Enggano, Bengkulu, ruangenergi.com— Gelombang laut dan cuaca yang tak selalu bersahabat tak menyurutkan langkah Pertamina Patra Niaga menjaga pasokan energi ke Pulau Enggano, Bengkulu.
Pulau terluar yang berada di tengah Samudera Hindia itu kembali menerima pasokan BBM Satu Harga. Kapal pengangkut energi berangkat dari Bengkulu pada Minggu (23/8/2026) sore dan tiba di Enggano pada Senin (24/8/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.
Kali ini, pasokan yang dibawa cukup besar. Terdiri atas 48 kiloliter (KL) Pertalite, 16 KL Solar, 8 KL Minyak Tanah, 150 tabung LPG 12 kilogram, serta 40 tabung LPG 5,5 kilogram.
Bagi masyarakat Enggano, kedatangan kapal bukan sekadar rutinitas distribusi. Pasokan tersebut menjadi penopang aktivitas warga sekaligus memastikan denyut ekonomi di pulau terluar tetap berjalan.
Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan distribusi energi ke wilayah 3T menjadi salah satu prioritas perusahaan.
“Program BBM Satu Harga adalah komitmen nyata Pertamina Patra Niaga dalam memastikan masyarakat di pulau terluar seperti Enggano mendapatkan hak yang sama atas energi, baik secara harga maupun ketersediaan,” kata Rusminto seperti dilaporkan Koresponden Arun Y, ruangenergi.com
Menurut dia, tantangan geografis dan kondisi cuaca laut tidak boleh menjadi alasan terputusnya akses energi masyarakat.
“Meskipun harus menghadapi tantangan geografis dan cuaca laut yang tidak menentu, kami terus memastikan rantai distribusi tetap berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pasokan Datang Tepat Waktu
Kedatangan pasokan tepat waktu mendapat apresiasi warga. Masri Manan, warga Enggano, mengatakan kebutuhan BBM masyarakat sebenarnya relatif tercukupi. Namun, konsumsi bisa melonjak ketika banyak pendatang masuk ke pulau tersebut. 
Salah satunya terjadi ketika mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) datang ke Enggano beberapa waktu lalu.
“Kebutuhan BBM untuk warga lokal sebenarnya sangat cukup. Namun, terkadang ada lonjakan konsumsi saat ada kendaraan dari luar pulau masuk, seperti kedatangan mahasiswa KKN bulan lalu,” kata Masri.
Menurut dia, kedatangan mahasiswa tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. Namun, pada saat yang sama, aktivitas kendaraan dari luar pulau ikut membuat stok BBM lebih cepat terserap.
“Beruntung Pertamina sangat tanggap dan pasokan tiba tepat waktu,” ujarnya.
Sebulan Sekali, Menunggu Laut Bersahabat
Cerita tentang perjuangan menjaga energi di ujung negeri juga terlihat dari aktivitas SPBU Kompak Enggano. SPBU ini menjadi satu-satunya titik pengisian bahan bakar bagi masyarakat di pulau tersebut.

Desi, kasir SPBU Kompak Enggano, mengatakan pasokan BBM dikirim secara rutin setiap bulan. Namun, jadwal tersebut tetap sangat bergantung pada kondisi laut.
“Pengiriman BBM dari kapal tiba tepat waktu, persis satu bulan dari pengiriman sebelumnya pada 24 Juli lalu. Di sini pengiriman memang dilakukan satu bulan sekali dan jalurnya sangat tergantung cuaca,” ujar Desi.
Jika laut tenang, kapal bisa berlayar dan distribusi berjalan lancar. Sebaliknya, badai atau gelombang tinggi dapat membuat pengiriman harus menyesuaikan kondisi alam.
“Kalau laut tenang, pengiriman lancar. Kalau badai, kami warga paham betul situasi tersebut,” katanya.
Untuk menjaga stok tetap tersedia bagi masyarakat, SPBU Kompak Enggano menerapkan pembatasan pembelian harian.
SPBU beroperasi Senin hingga Sabtu, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Setiap mobil dibatasi maksimal membeli 20 liter BBM per hari, sedangkan sepeda motor maksimal 10 liter.
Sistem pengisian pun masih jauh berbeda dibandingkan SPBU di perkotaan.
Pembeli terlebih dahulu membayar di kasir dan mendapatkan kupon. Setelah itu, operator mengambil BBM menggunakan ember sesuai takaran untuk kemudian diserahkan kepada pembeli guna dituangkan ke kendaraan.
Cara yang sederhana tersebut menjadi bagian dari keseharian masyarakat Enggano dalam mendapatkan energi.
Konsekuensinya, antrean biasanya mengular pada hari pertama setelah pasokan kapal tiba. Namun, bagi warga, antrean itu menjadi pemandangan yang jauh lebih baik dibandingkan harus menghadapi kekhawatiran kehabisan BBM.
Di Pulau Enggano, perjalanan BBM dari daratan menuju konsumen memang bukan perkara singkat. Ada laut yang harus diseberangi, cuaca yang harus dibaca, serta stok yang harus dihitung cermat.
Namun, di balik semua itu ada satu pesan sederhana: keadilan energi harus sampai ke mana pun masyarakat Indonesia tinggal, termasuk di pulau terluar seperti Enggano.

