Sumur “Tidur” Bangkit, Produksi Minyak Prabumulih Melonjak Dua Kali Lipat

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Prabumulih, Sumsel, ruangenergi.com-Lapangan minyak tua kembali memberi harapan. Dari Sumatera Selatan, kabar menggembirakan datang saat sumur yang sempat “tertidur” kini bangkit dan bahkan mencatat lonjakan produksi signifikan.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, pada Minggu (29/3/2026) menyampaikan kabar positif dari kegiatan well intervention yang dilakukan di Lapangan Prabumulih, Kabupaten Muara Enim.

Sumur LBK-29 yang sebelumnya berstatus idle—tidak lagi mampu mengalir secara natural—kini kembali produktif. Bahkan, performanya melampaui capaian terakhir sebelum berhenti berproduksi.

Sebelum “mati suri”, sumur ini terakhir mencatat produksi sebesar 205 barel minyak per hari (BOPD). Namun setelah dilakukan intervensi, hasilnya melonjak drastis.

“Hasil uji produksi awal menunjukkan laju alir mencapai 420 BOPD,” ungkap Djoko dalam laporannya. Artinya, produksi sumur meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum shut-in.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa optimalisasi sumur eksisting masih menyimpan potensi besar dalam mendukung target lifting nasional.

Kegiatan intervensi dilakukan oleh PT Pertamina EP melalui PEP Zona 4, menggunakan rig PDSI#24.1 berkapasitas 400 HP.

Pekerjaan dimulai pada 19 Maret dan rampung hanya dalam waktu enam hari, tepatnya pada 24 Maret 2026. Teknologi yang digunakan berupa pemasangan pompa listrik Electric Submersible Pump (ESP) di kedalaman sekitar 2.023–2.026 meter.

Tak hanya cepat, proyek ini juga tergolong hemat. Realisasi biaya tercatat sebesar USD 82.824, atau sekitar 99 persen dari anggaran yang disetujui.

Keberhasilan ini menjadi sinyal kuat bahwa strategi revitalisasi sumur idle dapat menjadi solusi cepat untuk meningkatkan produksi minyak nasional di tengah tantangan eksplorasi baru yang lebih kompleks dan mahal.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Djoko berharap performa sumur dapat bertahan dalam jangka waktu panjang tanpa kendala seperti water coning yang kerap menjadi momok dalam produksi minyak.

“Mohon doa agar produksi bertahan cukup lama,” ujarnya.

Capaian ini menambah optimisme terhadap upaya peningkatan lifting migas nasional. Di tengah tekanan penurunan produksi alamiah, inovasi dan efisiensi menjadi kunci.

Semangat pun digaungkan dari laporan tersebut:

“Bersama kita BISA. Lifting naik: BISA, BISA, BISA.”

Sebuah pesan sederhana, namun penuh makna—bahwa bahkan sumur yang “tertidur” pun masih bisa menjadi harapan baru bagi ketahanan energi Indonesia.