CNG Jadi Energi Andalan Baru: PGN Gagas Bidik Industri hingga MBG

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Yogyakarta, ruangenergi.com — Gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) kian menemukan ruang dalam ekosistem energi Indonesia. Selama lebih dari satu dekade, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya, Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), terus mengembangkan CNG untuk menjawab kebutuhan energi industri, komersial, UMKM hingga transportasi.

Bagi PGN Gagas, CNG bukanlah energi yang hadir untuk menggantikan jenis energi lain. Sebaliknya, CNG ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem energi nasional yang saling melengkapi sesuai kebutuhan dan karakteristik pengguna.

Sebagai bagian dari Subholding Gas Pertamina, PGN Gagas menyatakan komitmennya untuk tumbuh bersama berbagai jenis energi, dengan pengembangan yang tetap mempertimbangkan keekonomian, kesiapan infrastruktur dan kebutuhan pasar.

Sepanjang 2025, PGN Gagas menyalurkan sekitar 4.656.449 MMBTU gas bumi melalui layanan CNG dan LNG untuk berbagai segmen pelanggan.

Dari sisi infrastruktur, perusahaan mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di tujuh provinsi. Layanan Gasku bahkan mencatat rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari.

Sementara layanan Gaslink untuk pelanggan industri, komersial dan UMKM telah menjangkau lebih dari 600 pelanggan, dengan total penyaluran mencapai sekitar 4.067.002 MMBTU sepanjang 2025.

Fondasi pengembangan itu diperkuat dengan fasilitas kompresi gas, armada Gas Transport Module (GTM), serta berbagai infrastruktur pendukung. Infrastruktur tersebut menjadi modal penting untuk memperluas pemanfaatan CNG secara bertahap.

Yogyakarta Jadi Salah Satu Pasar Utama

Salah satu kawasan yang menunjukkan geliat pemanfaatan CNG adalah Jawa Tengah bagian selatan. Berdasarkan data pengembangan CNG Point to Point, PGN Gagas saat ini mencatat 20 pelanggan dengan total volume penyaluran sekitar 74.000 meter kubik per bulan.

Layanannya mencakup sejumlah titik di Sukoharjo, Yogyakarta dan Magelang.

Yogyakarta menjadi salah satu pasar penting. Salah satu pelanggan dengan kebutuhan volume terbesar adalah Bakpia Tugu Jogja, yang menyerap sekitar 50.000 m³.

Selain itu, terdapat Payakumbuh Jogja dengan kebutuhan sekitar 2.000 m³ dan Platinum Hotel sekitar 1.500 m³.

Di Sukoharjo, pemanfaatan CNG antara lain dilakukan Bening Big Tree dengan kebutuhan sekitar 3.000 m³. Sebanyak 12 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga tercatat dengan total kebutuhan sekitar 12.000 m³, sementara Aston Hotel Solo menyerap sekitar 1.500 m³.

Di Magelang, CNG dimanfaatkan dua titik SPPG dengan volume sekitar 2.000 m³ serta PGN Balkondes dengan kebutuhan sekitar 2.000 m³.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pasar CNG tidak lagi semata-mata bertumpu pada sektor industri besar. Kebutuhan energi untuk fasilitas pelayanan masyarakat, termasuk dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai menjadi bagian dari pasar yang berkembang.

46 Dapur MBG Gunakan CNG

Setidaknya 46 SPPG atau dapur MBG kini telah memanfaatkan CNG sebagai bahan bakar operasional. Sebarannya mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat hingga Batam.

Salah satunya SPPG Cepit Kulon di Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Magelang, Jawa Tengah. SPPG yang dikelola Yayasan Cahaya Arsa Madani tersebut menjadi pelanggan PGN Gagas dalam pengembangan bisnis CNG Point to Point.

Kepala SPPG Cepit Kulon, Achmad Chairul Jaza, mengatakan pemanfaatan CNG menjadi bagian dari upaya memastikan kebutuhan energi operasional dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

SPPG Cepit Kulon telah menggunakan CNG sejak mulai beroperasi pada 25 September 2025.

“Ketika kegiatan produksi meningkat, kebutuhan energinya juga dapat meningkat. Karena itu, yang penting bagi kami adalah memastikan layanan energi dapat mendukung kegiatan SPPG secara konsisten,” kata Achmad.

Tantangan Utama: Infrastruktur SPBG

Di balik peluang tersebut, PGN Gagas melihat masih ada tantangan besar dalam memperluas pemanfaatan CNG, yakni ketersediaan infrastruktur Gas Station atau SPBG.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, mengatakan keberadaan SPBG menjadi salah satu faktor penting agar pengembangan CNG dapat dilakukan secara lebih merata.

Saat ini SPBG telah tersedia di sejumlah wilayah Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Namun, persebarannya masih belum mencakup seluruh wilayah Indonesia.

“Itulah yang menyebabkan CNG belum bisa merata ke seluruh wilayah Indonesia. Terbatas Jawa, Sumatra, Kalimantan, sama Bali. Makanya kalau memang CNG komitmen berniat, kalau bisa di beberapa wilayah harus ada SPBG-SPBG yang untuk bisa menciptakan CNG,” tegas Santiaji.

Menurut dia, perluasan infrastruktur SPBG akan menjadi salah satu kunci agar ekosistem CNG dapat berkembang lebih luas.

Keselamatan Jadi Harga Mati

Pengembangan CNG juga bukan tanpa risiko. Santiaji mengakui bisnis ini memiliki paparan risiko tinggi sehingga aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama.

Mulai dari fasilitas, pengoperasian hingga sumber daya manusia harus memenuhi standar kompetensi yang memadai.

“CNG merupakan bisnis dengan paparan risiko tinggi. Karenanya, aspek keamanan harus benar-benar maksimal,” ujarnya.

Bahkan, kompetensi tidak hanya berlaku bagi operator, tetapi juga pengemudi yang menangani distribusi CNG.

“Sampai ke driver-nya, nggak bisa asal-asalan. Jadi operator Gagas bersertifikat dan sudah ahli dalam bidang CNG,” kata Santiaji.

Dengan kombinasi antara perluasan infrastruktur, penguatan kompetensi SDM dan pertumbuhan pasar, PGN Gagas melihat CNG masih memiliki ruang untuk berkembang dalam peta energi nasional.

Dari kawasan industri hingga hotel, dari UMKM hingga dapur MBG, CNG perlahan mengambil peran sebagai energi alternatif yang fleksibel—mengisi ruang yang membutuhkan pasokan gas bumi ketika jaringan pipa belum menjangkaunya.

Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana menjual CNG, melainkan bagaimana membangun infrastrukturnya agar energi tersebut bisa hadir lebih dekat dengan masyarakat dan dunia usaha.