Lebaran di Tengah Laut: Kisah Sunyi Para Penjaga Energi Negeri

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Utara, Jakarta, ruangenergi.com- Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Hari Raya Idul Fitri adalah tentang pulang, pelukan hangat keluarga, dan meja makan yang penuh hidangan khas Lebaran. Namun di tengah hamparan Laut Jawa, suasana itu terasa jauh berbeda.

 

 

 

 

Di Rig PDSI#47.2 milik PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), tak ada gema takbir dari masjid kampung halaman atau riuh tawa keluarga. Yang ada hanyalah deru mesin, angin laut, dan komitmen yang tak pernah padam: menjaga energi negeri tetap mengalir.

Di wilayah kerja PHE OSES, para kru tetap berjaga di momen Lebaran 1447 Hijriah. Mereka adalah wajah lain dari Idul Fitri—sunyi, jauh dari rumah, namun sarat makna pengabdian.

Rig Superintendent PDSI#47.2, Sevendes, tak menampik bahwa kerinduan kepada keluarga menjadi hal yang paling terasa menjelang hari raya. Namun, di balik rasa itu, ada kesadaran akan tanggung jawab yang lebih besar.

“Pasti ada rasa rindu, apalagi saat Lebaran. Tapi kami memahami bahwa tugas ini penting, memastikan operasional berjalan aman dan menjaga ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Bagi Sevendes dan rekan-rekannya, dukungan keluarga menjadi bahan bakar emosional yang tak kalah penting dari energi yang mereka hasilkan. Dari tengah laut, ia menyampaikan pesan sederhana namun dalam.

“Untuk keluarga di rumah, saya selalu mencintai kalian. Mohon doanya agar kami dapat bekerja dengan aman,” katanya.

Kisah Sevendes hanyalah satu dari ribuan cerita serupa. Di seluruh Indonesia, setidaknya 36 rig masih beroperasi selama Ramadan hingga Idul Fitri, dengan sekitar 3.000 pekerja tetap siaga di lapangan.

Direktur Operasi Pertamina Drilling, Aziz Muslim, menyebut dedikasi tersebut sebagai fondasi penting keberlangsungan energi nasional. Ia juga mengapresiasi pencapaian operasional yang berjalan tanpa insiden selama bulan puasa.

“Alhamdulillah, satu bulan puasa kita lewati tanpa insiden, dan operasional terus berjalan selama libur Idul Fitri,” ujarnya.

Namun di balik keberhasilan itu, ada disiplin ketat yang tak boleh dilonggarkan. Aziz menegaskan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Standar seperti HSSE Golden Rules, Corporate Life Saving Rules (CLSR), hingga budaya “Salam Lima Jari” terus dijalankan secara konsisten.

Lebih dari itu, budaya saling mengingatkan antarpekerja juga diperkuat, termasuk melalui penerapan Stop Work Authority (SWA)—sebuah prinsip bahwa setiap pekerja berhak menghentikan pekerjaan jika dinilai tidak aman.

Komitmen ini sejalan dengan arahan manajemen puncak Pertamina yang terus mendorong penguatan budaya keselamatan di seluruh lini operasional.

Di saat sebagian besar masyarakat merayakan kemenangan dengan kebersamaan, para pekerja rig justru merayakannya dengan keteguhan. Tanpa sorak-sorai, tanpa pesta, namun dengan dedikasi yang senyap.

Mereka mungkin jauh dari keluarga, tetapi justru melalui pengorbanan itulah jutaan keluarga di Indonesia tetap bisa merayakan Lebaran dengan terang dan hangat.

Di balik gemerlap Idul Fitri di daratan, ada kisah tentang mereka yang memilih tetap tinggal di laut—menjadi penjaga sunyi energi negeri, demi harapan yang terus menyala.