Bojonegoro, ruangenergi.com– Gas bumi kini bukan lagi sekadar sumber energi yang berada di bawah tanah Bojonegoro. Bagi ribuan warga, gas tersebut mulai hadir langsung di rumah dan tempat usaha melalui jaringan gas (jargas).
Sebanyak 16.200 sambungan jargas telah terpasang di Bojonegoro. Pemanfaatannya pun mulai dirasakan dari dapur rumah tangga hingga operasional restoran.
Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari menilai keberadaan jargas telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, ia mendorong agar jumlah sambungan terus ditambah.
“Kami ucapkan terima kasih kepada BPH Migas, melihat bagaimana 16.200 sambungan jargas selama ini sudah terpasang di Bojonegoro, ternyata juga sudah dimanfaatkan dengan maksimal,” ujar Ratna.
Ia berharap dukungan pemerintah terhadap pengembangan jargas terus diperkuat sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati energi berbasis gas bumi.
“Kami mewakili masyarakat Bojonegoro, mohon support-nya supaya bisa ditambah lagi sambungan jargas dan bisa membantu perekonomian masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum,” katanya.
Jargas saat ini telah beroperasi di Kecamatan Bojonegoro, Ngasem, dan Gayam. Ketiga wilayah tersebut masuk dalam area operasional PGN Sales and Operation Regional (SOR) III.
General Manager PGN SOR III Hedi Hedianto mengatakan keberhasilan pengoperasian jargas merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPH Migas, serta masyarakat.
“Ini adalah sinergi Pemerintah termasuk BPH Migas, Pemerintah Daerah, dan tokoh-tokoh masyarakat. Sehingga kami bisa menjalankan penugasan dari Pemerintah untuk menyalurkan gas bumi melalui pipa kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hedi, PGN akan terus menjaga keandalan pasokan dan infrastruktur gas bumi sekaligus memastikan pelayanan kepada pelanggan tetap optimal.
“Bersama-sama memastikan pelayanan terbaik untuk mendukung asta cita pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional,” katanya.
Namun, angka-angka soal jumlah sambungan menjadi lebih bermakna ketika manfaatnya dirasakan langsung oleh pengguna.
Suharsini (54), salah seorang pelanggan rumah tangga, misalnya. Ia mengaku penggunaan jargas membuat aktivitas memasak menjadi lebih praktis sekaligus menghilangkan kekhawatiran ketika terjadi kelangkaan LPG tabung.
“Satu hari itu saya lima kali pemakaian memasak air panas, dan kita gak usah bingung cari gas (tabung) kalau ada kelangkaan,” ujarnya.
Menurut Suharsini, selama menggunakan jargas PGN tidak ada kendala berarti. Ia menyebut tarif sekitar Rp4.250 per meter kubik masih cukup terjangkau.
Manfaat jargas juga mulai terasa bagi pelaku usaha mikro.Dwi Merawati (46) mengatakan penggunaan jargas membuat pengeluaran energinya lebih mudah dikendalikan. Dalam sebulan, ia mengeluarkan sekitar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu untuk kebutuhan gas.
“Menurut saya memang jargas lebih mudah,” katanya.
Jika bagi rumah tangga manfaatnya adalah kemudahan dan kepastian pasokan, bagi dunia usaha jargas menawarkan satu keuntungan lain: efisiensi biaya operasional.
Hal itu dirasakan Ahmad Arief Mardianto (48), pengguna jargas pelanggan kecil di sebuah restoran cepat saji.
Sebelum menggunakan jargas, restoran tempatnya bekerja harus mengeluarkan biaya rata-rata Rp8,3 juta per bulan untuk gas tabung.
Setelah beralih menggunakan jargas PGN, pengeluaran tersebut turun menjadi sekitar Rp5,5 juta per bulan dengan tarif sekitar Rp10 ribu per meter kubik.
Dengan demikian, penghematan yang dirasakan mencapai sekitar Rp2,8 juta setiap bulan.
“Sebagai salah satu karyawan di restoran yang berlangganan jargas dari PGN, selama ini pelayanan sangat baik. Dulu pakai gas tabung pengeluaran rata-rata Rp8,3 juta, setelah pakai jargas kita bisa saving (hemat) dengan per bulan habis rata-rata Rp5,5 juta,” ujarnya.
Tak hanya soal biaya, Ahmad juga menilai jargas lebih praktis dari sisi penggunaan.
“Dari segi keamanan, jargas lebih aman, tinggal narik tuas saja itu sudah bisa lancar,” katanya.
Cerita dari rumah tangga, UMKM, hingga restoran tersebut memperlihatkan bahwa manfaat jargas tidak berhenti pada urusan memasak.
Gas bumi yang dialirkan melalui pipa secara langsung dapat menjadi energi yang lebih praktis sekaligus membantu menekan biaya produksi.
Dengan 16.200 sambungan yang telah terpasang, Bojonegoro kini memiliki modal penting untuk memperluas pemanfaatan gas bumi. Tantangannya tinggal bagaimana jaringan tersebut terus diperluas agar semakin banyak warga dan pelaku usaha bisa merasakan manfaatnya.
Bagi daerah penghasil migas seperti Bojonegoro, gas bumi yang mengalir ke rumah dan tempat usaha bukan sekadar soal energi. Ia juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan manfaat sumber daya alam lebih dekat ke masyarakat.

