih luas.

Desa Jadi Mata dan Telinga Pertama

Ketua Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI, Kolonel Chk Heri Krisdianto SH MH, mengapresiasi inisiatif Pertamina EP Lirik yang mempertemukan unsur TNI dengan pemerintah desa dan masyarakat.

Menurut Heri, keterlibatan masyarakat hingga tingkat desa merupakan bagian penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan karhutla.

Masyarakat, kata dia, berada paling dekat dengan lokasi kejadian sehingga memiliki posisi strategis dalam mendeteksi dan melaporkan potensi kebakaran.

“Keterlibatan masyarakat sampai tingkat desa menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi karhutla. Kolaborasi seperti ini dapat menjadi contoh kemitraan antara dunia usaha, pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat dalam memperkuat upaya pencegahan,” ujar Heri.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Lirik Sudarman, jajaran Forkopimcam, aparat keamanan, tokoh masyarakat, serta tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI.

Membangun Pertahanan Sebelum Api Muncul

Bagi Pertamina EP Lirik, pencegahan karhutla bukan semata-mata persoalan merespons api ketika kebakaran sudah terjadi. Yang tidak kalah penting adalah membangun kemampuan masyarakat untuk mengenali risiko dan bertindak sejak dini.

Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan lingkungan di sekitar wilayah operasi.

Kolaborasi dengan Mabes TNI juga memperlihatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan jejaring lintas sektor. Pemerintah daerah, aparat keamanan, perusahaan, dan masyarakat memiliki peran masing-masing, mulai dari mitigasi, deteksi, pelaporan, hingga respons terhadap kejadian.

Pertamina EP Lirik, bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1 (PHR Zona 1), berharap pola kolaborasi tersebut dapat memperkuat kesiapsiagaan di Kecamatan Lirik dan menjadi model yang dapat dikembangkan di wilayah operasi lainnya.

Sebab, ketika api belum muncul, benteng pertama karhutla justru dibangun dari pengetahuan, kewaspadaan, dan kesiapan masyarakat di desa.