15 Pelajar Aceh Menatap Dunia Energi: Dari Lhokseumawe, Mimpi Besar Dimulai

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Lhokseumawe, Aceh, ruangenergi.com— Mimpi besar tidak selalu lahir dari ruang-ruang megah. Kadang, ia tumbuh dari ruang kelas, dari kota-kota di ujung utara Sumatera, lalu menemukan jalannya menuju dunia yang lebih luas.

Dari Lhokseumawe, Aceh Utara, hingga Bireuen, 15 pelajar Aceh mendapat kesempatan membuka jendela baru menuju masa depan melalui dunia kepemimpinan, pendidikan, dan industri energi.

Kesempatan itu hadir melalui AFS Global Future Leaders Network (AFS GFLN), sebuah program yang didukung Mubadala Energy bersama SKK Migas. Para pelajar tidak sekadar diajak mengenal dunia profesional, tetapi juga didorong untuk melihat lebih jauh kemungkinan masa depan yang bisa mereka bangun.

Bagi Aceh, program ini menjadi cerita penting. Sebab, kekayaan sumber daya alam bukan satu-satunya modal untuk membangun masa depan. Di balik potensi migas, terdapat generasi muda yang perlu mendapatkan ruang untuk belajar, bertumbuh, dan berani menatap dunia.

Komitmen terhadap pengembangan generasi muda Aceh terlihat dari meningkatnya jumlah penerima sponsor program AFS GFLN.

Pada 2026, 15 siswa asal Aceh mendapatkan dukungan untuk mengikuti program tersebut. Angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2025 yang berjumlah enam siswa.

Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut, Yanin Kholison, mengatakan dukungan terhadap AFS GFLN merupakan bagian dari upaya membangun generasi muda Aceh yang percaya diri, kompeten, dan memiliki wawasan global.

“Melalui dukungan Mubadala Energy terhadap Program AFS GFLN yang bekerja sama dengan SKK Migas, sektor industri hulu migas bangga dapat turut membina generasi pemimpin yang percaya diri, kompeten, dan berwawasan global,” kata Yanin.

Menurut Yanin, pengalaman yang diperoleh para peserta diharapkan tidak berhenti pada diri mereka sendiri.

Pengetahuan, jaringan, dan pengalaman yang mereka dapatkan diharapkan suatu saat kembali dibawa ke Aceh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kesempatan mengenal lebih dekat dunia energi hadir ketika ke-15 peserta mengikuti kegiatan “Quality Time” di kantor Mubadala Energy pada 16 September 2026.

Bagi para pelajar, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana industri energi bekerja.

Rangkaian kegiatan diawali dengan safety induction, kemudian dilanjutkan dengan sesi pembukaan bersama Head of Government Technical Alignment Mubadala Energy, Swita Dewi, dan Social Investment Superintendent Ruly Bernaputra.

Presiden Direktur Mubadala Energy, Abdulla Bu Ali, juga menyambut para peserta dan berbagi pandangan mengenai kepemimpinan, proses pembelajaran, serta pentingnya memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

Dari ruang kelas, para siswa kemudian dibawa masuk ke cerita yang lebih besar: bagaimana minyak dan gas ditemukan, dikembangkan, diproduksikan, hingga akhirnya menjadi energi yang digunakan masyarakat.

Tim eksplorasi Mubadala Energy memperkenalkan proses eksplorasi migas, sementara tim proyek memberikan gambaran mengenai Pengembangan Lapangan Gas Tangkulo.

Di titik ini, para pelajar diperkenalkan pada sisi lain industri energi.

Bahwa sebuah proyek migas tidak hanya membutuhkan ahli geologi atau insinyur.

Ada geosains, teknik, teknologi, infrastruktur, keuangan, komunikasi, keberlanjutan, hingga berbagai profesi pendukung yang bekerja di belakang layar.

Dengan kata lain, dunia energi ternyata memiliki begitu banyak pintu bagi generasi muda.

Rasa Ingin Tahu yang Menjadi Modal

Salah satu sesi yang paling hidup adalah tanya jawab.

Para siswa tidak sekadar duduk mendengarkan. Mereka bertanya tentang industri energi, profesi, perjalanan karier, hingga peluang yang mungkin mereka jalani di masa depan.

Tiga siswa yang mewakili Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Bireuen turut membagikan kesan mereka setelah mengikuti kegiatan tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul memperlihatkan satu hal: ketika akses terhadap pengetahuan dan lingkungan profesional terbuka, rasa ingin tahu anak muda dapat berkembang menjadi keberanian untuk membayangkan masa depan.

Bagi Mubadala Energy, pendidikan bukan hanya soal menyampaikan pengetahuan.

Lebih jauh, pendidikan adalah investasi untuk membuka akses terhadap peluang, membangun kepercayaan diri, dan membantu anak muda menemukan potensi mereka.

“Setiap perjalanan besar bermula dari sebuah impian. Dengan menghubungkan kaum muda pada pengalaman, pengetahuan, dan sosok panutan baru, Mubadala Energy berharap dapat menginspirasi mereka untuk mengejar cita-cita dan menjadi pemimpin masa depan yang membawa dampak nyata serta berkelanjutan bagi komunitas mereka,” demikian pesan yang disampaikan dalam program tersebut.

Investasi yang Tak Berhenti di Sumur Migas

Bagi SKK Migas, program ini juga memiliki makna yang lebih panjang.

Manfaat industri hulu migas tidak semestinya hanya dihitung dari berapa banyak minyak dan gas yang diproduksikan.

Ada manfaat lain yang tidak langsung terlihat: manusia yang tumbuh di sekitar wilayah operasi.

Kepala Kelompok Kerja Pengembangan Masyarakat, Divisi Formalitas SKK Migas, Roy Widiartha, mengatakan pendidikan dan pengembangan kepemimpinan merupakan investasi sosial jangka panjang.

“SKK Migas memandang pendidikan dan pengembangan kepemimpinan sebagai investasi sosial jangka panjang. Melalui AFS GFLN, kami ingin membangun jejaring calon pemimpin bangsa dari wilayah operasi migas yang memiliki wawasan global, berakar pada nilai-nilai lokal, dan siap kembali memberikan kontribusi bagi daerahnya,” ujar Roy.

Menurut Roy, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan manfaat kehadiran industri hulu migas tetap tumbuh dan berkelanjutan.

“Inilah salah satu cara kami mempersiapkan agar manfaat kehadiran industri hulu migas tetap tumbuh dan berkelanjutan, bahkan melampaui masa operasi,” katanya.

Dari Aceh untuk Dunia

Dari Lhokseumawe hingga Bireuen, perjalanan 15 pelajar itu mungkin baru dimulai.

Mereka datang dari ruang kelas dengan mimpi yang beragam. Ada yang mungkin kelak menjadi insinyur, ahli energi, pengusaha, peneliti, pemimpin perusahaan, atau bahkan memilih bidang yang sama sekali berbeda.

Namun, satu hal telah mereka dapatkan: kesempatan untuk melihat dunia yang lebih luas.

Industri energi bukan lagi sekadar sesuatu yang mereka dengar dari berita atau buku pelajaran.

Kini mereka melihat langsung bagaimana energi diproduksi, bagaimana sebuah perusahaan bekerja, dan bagaimana banyak profesi berkolaborasi untuk menghadirkan energi bagi masyarakat.

Pada akhirnya, investasi terbesar sebuah industri bukan hanya pada sumur, fasilitas produksi, atau infrastruktur.

Tetapi juga pada manusia.

Dan dari Aceh, 15 pelajar itu sedang memulai perjalanan kecil yang mungkin suatu hari membawa mereka jauh—bahkan hingga ke panggung dunia.

Sebab, masa depan sering kali dimulai dari satu hal sederhana: seorang anak muda yang berani bermimpi.