Yogyakarta, Jateng, ruangenergi.com – Kebutuhan tenaga kerja yang kompeten dan adaptif menjadi tantangan penting bagi industri minyak dan gas bumi (migas). Menjawab tantangan tersebut, PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) memperkuat kolaborasi dengan dunia pendidikan untuk menyiapkan talenta masa depan yang siap menghadapi dinamika industri.
Komitmen itu ditegaskan melalui partisipasi Pertamina Drilling dalam Indonesia Career Center Network (ICCN) Summit 2026 yang berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Dalam forum tersebut, Vice President Human Capital Pertamina Drilling Abimanyu Suryadi hadir sebagai narasumber untuk membahas strategi penyiapan dan pengembangan talenta masa depan.
Kehadiran Pertamina Drilling menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi atau dikenal sebagai pendekatan triple helix.
Abimanyu menekankan bahwa sinergi ketiga sektor tersebut sangat penting untuk menjembatani kesenjangan kompetensi antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.
“Perguruan tinggi dan industri harus berjalan seirama untuk memastikan para lulusan tidak hanya menguasai teori akademis, tetapi juga adaptif, siap kerja, serta mengedepankan aspek keselamatan (safety) dan daya saing global,” ungkap Abimanyu.
Menurutnya, pengembangan talenta tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan akademis. Dunia industri juga perlu terlibat secara aktif dalam memberikan pengalaman, keterampilan praktis, serta pemahaman terhadap budaya kerja profesional.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, Pertamina Drilling terus mengoptimalkan peran Indonesia Drilling Training Center (IDTC) di Indramayu, Jawa Barat.
Pusat pelatihan tersebut dikembangkan melalui fungsi Human Capital bersama fungsi Non Rig Services untuk menjadi wadah kolaborasi strategis dalam mencetak tenaga ahli yang kompeten dan berdaya saing tinggi.
Dengan fasilitas pelatihan berstandar internasional, IDTC diharapkan mampu memperkuat kesiapan tenaga kerja dalam menghadapi kebutuhan operasional industri migas, termasuk penerapan budaya keselamatan kerja.
Pengembangan IDTC juga menjadi bagian dari upaya Pertamina Drilling untuk memastikan bahwa peningkatan kompetensi berjalan seiring dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Selain menghadirkan narasumber, Pertamina Drilling turut berpartisipasi dalam forum Industry Gathering/Employer Meeting yang menjadi bagian dari ICCN Summit 2026.
Forum tersebut mempertemukan perwakilan industri dengan pengelola pusat karier dari 108 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Pertemuan ini menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan kebutuhan industri dengan potensi talenta yang dihasilkan perguruan tinggi, sekaligus memperkuat kesinambungan pasokan tenaga kerja atau talent pipeline nasional.
Bagi Pertamina Drilling, keterlibatan dalam forum tersebut membuka peluang untuk memperluas jejaring dengan institusi pendidikan dan mendorong pengembangan kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan industri migas.
Melalui sinergi yang semakin erat bersama institusi pendidikan, termasuk Universitas Negeri Yogyakarta, Pertamina Drilling optimistis integrasi dunia pendidikan dan industri dapat dipercepat.
Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat kesiapan lulusan memasuki dunia kerja, tetapi juga mendukung lahirnya talenta masa depan Indonesia yang kompeten, adaptif, menjunjung tinggi keselamatan, dan mampu bersaing di tingkat global.
Pada akhirnya, kolaborasi pendidikan dan industri menjadi salah satu kunci penting dalam membangun sumber daya manusia yang tangguh untuk mendukung keberlanjutan industri energi nasional.


