SICO Ungkap Strategi 2026: Kejar Margin, Perluas SPBU, dan Jajaki Bisnis Kendaraan Listrik

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Selatan, Jakarta, ruangenergi.com— PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) memaparkan arah bisnis dan strategi perusahaan ke depan dalam ajang Public Expose 2026 yang digelar secara daring pada 9 April lalu. Di tengah pertumbuhan pendapatan yang signifikan, perusahaan menegaskan fokus pada peningkatan kualitas profit dan ekspansi bisnis energi yang lebih berkelanjutan.

Dalam paparan tersebut, manajemen mengungkapkan bahwa pendapatan perusahaan melonjak 38% secara tahunan, dari Rp111,07 miliar menjadi Rp154,18 miliar. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, margin laba justru mengalami penurunan.

Direktur SICO, Vita Diani Satiadhi, menjelaskan bahwa tekanan margin bukan berasal dari kenaikan biaya operasional, melainkan perubahan komposisi bisnis. Kontribusi dari segmen SPBU yang memiliki struktur biaya lebih tinggi menjadi faktor utama tergerusnya margin perusahaan.

“Bisnis SPBU memiliki COGS hingga 80–85%, jauh lebih tinggi dibanding bisnis inti kompresor gas yang berada di kisaran 30–35%,” jelasnya dikutip dari keterbukaan informasi IDX.

SICO juga mengakui bahwa sekitar 80% pendapatannya masih bergantung pada grup Pertamina. Untuk itu, strategi ke depan difokuskan pada penguatan kontrak jangka panjang sekaligus menjaga hubungan dengan pelanggan utama, sembari perlahan membuka peluang di sektor swasta.

Wakil Direktur Utama Benjamin Jordan Wangsaputera menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum perbaikan margin melalui efisiensi dan penguatan bisnis inti.

Langkah yang disiapkan antara lain: Meningkatkan kontribusi bisnis rental kompresor yang memiliki margin lebih tinggi. Optimalisasi harga dan kualitas layanan. Efisiensi operasional, termasuk pengelolaan spare part dan peningkatan produktivitas SDM

“Pertumbuhan tidak hanya harus tinggi, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menariknya, SICO mulai mengarah pada teknologi yang lebih ramah lingkungan. Perusahaan menyebut teknologi kompresor yang digunakan saat ini telah berkontribusi mengurangi emisi dengan memanfaatkan flare gas menjadi energi ekonomis.

Ke depan, SICO bahkan membuka peluang penggunaan kompresor berbasis listrik yang lebih efisien dan rendah emisi.

Dari sisi ekspansi, perusahaan berencana menambah 1–2 SPBU baru pada 2026 setelah sebelumnya sukses mengembangkan SPBU bersama BP di Jakarta Barat.

Tak hanya itu, SICO juga mulai menjajaki peluang bisnis baru di sektor energi masa depan, termasuk pengembangan infrastruktur kendaraan listrik (EV charging).

Direktur Utama Benny menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk masuk ke ekosistem energi baru.

SICO juga melihat peluang besar dari rencana pemerintah melelang 110 blok migas serta reaktivasi sumur tua. Alih-alih menjadi operator, perusahaan memilih tetap fokus sebagai penyedia solusi teknologi kompresi gas.

“Peningkatan aktivitas produksi migas akan mendorong kebutuhan teknologi kompresi, dan di situlah peluang kami,” kata manajemen.

Meski peluang global terbuka, SICO masih memilih memperkuat pasar domestik. Manajemen menilai potensi dalam negeri masih sangat besar dan belum sepenuhnya tergarap.

Dengan kombinasi strategi efisiensi, ekspansi bisnis, dan langkah awal menuju energi rendah karbon, SICO tampaknya tengah bersiap bertransformasi—dari sekadar pemain jasa migas menjadi bagian dari ekosistem energi masa depan.