ADIPEC 2026 Jadi Panggung Indonesia Gaet Investor Migas Dunia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Abu Dhabi, UAE, ruangenergi.com– Indonesia memanfaatkan ajang Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026 untuk memperluas kemitraan industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dengan pelaku energi dunia. Melalui Indonesia Pavilion, pemerintah menawarkan peluang investasi sekaligus membuka jalan bagi kerja sama strategis yang diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional.

Pameran dan konferensi energi internasional yang berlangsung pada 2–5 November 2026 di ADNEC Centre, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), ini menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan industri hulu migas Indonesia untuk memperkenalkan potensi sumber daya energi dan kemampuan industri dalam negeri.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, ADIPEC merupakan platform penting bagi Indonesia untuk bertukar gagasan, menjajaki peluang investasi, dan membangun kemitraan strategis dengan komunitas energi global.

“ADIPEC tahun ini menyoroti pentingnya membangun sistem energi yang tangguh serta mengubah berbagai peluang menjadi tindakan nyata. Kami meyakini bahwa semangat ini selaras dengan komitmen Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi melalui investasi, inovasi, dan kolaborasi internasional,” ujar Djoko.

Berbagai kegiatan promosi investasi digelar di Indonesia Pavilion yang berlokasi di Hall 7 ADNEC Centre. Mulai dari presentasi teknis hingga pertemuan bisnis tingkat tinggi, seluruh rangkaian kegiatan diarahkan untuk mempertemukan potensi hulu migas Indonesia dengan kebutuhan dan peluang kerja sama para investor internasional.

SKK Migas, Pertamina, dan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) turut menyampaikan presentasi teknis mengenai peluang investasi, potensi eksplorasi, serta prospek pengembangan industri hulu migas Indonesia.

SKK Migas memaparkan berbagai peluang investasi hulu migas, potensi eksplorasi yang masih terbuka, serta prospek industri ke depan.

Sementara itu, BPMA mengangkat peluang pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS) di Arun melalui kemitraan strategis. BPMA juga memaparkan peluang dan tantangan pengelolaan gas berkadar karbon dioksida (CO2) tinggi di Kuala Langsa.

Paparan tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkenalkan peluang investasi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi migas, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan teknologi dan inovasi industri.

Pertemuan Bisnis Buka Jalan Kerja Sama Strategis

Momentum ADIPEC 2026 juga dimanfaatkan untuk mempertemukan perusahaan Indonesia dengan mitra bisnis internasional.

Sejumlah pertemuan bisnis tingkat tinggi dijadwalkan berlangsung di Indonesia Pavilion, antara lain antara Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) dan Halliburton Worldwide Ltd., PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari (ELPI) Samudra Offshore dengan Atlantic Maritime Group FZE, serta PDSI dengan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC).

Pertemuan PDSI dengan ADNOC merupakan tindak lanjut dari penandatanganan kerja sama aliansi strategis yang dilakukan di Indonesia Pavilion pada hari pertama ADIPEC 2026.

Rangkaian pertemuan ini menunjukkan bahwa partisipasi Indonesia tidak hanya berorientasi pada promosi peluang investasi, tetapi juga mendorong kerja sama konkret yang dapat memperkuat kapabilitas perusahaan nasional di industri energi global.

Sebelumnya, pada 3 November 2026, Djoko Siswanto juga menggelar pertemuan tingkat tinggi antara SKK Migas dengan INPEX, Samsung, dan sejumlah mitra bisnis lainnya.

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, Djoko melakukan kunjungan kehormatan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di UEA, kemudian menghadiri kegiatan Ikatan Ahli Tambang Indonesia (IATMI) UEA bersama diaspora Indonesia.

Kemitraan untuk Ketahanan Energi dan Pertumbuhan Ekonomi

Djoko menegaskan, industri hulu migas memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus mewujudkan ketahanan energi nasional.

Menurutnya, kontribusi industri ini tidak hanya berasal dari penyediaan pasokan energi, tetapi juga melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan sektor industri, dan terbukanya berbagai peluang ekonomi.

“Untuk melaksanakan berbagai pekerjaan ini, Indonesia menyadari pentingnya kemitraan yang kuat dan berkelanjutan dengan komunitas energi global,” kata Djoko.

Ia menambahkan, pemerintah Indonesia menginginkan agar partisipasi dalam ADIPEC menghasilkan kesepakatan yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak.

Investor diharapkan memperoleh imbal hasil yang menarik, sementara Indonesia mendapatkan manfaat berupa peningkatan produksi migas, ketahanan energi yang lebih kuat, serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Djoko optimistis Indonesia masih memiliki peluang besar dalam kegiatan eksplorasi dan pengembangan hulu migas.

“Indonesia terus menawarkan peluang yang signifikan untuk kegiatan eksplorasi dan pengembangan hulu minyak dan gas. Negara kita diberkahi dengan sumber daya hidrokarbon yang melimpah, yang banyak di antaranya menjanjikan peluang untuk penemuan di masa depan,” ujarnya.

Sebelas KKKS dan 13 Perusahaan Nasional Turut Berpartisipasi

Pada ADIPEC 2026, Indonesia Pavilion mengusung tema “Indonesia: A Strategic Horizon for Your Global Energy Investment”.

Tema tersebut mencerminkan besarnya peluang kemitraan strategis dan potensi industri hulu migas Indonesia bagi investor dunia.

Partisipasi Indonesia turut didukung oleh 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 13 Perusahaan Dalam Negeri (PDN). Kehadiran mereka menjadi kesempatan untuk memperkenalkan peluang investasi, kemampuan teknologi, serta kapasitas industri penunjang migas nasional kepada komunitas energi internasional.

Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia berharap ADIPEC 2026 tidak sekadar menjadi ajang promosi, tetapi juga menghasilkan kemitraan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi pengembangan industri hulu migas serta ketahanan energi nasional.