Gas Mengalir, Ekonomi Bergerak! Pipa Dusem Jadi Tulang Punggung Swasembada Energi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Medan, Sumut, ruangenergi.com – Pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur energi sebagai fondasi menuju swasembada energi nasional.

Salah satu proyek yang kini menunjukkan kemajuan signifikan adalah Pipa Transmisi Gas Bumi Dumai–Sei Mangkei (Dusem), yang hingga akhir Juli 2026 berhasil mencatat progres fisik 37,494 persen, melampaui target yang telah ditetapkan.

Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digarap Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM ini menjadi tulang punggung pemerataan pasokan gas bumi domestik sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui penyediaan energi yang lebih bersih bagi industri dan masyarakat.

Komitmen pemerintah memastikan proyek berjalan sesuai rencana terlihat dari kunjungan lapangan Inspektur Jenderal Kementerian ESDM, Yudhiawan, ke lokasi pembangunan Pipa Dusem Segmen 1 pada Jumat (31/7). Dalam peninjauan tersebut, ia menegaskan bahwa percepatan proyek harus tetap mengedepankan transparansi, kepatuhan terhadap standar operasional, keselamatan kerja, serta tata kelola yang bersih.

“Program swasembada energi merupakan amanat Presiden untuk menopang perekonomian masyarakat. Kunci proyek nasional ini adalah tidak boleh mangkrak, tepat waktu, tepat biaya, serta terhindar dari kebocoran anggaran maupun potensi korupsi. Kami dari Inspektorat Jenderal akan terus melakukan pendampingan dan penjaminan agar proyek berjalan bersih dari penyimpangan,” ujar Yudhiawan, seperti dikutip dari website Migas.

Menurutnya, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari capaian fisik, tetapi juga dari integritas dalam pelaksanaannya. Karena itu, pengawasan akan dilakukan secara menyeluruh agar pembangunan dapat selesai sesuai jadwal tanpa mengorbankan kualitas maupun akuntabilitas.

Pipa Transmisi Gas Bumi Dusem dirancang membentang sepanjang sekitar 535,4 kilometer, menghubungkan Stasiun Labuhan Batu hingga Fasilitas Duri. Infrastruktur ini ditargetkan rampung pada akhir 2027 hingga awal 2028 dan akan menjadi salah satu jaringan transmisi gas terbesar di Pulau Sumatera.

Pekerjaan konstruksi dibagi dalam dua segmen yang dikerjakan secara paralel. Segmen 1 menghubungkan Belawan dengan Stasiun Labuhan Batu sepanjang sekitar 268,7 kilometer, sedangkan Segmen 2 menghubungkan Stasiun Labuhan Batu hingga Fasilitas Duri.

Pembangunan Segmen 1 dipercayakan kepada konsorsium KSO Wijaya Karya–Nindya Karya, dengan pengawasan konstruksi oleh KSO Surveyor Indonesia–PT Tata Guna Patria. Untuk memastikan kualitas teknis, Ditjen Migas juga melibatkan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam proses mitigasi risiko selama pelaksanaan proyek.

Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas, Agung Kuswardono, mengatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas lembaga agar berbagai kendala di lapangan dapat segera diatasi.

Menurutnya, struktur organisasi proyek telah disusun secara lengkap, mulai dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), konsultan manajemen konstruksi, tim akademisi, hingga kontraktor pelaksana.

“Terkait kendala lahan dan perizinan lintas instansi, hari ini segera kami finalisasi Perjanjian Kerja Sama (PKS) seperti dengan pihak PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT) dan Belmera sehingga besok tim sudah bisa langsung bekerja penuh di lapangan,” kata Agung.

Langkah tersebut diharapkan mampu menghilangkan hambatan administrasi yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama pembangunan infrastruktur berskala besar.

Proyek Dusem dibangun menggunakan pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan target masa pelaksanaan selama 22 bulan. Menariknya, proyek ini juga mencatat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 60,9 persen, menunjukkan besarnya keterlibatan industri nasional dalam pembangunan infrastruktur strategis tersebut.

Ke depan, jaringan Pipa Transmisi Gas Bumi Dusem diharapkan menjadi penghubung penting distribusi gas bumi di Sumatera, memperkuat ketahanan energi nasional, memperluas akses energi bersih, sekaligus meningkatkan daya saing industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.

Dengan progres yang telah melampaui target, proyek ini menjadi salah satu indikator bahwa percepatan pembangunan infrastruktur energi nasional mulai menunjukkan hasil nyata.