Ketika Industri Hulu Migas Menjadi Motor Keberlanjutan: PHI Borong Penghargaan PROPER 2025

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di tengah bentangan pesisir Kalimantan yang hijau dan deru mesin produksi migas yang tak pernah benar-benar tidur, ada cerita lain yang tumbuh senyap—tentang bagaimana industri energi berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan keberlanjutan masa depan. Tahun ini, cerita itu datang dari PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dan anak perusahaan serta afiliasinya yang sukses membawa pulang enam penghargaan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol kepatuhan administratif. Di balik trofi berwarna hijau itu, tersimpan pengakuan atas kerja panjang perusahaan dalam mengelola lingkungan hidup dan memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan—bahkan melampaui standar yang diwajibkan pemerintah atau beyond compliance.

Suasana di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (7/4/2026), menjadi saksi ketika Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyerahkan penghargaan kepada para penerima PROPER terbaik nasional.

“PROPER bukan lagi sekadar alat evaluasi administratif. PROPER adalah motor transformasi yang mendorong perusahaan tidak hanya taat, tetapi melampaui ketaatan melalui inovasi, efisiensi sumber daya, dan kontribusi nyata kepada masyarakat,” ujar Hanif dalam sambutannya.

Enam unit operasi PHI yang meraih PROPER Hijau adalah PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) Daerah Operasi Bagian Utara (DOBU), PHKT Daerah Operasi Bagian Selatan (DOBS), PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field, PEP Tarakan Field, dan PEP Sangatta – Lapangan Semberah.

Bagi PHI, pencapaian ini bukan hanya tentang penghargaan, melainkan refleksi dari perubahan cara pandang industri hulu migas terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar wilayah operasi. Di tengah tantangan menjaga produksi energi nasional tetap andal, perusahaan juga dituntut mampu menghadirkan manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

Direktur Utama PHI, Sunaryanto, menyebut keberhasilan ini lahir dari kolaborasi panjang bersama pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Penghargaan ini adalah buah kolaborasi yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan masyarakat di wilayah operasi Perusahaan, dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan ketahanan energi nasional sesuai Asta Cita Pemerintah,” ungkapnya.

Di balik pencapaian tersebut, berbagai program sosial dan lingkungan tumbuh dari kebutuhan nyata masyarakat lokal. Di Tarakan, misalnya, Program AKAR BASAH (Aliansi Kerja Bebas Sampah) mendorong keterlibatan komunitas dalam pengurangan limbah dan pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga. Sementara di Bunyu, program MANTAP BETUL BAH memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan melalui media tanam akar pakis dan pemanfaatan air hujan.

Di wilayah Sangatta, Program ECO STEP menjadi salah satu wajah transformasi pengelolaan lingkungan berbasis efisiensi energi dan konservasi. Adapun di kawasan pesisir Marangkayu, PHKT DOBU menjalankan penguatan ekologi Desa Wisata Kersik melalui penanaman 200 bibit cemara udang di Pantai Biru Kersik—upaya kecil yang menjadi benteng alami kawasan pesisir.

Tak kalah menarik, PHKT DOBS menghadirkan SEMUR CENDAWAN, sebuah inisiatif ketahanan pangan berbasis budidaya jamur yang menghubungkan inovasi pangan dengan pemberdayaan masyarakat. Sedangkan PHM melalui program Wasteco berupaya mengubah limbah organik menjadi energi terbarukan secara efisien dan berkelanjutan.

Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, mengatakan perusahaan terus mendorong lahirnya program-program adaptif yang mampu menjawab tantangan sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasi.

“Capaian ini diharapkan tidak hanya menjadi motivasi untuk mempertahankan standar beyond compliance, tetapi juga mendorong terciptanya nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasi,” ujarnya.

Namun kisah keberlanjutan PHI tidak berhenti pada enam PROPER Hijau. Di sudut lain Kalimantan Timur, PT Pertamina EP Sangasanga Field justru melangkah lebih jauh dengan meraih PROPER Emas—kategori tertinggi dalam penilaian kinerja lingkungan perusahaan.

Bagi Sangasanga Field, penghargaan itu menjadi istimewa karena berhasil diraih dua tahun berturut-turut. Program unggulannya, Ekoriparian Sungai Hitam Lestari (SHL), menjadikan kawasan sempadan sungai bukan sekadar area konservasi, melainkan ruang hidup yang menghubungkan ekologi, edukasi, dan ekonomi masyarakat.

Di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, kawasan SHL kini berkembang dengan zona agroforestri, pembibitan, hingga pengolahan limbah berbasis Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terapung yang mampu menyesuaikan pasang surut sungai. Program ini juga berhasil merawat 120 hektare hutan mangrove yang menyerap ratusan ton emisi karbon setiap tahun.

Senior Manager PEP Sangasanga Field, Sigid Setiawan, menyebut penghargaan tersebut sebagai hasil kerja bersama antara perusahaan dan masyarakat.

“Kami mengimplementasikan inovasi sosial dan lingkungan dalam program CSR perusahaan agar memberikan dampak yang signifikan dan berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.

Dampaknya terasa nyata. Puluhan warga kini terlibat dalam pengelolaan wisata, UMKM, hingga operasional IPAL terapung. Pengolahan limbah yang sebelumnya dianggap rumit perlahan berubah menjadi kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga sungai sebagai sumber kehidupan.

Bagi PHI dan seluruh entitas usahanya, penghargaan PROPER bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi penanda bahwa industri migas modern tak lagi hanya bicara soal produksi dan lifting, tetapi juga tentang bagaimana energi diproduksi dengan tetap menjaga lingkungan dan memberi ruang tumbuh bagi masyarakat sekitar.

Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, perusahaan percaya satu hal: keberlanjutan operasi hanya mungkin tercapai jika lingkungan tetap lestari dan masyarakat di sekitar wilayah kerja ikut tumbuh bersama.