OPINI: BLITZKRIEG, HORMUZ, DAN ALIANSI BARU: DARI PEARL HARBOR KE OVAL OFFICE

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Konflik antara Donald Trump, Benjamin Netanyahu, dan Iran kini memasuki minggu keempat, pasca serangan udara bergaya blitzkrieg pada akhir Februari lalu yang menewaskan Ali Khamenei beserta sejumlah elite inti rezim dan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Alih-alih melemah, Iran justru menunjukkan ketahanan strategisnya. Hal ini bukan tanpa dasar historis. Iran adalah pewaris peradaban Persia—sebuah imperium yang telah eksis lebih dari 3.000 tahun dan memiliki memori geopolitik yang panjang dan tangguh.

Salah satu manifestasi kekuatan tersebut terlihat di Selat Hormuz—jalur sempit yang mengangkut sekitar 20% perdagangan energi global. Dalam eskalasi terbaru, kawasan ini effectively berubah menjadi “lembah kekelaman” yang menakutkan bagi lalu lintas energi dunia.

Gangguan di Selat Hormuz mendorong Trump meminta dukungan sekutu NATO di Eropa, bahkan hingga ke China. Namun respons yang muncul justru dingin. Negara-negara kunci NATO seperti Prancis, Inggris, Jerman, dan Spanyol secara tegas menyatakan bahwa konflik ini bukanlah perang NATO.

Di sisi lain, Iran mengirimkan sinyal berbeda kepada Beijing: selama tidak terlibat konflik, kapal tanker China dipersilakan melintas dengan aman.

Mengapa Trump “Sewot”?
Secara langsung, Selat Hormuz sebenarnya tidak terlalu krusial bagi kebutuhan energi Amerika Serikat. Hanya sekitar 2,5–3% pasokan minyak AS yang melewati jalur tersebut.

Lalu mengapa Trump begitu reaktif?

Jawabannya terletak pada dua hal: kepentingan dagang dan uji kekuatan aliansi global.

Untuk memahami konteks ini, kita perlu melihat neraca energi global (material balance):

Produksi minyak dunia (2025): ±106 juta barel/hari; gas alam ±4.150 bcm

Sekitar 20% perdagangan minyak laut dan LNG global melewati Selat Hormuz

Distribusi ekspor dari Hormuz didominasi Asia (±89%):

China 37,7%

India 14,7%

Korea Selatan 12%

Jepang 10,9%

Amerika Utara hanya ±2,5%; Eropa ±3,8%

Sementara itu, Uni Eropa tetap merupakan kawasan defisit energi:

Impor minyak: AS (21%), CIS & Kaukasus (17%), Norwegia (14%), lainnya (48%)

Impor LNG: AS (50,7%), Rusia (17%), Qatar (10,8%)

Gas pipa: Norwegia (52,6%), Aljazair (19,4%), Rusia (11,1%)

Strategi Dagang ala Trump

Trump membaca peta ini dengan sangat jelas.

Kepada negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan India—yang sangat bergantung pada Hormuz—Trump ingin menunjukkan bahwa Amerika Serikat adalah penjamin utama keamanan energi mereka.

Sebaliknya, kepada China, pesan yang ingin disampaikan jauh lebih tajam:
keamanan energi Anda pada akhirnya bergantung pada Washington, bukan Teheran.

Dalam konteks inilah muncul dimensi baru: penguatan aliansi strategis dengan Jepang.

Dari Pearl Harbor ke Oval Office

Kunjungan Perdana Menteri Sanae Takaichi ke Gedung Putih menjadi simbol kuat dari pergeseran ini. Ia diterima hangat oleh Donald Trump di Oval Office, bahkan dengan kehadiran penuh jajaran inti pemerintahan—Wakil Presiden, Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, hingga Menteri Keuangan.

Ini bukan sekadar diplomasi biasa. Ini adalah sinyal geopolitik.

Ironinya sangat tajam. Jepang adalah musuh utama Amerika Serikat dalam Perang Dunia II—yang ditandai oleh tragedi Serangan Pearl Harbor.
Namun hari ini, kedua negara justru bergerak menuju konsolidasi aliansi yang lebih dalam.

Trump bahkan melontarkan guyonan tentang Pearl Harbor—sebuah simbol bahwa sejarah kelam dapat diredefinisi dalam konteks kepentingan strategis baru.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun kuat:
dalam geopolitik, kepentingan selalu mengalahkan sejarah.

Jepang, dengan ketergantungan energinya pada kawasan Teluk serta kapasitas teknologi dan militernya yang terus berkembang, menjadi mitra ideal bagi Amerika Serikat. Stabilitas Selat Hormuz adalah kepentingan eksistensial bagi Tokyo—dan ini membuka ruang bagi pembentukan aliansi berbasis keamanan energi.

NATO Retak?

Respons Eropa yang menolak menganggap konflik ini sebagai perang NATO membuka babak baru dalam dinamika aliansi Barat.

Trump merespons secara transaksional: jika ini bukan perang NATO, maka konflik di Ukraina juga bukan perang Amerika Serikat.

Implikasinya jelas: Ukraina didorong untuk lebih mandiri menghadapi Rusia. Presiden Volodymyr Zelenskyy pun berada dalam dilema strategis—mengandalkan Eropa yang terbatas, atau semakin merapat ke Washington.

Pergeseran Aliansi Global

Dunia sedang memasuki fase baru: aliansi menjadi cair, fleksibel, dan sangat transaksional.

Dulu, Jerman, Inggris, dan Prancis adalah musuh bebuyutan. Hari ini mereka satu blok.

Kini, pola serupa terlihat pada hubungan Amerika Serikat–Jepang. Dari musuh dalam perang global, menjadi kandidat poros strategis baru dunia.

Di Mana Posisi Indonesia?

Dalam lanskap yang cair ini, posisi Indonesia menjadi menarik.

Pendekatan yang fleksibel—membaca arah angin geopolitik—menjadi kunci. Keterlibatan dalam berbagai forum strategis menunjukkan bahwa Indonesia berupaya menjaga keseimbangan tanpa terjebak dalam blok yang kaku.

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan beradaptasi adalah bentuk kekuatan itu sendiri.

Penutup
Konflik di Selat Hormuz bukan sekadar perang regional. Ia adalah panggung uji bagi tatanan global baru—di mana aliansi diuji, kepentingan dinegosiasikan ulang, dan sejarah dapat dinegosiasikan ulang.

Dari blitzkrieg di Timur Tengah hingga kehangatan di Oval Office, dunia menyaksikan satu pesan yang semakin jelas:

tidak ada kawan atau lawan abadi—yang ada hanyalah kepentingan yang terus bergerak.

Penulis: Sampe Purba – Pemerhati dan Advisor Geostrategi Energi Migas

Referensi
International Energy Agency. Oil Market Report 2025. Paris: IEA, 2025.
U.S. Energy Information Administration. “World Oil Transit Chokepoints: Strait of Hormuz.” Washington, DC: EIA, 2024.
Al Jazeera. “Europe Distances Itself from US-Iran Conflict.” 2026.
Reuters. “Trump Seeks Allies on Hormuz Security Amid Escalation with Iran.” 2026.
The Financial Times. “Japan’s Strategic Role in US Energy Security Calculations.” 2026.