DME

Bakal Gantikan Posisi LPG, Ini Kelebihan DME

Jakarta, Ruangenergi.com Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (Puslitbangtek Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”, berhasil membuktikan proses pengolahan hilirisasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME), sehingga hal tersebut dapat mensubtitusi penggunaan LPG yang selama ini membebankan negara sekitar 70% karena impor.

Kehadiran DME untuk rumah tangga disinyalir akan menggantikan keberadaan LPG yang selama ini menemani para ibu-ibu masak dirumah.

Pasalnya, prospek pengembangan bahan bakar DME di Indonesia saat ini sangat menjanjikan, dikarenakan ramah lingkungan dan dibeberapa daerah di Indonesia memiliki bahan baku yang tersedia melimpah.

Di mana, penelitian DME sebagai bahan bakar telah dilakukan oleh Kelompok Program Penelitian dan Pengembangan (KP3) Aplikasi Produk Puslitbangtek Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” sejak tahun 2009.

Bahan baku DME bisa bersumber dari gas alam, batubara maupun dari biomassa yang bersih dan ramah lingkungan yang diolah menjadi DME.

Selain itu, Kementerian ESDM melalui Puslitbangtek Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”, Badan Litbang ESDM, pernah melakukan uji terap pemanfaatan DME sebagai bahan bakar rumah tangga dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi Sumatera Selatan.

Dok LEMIGAS

Sosialisasi Uji Terap DME tersebut dilakukan di Kelurahan Air Lintang, Kabupaten Muara Enin pada tahun 2019 yang lalu.

Menurut, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, karakteristik fisik DME, memiliki kesamaan dengan LPG, yaitu berwujud gas dalam kondisi ruang.

Sebagai bahan bakar, DME dapat dimanfaatkan secara langsung maupun dicampur dengan LPG serta dapat menggunakan infrastruktur LPG untuk penyaluran ke konsumen.

“LEMIGAS sudah melakukan penelitian DME sejak 2009 lalu. Lemigas ditunjuk sebagai pusat riset pengembangan DME oleh Kementerian Riset dan Teknologi, dan kita sudah berhasil membuktikan bahwa dari proses pembuatan DME, proses memodifikasi kompor, proses memastikan kualitas dari DME, sehingga secara teknis layak untuk mensubtitusi penggunaan LPG,” tuturnya.

Kebijakan pemerintah yang perlu disiapkan untuk mendukung proyek hilirisasi batubara menjadi produk DME yakni kebijakan Harga Jual khusus Batubara, Harga Jual DME, dan Skema Subsidi DME.

BACA JUGA  Prihatin Kondisi Industri Timah, MIND ID Lakukan Pembenahan Tata Kelola Niaga Timah

Selain memperhitungkan aspek finansial terhadap DME, kehadiran juga akan memberikan nilai tambah yang lebih luas terhadap negara.

Dirjen EBTKE

“Selain keekonomian proyek, setidaknya terdapat 6 poin dampak ekonomi dari hilirisasi batubara dengan kapasitas produksi sekitar 1,4 juta ton DME. Benefit ini mungkin belum banyak diketahui publik,” terangnya.

Adapun keenam poin tersebut di antaranya :

Pertama, DME meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor LPG. Dengan penggunaan DME, akan menekan impor LPG hingga 1 juta ton LPG per tahun, dengan kapasitas produksi DME 1,4 juta ton per tahun.

Kedua, menghemat cadangan devisa hingga Rp9,7 triliun per tahun dan menghemat Neraca Perdagangan hingga Rp 5,5 triliun per tahun.

Ketiga, akan menambah investasi asing yang masuk ke Indonesia sebesar USD2,1 miliar (sekitar Rp30 triliun).

Keempat, pemanfaatan sumberdaya batubara kalori rendah sebesar 180 juta ton selama 30 tahun umur pabrik.

Kelima, adanya multiplier effect berupa manfaat langsung yang didapat pemerintah hingga Rp 800 miliar per tahun.

Keenam, pemberdayaan industri nasional yang melibatkan tenaga lokal dengan penyerapan jumlah tenaga kerja sekitar 10.570 orang pada tahap konstruksi dan 7.976 orang pada tahapan operasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *