Gilimanuk, Bali, ruangenergi.com– Indonesia memasuki babak baru dalam percepatan transisi energi. Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp pada Selasa (25/8/2026).
Peluncuran yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden itu menjadi salah satu langkah besar pemerintah dalam mengejar target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Dari total 100 GWp tersebut, pemerintah menargetkan 80 GW PLTS tersebar dan 20 GW PLTS terpusat.
Presiden Prabowo bahkan memasang target agresif. Ia menegaskan pembangunan 100 GW PLTS harus dapat direalisasikan dalam waktu tiga tahun.
“Kita akan membangun 100 Gigawatt. Dan kita tidak main-main. Target kita adalah 100 Gigawatt dalam tiga tahun,” tegas Prabowo.
Target tersebut sekaligus menjadi tantangan besar bagi sektor ketenagalistrikan nasional, terutama PT PLN (Persero) sebagai sole off-taker listrik.
Presiden secara khusus meminta Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo memastikan target tersebut dapat terealisasi hingga 2029.
“Siap laksanakan Bapak Presiden!” jawab Darmawan.
Bukan Sekadar Bangun PLTS
Namun, membangun pembangkit energi surya dalam skala 100 GWp bukan hanya persoalan menambah kapasitas pembangkit.
Ada pertanyaan yang tidak kalah penting: siapa yang akan menyerap listrik hijau tersebut?
Di titik inilah Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong strategi demand creation, yakni menciptakan permintaan listrik yang sejalan dengan pertumbuhan pasokan energi terbarukan.
Anggota DEN Satya Widya Yudha menilai industri data center dapat menjadi salah satu sumber permintaan baru yang sangat potensial.
Menurutnya, pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar sekaligus pasokan yang stabil dan andal. Keandalan listrik menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan keputusan investasi industri data center di Indonesia.
“Salah satu requirement dari mereka itu adalah keandalan. Data center itu memerlukan daya yang besar. Mereka bisa tidak investasi di Indonesia jika masalah ini tidak diperhatikan,” ujar Satya.
Dengan kata lain, ekspansi data center dapat berjalan beriringan dengan pengembangan energi terbarukan.
PLTS Terapung Jadi Titik Temu
DEN melihat PLTS terapung sebagai salah satu opsi menarik untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Model ini memiliki keunggulan karena dapat memanfaatkan permukaan waduk atau badan air tanpa harus menyediakan lahan darat dalam skala besar.
Lebih jauh, kawasan waduk juga dapat mendukung kebutuhan infrastruktur data center yang membutuhkan sistem pendinginan atau cooling system.
Konsep integrasi pembangkit energi terbarukan seperti yang dikembangkan di Cirata, yang memadukan PLTA dengan PLTS terapung, dinilai dapat menjadi contoh bagaimana berbagai sumber energi bersih dikombinasikan untuk menghasilkan pasokan listrik yang lebih optimal.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan arah pemerintah yang tengah mendorong PLTS terapung sebagai salah satu lini penting pengembangan energi surya nasional.
DEN dan Industri Data Center Mulai Merapat
Dorongan menciptakan permintaan listrik hijau ini sebelumnya juga dibahas DEN bersama Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO).
Dalam pertemuan tersebut, DEN menyatakan dukungannya terhadap program IDPRO sekaligus mendorong kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, PLN, pelaku data center, dan sektor energi terbarukan.
Industri data center sendiri memiliki kebutuhan listrik yang besar dan terus berkembang seiring akselerasi ekonomi digital.
Jika kebutuhan tersebut dapat dipasangkan dengan pasokan listrik dari energi terbarukan, maka pertumbuhan data center tidak hanya menjadi motor ekonomi digital, tetapi juga dapat menjadi mesin pencipta permintaan energi hijau.
Tantangan Terbesar Ada di Integrasi
Program PLTS 100 GWp akhirnya bukan semata-mata perlombaan membangun pembangkit.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan pembangkit, jaringan listrik, dan konsumen tumbuh secara bersamaan.
PLN harus memastikan tambahan kapasitas PLTS dapat terintegrasi ke dalam sistem kelistrikan nasional. Sementara DEN berperan mendorong terciptanya permintaan baru agar energi hijau yang dihasilkan memiliki pasar dan pemanfaatan yang jelas.
Jika keduanya berjalan beriringan, target 100 GWp bukan hanya menambah kapasitas listrik nasional.
Program ini dapat menjadi fondasi baru bagi Indonesia untuk membangun ekosistem energi bersih—mulai dari PLTS, jaringan listrik, industri data center hingga teknologi penyimpanan energi.
Peluncuran 100 GWp PLTS pun menjadi sinyal kuat bahwa perjalanan Indonesia menuju NZE 2060 mulai memasuki fase yang lebih agresif: bukan hanya membangun pasokan energi hijau, tetapi juga menciptakan permintaan yang mampu menyerapnya.


