Wow Keren! Pertamina Tarakan Turun ke Sekolah, Bekali Siswa Jurus Lawan Kebakaran

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tarakan, Kaltara, ruangenergi.com-Di sebuah halaman sekolah di Tarakan, suara tawa para siswa mendadak berubah jadi teriakan antusias. Bukan karena jam istirahat, melainkan karena untuk pertama kalinya mereka memegang fire blanket dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), mencoba langsung bagaimana menjinakkan api kecil sebelum berubah menjadi bencana besar.

Pemandangan itu terjadi di SMP Negeri 2 Tarakan, Rabu (17/6), saat PT Pertamina EP melalui Tarakan Field menggandeng Dinas Pemadam Kebakaran Kota Tarakan menggelar edukasi dan simulasi tanggap darurat kebakaran. Program ini menjadi bagian dari PEP Tarakan Goes to School, sebuah inisiatif yang tak sekadar datang membawa materi, tetapi juga pengalaman nyata tentang pentingnya keselamatan.

Bagi banyak siswa, api mungkin hanya identik dengan pelajaran sains atau dapur rumah. Namun di tangan para petugas pemadam, api berubah menjadi pelajaran hidup: bagaimana mengenali bahaya, tetap tenang, dan bertindak cepat.

“Melalui kegiatan edukasi ini, kami berharap dapat menanamkan budaya selamat sejak dini kepada generasi muda demi keselamatan masyarakat dan lingkungan,” ujar Manager Tarakan Field, Cahyo Tri Mulyanto.

Di tengah meningkatnya kesadaran soal keselamatan kerja di industri energi, Pertamina tampaknya ingin membawa pesan itu lebih jauh—masuk ke ruang kelas, menyentuh generasi muda. Sebab, budaya keselamatan tak bisa dibangun instan. Ia harus ditanam, dilatih, lalu dibiasakan.

Kolaborasi dengan petugas pemadam kebakaran membuat sesi ini terasa lebih hidup. Para siswa tak hanya mendengar teori tentang potensi kebakaran, tetapi juga melihat langsung bagaimana api bisa dikendalikan dengan teknik sederhana namun tepat.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Kota Tarakan, Eko Supriyatnoko, menilai langkah ini penting. Menurutnya, kebakaran bukan semata urusan petugas, tetapi tanggung jawab bersama.

“Dengan pemahaman yang baik sejak dini, diharapkan para siswa mampu melakukan tindakan awal yang tepat dan tidak panik ketika menghadapi kondisi darurat,” katanya.

Bagi Pertamina, kegiatan ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Head of Communication Relations & CID Zona 10, Elis Fauziyah, menegaskan bahwa edukasi mitigasi risiko adalah investasi sosial yang nilainya jauh melampaui angka.

“Selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi kondisi darurat, kegiatan ini juga dapat membangun kepedulian bersama terhadap pentingnya keselamatan di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” ujarnya.

Di balik produksi migas yang terus dijaga oleh PT Pertamina Hulu Indonesia bersama SKK Migas, ada pesan yang lebih besar: energi bukan hanya soal menjaga pasokan tetap mengalir, tetapi juga menjaga manusia tetap aman.

Dan di Tarakan hari itu, pelajaran paling penting bukan tentang memadamkan api—tetapi tentang bagaimana mencegah kepanikan, menyelamatkan diri, dan menjaga sesama. Sebab kadang, keberanian pertama lahir dari pengetahuan yang sederhana.