FSPPB Dorong PDSI Naik Kelas: Jadi National Drilling Champion Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Indramayu, Jawa Barat, ruangenergi.com — Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) mendorong PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) diperkuat menjadi National Drilling Champion Indonesia di tengah transformasi dan streamlining Pertamina Subholding Upstream.

FSPPB menilai PDSI memiliki modal strategis untuk mengambil peran tersebut. Bukan hanya dari sisi aset dan skala operasi, tetapi juga pengalaman panjang, kompetensi sumber daya manusia, teknologi, engineering capability, hingga intellectual capital pengeboran yang telah dibangun Pertamina selama puluhan tahun.

Pandangan itu mengemuka dalam Sarasehan Energi HUT ke-16 Serikat Pekerja PT Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI) di Indonesia Drilling Training Center (IDTC) PDSI, Mundu, Indramayu, Jawa Barat.

Forum tersebut dihadiri Presiden FSPPB Arie Gumilar, aktivis energi Ugan Gandar, pengamat energi nasional, Ketua Umum SP PDSI, serta perwakilan serikat pekerja konstituen FSPPB.

Mereka membahas masa depan bisnis pengeboran, transformasi Pertamina Subholding Upstream, ketahanan energi, serta posisi strategis PDSI dalam ekosistem hulu migas nasional.

Streamlining Jangan Sekadar Pangkas Struktur

Presiden FSPPB Arie Gumilar menegaskan, pihaknya mendukung transformasi Pertamina sepanjang dilakukan berdasarkan rasionalitas bisnis dan bertujuan memperkuat perusahaan.

Menurutnya, streamlining tidak boleh dimaknai sebatas pengurangan struktur atau peleburan entitas.

“Streamlining tidak boleh berhenti pada pengurangan struktur atau peleburan entitas. Ukurannya adalah apakah transformasi tersebut menghasilkan Pertamina yang lebih kuat, lebih efisien, lebih produktif, lebih andal, serta mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perusahaan, negara, dan rakyat Indonesia,” ujar Arie.

FSPPB memandang kemampuan pengeboran merupakan salah satu kapabilitas paling strategis dalam rantai bisnis hulu migas.

Sebab, besarnya sumber daya migas Indonesia tidak otomatis menjadi kekuatan energi apabila tidak diikuti kemampuan untuk menemukan, membuktikan, mengembangkan, mengebor, memproduksikan, dan mempertahankan produksi secara berkelanjutan.

Karena itu, drilling harus ditempatkan sebagai strategic capability, bukan sekadar fungsi penunjang atau komponen biaya.

Bukan Sekadar Rig, Ada Intellectual Capital

Menurut FSPPB, kekuatan terbesar PDSI bukan hanya terletak pada armada rig dan peralatan pengeboran. Di balik aset fisik tersebut terdapat pengetahuan dan pengalaman yang dibangun melalui perjalanan panjang industri hulu migas Pertamina.

Kapabilitas itu mencakup engineering, pengalaman operasi, budaya HSSE, penguasaan teknologi drilling, project management, pemahaman karakteristik lapangan migas, hingga berbagai lessons learned dari operasi pengeboran di Indonesia.

“Yang harus kita jaga bukan hanya rig atau aset fisiknya. Yang jauh lebih penting adalah ekosistem pengetahuan dan kompetensi yang telah dibangun Pertamina selama puluhan tahun,” tegas Arie.

Menurutnya, engineering capability, pengalaman operasi, teknologi, HSSE culture, dan insan drilling merupakan strategic intellectual capital bangsa yang harus terus dikembangkan.

Dalam konteks tersebut, keberadaan Indonesia Drilling Training Center (IDTC) dinilai memiliki posisi penting. Pusat pelatihan tersebut menjadi bagian dari ekosistem pengembangan kompetensi melalui pelatihan, asesmen, sertifikasi, dan regenerasi tenaga pengeboran.

Armada 58 Rig Jadi Modal Besar

Dari sisi skala operasi, PDSI disebut memiliki kekuatan signifikan dengan 58 unit rig yang mampu mendukung kegiatan pengeboran onshore maupun offshore di berbagai wilayah operasi.

Skala tersebut dinilai membuka ruang bagi PDSI untuk menciptakan economies of scale, meningkatkan utilisasi aset, memperkuat standardisasi operasi dan HSSE, menekan biaya, mempercepat mobilisasi, serta mengintegrasikan teknologi dan digitalisasi.

Bagi FSPPB, konsolidasi kemampuan drilling dalam satu entitas dengan kompetensi, pengalaman, fokus, dan skala besar justru dapat menjadi instrumen untuk mencapai tujuan streamlining.

“Efisiensi bukan berarti menghilangkan capability. Efisiensi adalah bagaimana capability yang kita miliki dikonsolidasikan, dioptimalkan, dan dibuat semakin produktif,” kata Arie.

Ia menilai PDSI memiliki peluang besar menjadi center of excellence pengeboran Pertamina sekaligus Indonesia.

Dari Drilling Company Menjadi National Champion

FSPPB menegaskan, konsep National Drilling Champion bukan semata-mata tentang memperbesar perusahaan atau menambah jumlah aset.

Lebih dari itu, National Drilling Champion harus memiliki kemampuan menyediakan solusi pengeboran yang aman, andal, efisien, kompetitif, berbasis teknologi, adaptif, terintegrasi, serta mampu menangani berbagai tingkat kompleksitas lapangan.

PDSI juga didorong memperkuat kemampuan one stop drilling solution, integrated project management, associated drilling services, digital drilling, serta teknologi pengeboran.

Kemampuan tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan Pertamina Group dan industri migas nasional, tetapi juga menjadi modal untuk menembus pasar internasional.

“National Drilling Champion bukan tentang membesarkan satu perusahaan untuk kepentingan perusahaan itu sendiri. Ini adalah tentang membangun dan menjaga strategic national capability,” ujar Arie.

Menurutnya, semakin kuat kemampuan drilling nasional, semakin besar pula kemampuan Indonesia menjaga keberlanjutan produksi migas dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain.

Transformasi Jangan Menghilangkan Capability

FSPPB menyatakan siap menjadi mitra strategis manajemen dalam proses transformasi dan streamlining Pertamina Subholding Upstream.

Namun, organisasi pekerja tersebut meminta setiap desain transformasi didasarkan pada kajian bisnis yang objektif, transparan, dan terukur, dengan tetap mempertimbangkan operational excellence serta kepentingan jangka panjang Pertamina.

Transformasi juga dinilai harus mencegah hilangnya kompetensi, fragmentasi knowledge, penurunan operational capability, maupun melemahnya kemampuan strategis yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

“Kami mendukung perubahan yang membuat Pertamina semakin baik. Tetapi transformasi harus memperkuat capability, bukan justru menghilangkannya. Kompetensi yang sudah dibangun puluhan tahun harus menjadi fondasi untuk membawa Pertamina naik kelas,” tegas Arie.

Tantangan industri hulu migas ke depan dinilai semakin kompleks. Peningkatan produksi nasional membutuhkan aktivitas eksplorasi dan pengeboran yang lebih agresif, mulai dari pengembangan lapangan mature, eksplorasi new frontier, deepwater, unconventional resources, hingga wilayah dengan kompleksitas teknis tinggi.

Kondisi tersebut membutuhkan perusahaan drilling nasional yang memiliki technology ownership, operational excellence, skilled workforce, financial strength, serta kemampuan project execution berkelas dunia.

“Visinya harus lebih jauh. PDSI jangan hanya menjadi drilling company Pertamina. Kita harus membangun PDSI menjadi National Drilling Champion Indonesia yang suatu saat berdiri sejajar dengan perusahaan drilling kelas dunia,” pungkas Arie.

FSPPB meyakini penguatan PDSI sebagai National Drilling Champion merupakan bagian dari strategi lebih besar untuk memperkuat Pertamina sebagai perusahaan energi nasional terintegrasi, mendorong peningkatan produksi migas, menjaga ketahanan energi, sekaligus memastikan kapabilitas strategis pengelolaan energi tetap dimiliki dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia.