Terobosan Besar SKK Migas! Injeksi Polimer Perdana di Offshore Jadi Senjata Baru Kejar Lifting Minyak

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Industri hulu migas Indonesia kembali mencatat tonggak penting. PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) resmi memulai injeksi perdana bahan kimia (chemical injection) berupa polimer di Lapangan Rama, Rabu (8/7/2026).

Langkah ini menjadi sejarah karena merupakan penerapan pertama teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (C-EOR) di lapangan lepas pantai (offshore) Indonesia.

Kabar menggembirakan tersebut disampaikan Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, dalam laporan Good News kepada Menteri ESDM, Wakil Menteri ESDM, Komite Pengawas SKK Migas, dan jajaran pimpinan.

Menurut Djoko, penerapan teknologi C-EOR di Lapangan Rama merupakan upaya strategis untuk mengembalikan kejayaan salah satu lapangan minyak legendaris Indonesia yang telah berproduksi sejak 1975.

Pada masa puncaknya, Lapangan Rama mampu menghasilkan sekitar 60 ribu barel minyak per hari (BOPD). Namun, seiring bertambahnya usia lapangan, produksinya terus mengalami penurunan. Setelah melalui tahap secondary recovery dengan injeksi air (waterflood), produksi sempat bertahan di kisaran 12.600 BOPD, sebelum kembali merosot hingga kini hanya sekitar 3.500 BOPD.

Kini, harapan baru datang melalui teknologi tertiary recovery menggunakan polimer.

Polimer diinjeksikan ke dalam reservoir untuk membantu melepaskan minyak yang masih melekat pada pori-pori batuan. Setelah minyak terlepas, air injeksi akan mendorongnya menuju sumur produksi sebelum akhirnya diangkat ke permukaan menggunakan Electric Submersible Pump (ESP).

Yang menarik, teknologi ini dipilih karena sangat sesuai diterapkan di fasilitas lepas pantai yang memiliki keterbatasan ruang. Seluruh sistem injeksi cukup ditempatkan dalam kontainer-kontainer khusus di atas platform eksisting tanpa memerlukan pembangunan fasilitas besar.

Lebih dari itu, penerapan C-EOR dinilai memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Selama hampir 50 tahun berproduksi, Recovery Factor (RF) Lapangan Rama baru mencapai sekitar 38 persen. Artinya, masih terdapat sekitar 62 persen minyak yang tersimpan di dalam reservoir dan berpotensi diproduksikan melalui teknologi peningkatan perolehan minyak.

Optimisme tersebut bukan tanpa dasar. Berdasarkan hasil uji coba (pilot project), teknologi C-EOR mampu meningkatkan recovery factor hingga 8,63 persen. Jika implementasi berjalan sesuai harapan, produksi Lapangan Rama diproyeksikan melonjak hampir tiga kali lipat, dari sekitar 3.500 BOPD menjadi mendekati 10.000 BOPD.

Program ini juga merupakan bagian dari Komitmen Kerja Pasti (KKP) yang telah ditetapkan dalam keputusan pemerintah dan perjanjian kerja antara SKK Migas dan PHE OSES.

Keberhasilan injeksi perdana ini sekaligus menandai babak baru pemanfaatan teknologi Enhanced Oil Recovery di Indonesia. Sebelumnya, teknologi C-EOR telah diuji di sejumlah lapangan darat, seperti Lapangan Tanjung di Kalimantan, lapangan milik Medco di Sumatra, Petrogas di Papua, serta uji lapangan di Lapangan Minas yang dikelola Pertamina Hulu Rokan menggunakan kombinasi bahan kimia alkali, surfaktan, dan polimer.

Kini, untuk pertama kalinya teknologi tersebut naik kelas ke wilayah offshore—sebuah pencapaian yang diharapkan membuka peluang revitalisasi banyak lapangan minyak tua di perairan Indonesia.

SKK Migas berharap injeksi polimer ini segera memberikan tambahan produksi dalam waktu yang tidak terlalu lama sehingga dapat memperkuat target peningkatan lifting minyak nasional.

“Bersama kita BISA. Lifting naik, BISA… BISA… BISA,” demikian semangat yang disampaikan Djoko Siswanto dalam laporannya, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com