Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Babak baru pengembangan migas non-konvensional (MNK) di Indonesia mulai terbuka. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) langsung tancap gas mengembangkan shale oil setelah menandatangani Kontrak Bagi Hasil (KBH) MNK bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kabar tersebut pada Selasa, 25 Agustus 2026. Menurutnya, penandatanganan KBH MNK Shale Oil PHR menjadi momentum penting karena membuka jalan bagi pengembangan sumber daya migas non-konvensional yang selama ini belum dikembangkan secara komersial di Indonesia.
“Alhamdulillah,” ujar Djoko dalam laporannya, seraya menyebut penandatanganan KBH dilakukan oleh Kepala SKK Migas dan Direktur Utama PHR, disaksikan Direktur Utama Pertamina Hulu Energi (PHE) serta jajaran manajemen SKK Migas.
Langkah ini berlangsung setelah Menteri ESDM menerbitkan SK Terms & Conditions (T&C) WK Migas Non-Konvensional, yang antara lain memberikan ruang bagi porsi bagi hasil kontraktor lebih dari 50%.
PHR Segera Bor Dua Sumur
Tak ingin berlama-lama, PHR disebut langsung mempersiapkan pengeboran dua sumur eksplorasi deliniasi/appraisal untuk menindaklanjuti keberhasilan pengeboran sumur Gulamo dan Kelog di wilayah kerja PHR.
Dari kegiatan sebelumnya, PHR menemukan potensi sumber daya minyak yang disebut mencapai 11,3 miliar barel oil equivalent. Angka tersebut menjadi salah satu dasar optimisme untuk melanjutkan tahapan eksplorasi dan pengembangan MNK shale oil.
Setelah pengeboran deliniasi selesai, produksi minyak ditargetkan dapat segera dimulai pada tahun ini sembari menunggu persetujuan Plan of Development (POD) I.
Jika terealisasi sesuai rencana, langkah tersebut akan menjadi catatan penting dalam sejarah industri hulu migas Indonesia.
Tonggak Sejarah MNK Indonesia
Djoko menyebut pengembangan MNK shale oil ini menjadi yang pertama dalam sejarah Indonesia. Momentum tersebut melengkapi perkembangan MNK lainnya, setelah sebelumnya POD-1 MNK Coal Bed Methane (CBM) ditandatangani pada Wilayah Kerja (WK) yang dikelola KKKS Dart Energy di Tanjung Enim, Sumatera.
Bagi SKK Migas, pengembangan MNK bukan sekadar proyek baru. Sektor ini dipandang sebagai salah satu sumber pertumbuhan produksi migas ketika produksi migas konvensional menghadapi tantangan penurunan alamiah.
“Pengembangan MNK di Indonesia akan menjadi tonggak sejarah dimulainya era baru pengembangan hulu migas,” kata Djoko.
Harapannya, sumber daya shale oil dan CBM yang selama ini belum optimal dikembangkan dapat menjadi tambahan amunisi bagi ketahanan energi nasional.
Optimisme pun diarahkan lebih jauh. Indonesia diharapkan suatu saat mampu mengembangkan MNK dengan skala yang tidak kalah dari negara-negara yang telah lebih dulu maju dalam teknologi tersebut, seperti Amerika Serikat dan Australia.
“Insya Allah pada saatnya nanti MNK di Indonesia akan menyamai MNK oil di Amerika atau Australia, bahkan melebihinya,” ujar Djoko.
Dengan penandatanganan KBH, pengeboran dua sumur deliniasi, serta rencana produksi pada tahun ini, pengembangan shale oil PHR kini memasuki fase yang jauh lebih konkret.
Bukan lagi sekadar potensi di bawah permukaan, MNK mulai diarahkan menjadi sumber produksi baru Indonesia.
Doa dan kerja keras kini menjadi satu paket: lifting naik, Indonesia bisa.

