Catat Ya, Minyak RI Belum Habis! CO₂ Bisa Jadi Kunci Kebangkitan Lapangan Tua

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di tengah ambisi pemerintah mengejar produksi minyak nasional 1 juta barel per hari (BOPD) pada 2030, satu “tambang emas” sesungguhnya masih tersimpan rapat di bawah lapangan-lapangan tua Indonesia: minyak yang belum pernah terangkat.

Di saat konsumsi minyak nasional telah menembus lebih dari 1,5 juta barel per hari, produksi domestik justru tertahan di kisaran 600 ribu barel per hari. Ketimpangan ini membuat Indonesia terus bergantung pada impor crude oil dan BBM, yang menjadi beban serius bagi APBN dan ketahanan energi nasional.  

Namun, menurut kajian terbaru, solusi tidak selalu harus datang dari penemuan blok baru. Ada jalan lain yang dinilai lebih cepat, realistis, dan ekonomis: Enhanced Oil Recovery (EOR) menggunakan karbon dioksida atau CO₂-EOR.

Teknologi ini ibarat membuka kembali “brankas” minyak yang selama puluhan tahun terkunci di dalam reservoir. Dalam konsep Original Oil in Place (OOIP), ternyata lapangan minyak yang sudah berproduksi puluhan tahun baru mengeluarkan sekitar 10–35 persen cadangan awalnya. Artinya, mayoritas minyak masih tertinggal di bawah tanah.  

Di sinilah CO₂-EOR bekerja.

Melalui injeksi karbon dioksida ke reservoir, minyak yang semula melekat di batuan bisa kembali bergerak. CO₂ membuat minyak mengembang (oil swelling), menurunkan viskositas, mengurangi tegangan permukaan, hingga dalam kondisi tertentu bisa bercampur hampir sempurna dengan minyak (miscible flooding). Kombinasi inilah yang membuat teknologi ini menjadi salah satu metode paling efektif dalam meningkatkan produksi.

Amerika Serikat sudah membuktikannya. Sejak 1970-an, proyek CO₂-EOR di Permian Basin sukses menghidupkan kembali lapangan-lapangan tua dan kini menyumbang sekitar 300 ribu barel minyak per hari. Kanada dan China juga menjadikan teknologi ini bagian penting dari strategi energi nasional mereka.  

Indonesia sebenarnya bukan pemain baru. Beberapa proyek percontohan sudah berjalan di Jatibarang, Sukowati, dan Gundih. Bahkan sejumlah lapangan seperti Ramba, Betung, hingga Subang mulai dipetakan sebagai kandidat pengembangan.

Sayangnya, langkah Indonesia dinilai masih “gigi satu”.

Padahal potensinya sangat besar. Lapangan Minas, misalnya, memiliki OOIP historis sekitar 8–9 miliar barel. Jika CO₂-EOR mampu menambah recovery hanya 10 persen saja, tambahan produksi bisa mencapai 800–900 juta barel—setara beberapa penemuan lapangan raksasa sekaligus.  

Dari sisi keekonomian, biaya tambahan produksi lewat CO₂-EOR diperkirakan berada di kisaran US$25–55 per barel. Angka ini masih jauh lebih murah dibanding risiko eksplorasi frontier atau laut dalam yang bisa menghabiskan miliaran dolar tanpa jaminan hasil.

Menariknya, CO₂ yang selama ini dianggap limbah dan sumber emisi justru bisa berubah menjadi aset strategis. Gas karbon dari LNG plant, kilang, pabrik pupuk, hingga petrokimia dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi sekaligus disimpan permanen di bawah tanah.

Artinya, Indonesia punya kombinasi langka: sumber CO₂ melimpah, banyak lapangan tua, infrastruktur migas yang sudah tersedia, serta regulasi CCS yang mulai terbentuk.

“Risiko terbesar bukan pada teknologinya, tetapi jika kita tidak melakukan apa-apa,” tulis Haposan Napitupulu, mantan Deputi Perencanaan BPMigas dalam kajiannya kepada ruangenergi.com

Dengan penurunan produksi minyak yang terus berjalan, CO₂-EOR bisa menjadi quick win paling logis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Sebab bisa jadi, masa depan energi Indonesia bukan hanya soal menemukan ladang baru—tetapi tentang keberanian mengangkat kembali minyak yang selama ini kita tinggalkan.