Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Asap tipis pernah menjadi penanda pagi di banyak dapur rumah tangga Indonesia. Di sudut-sudut kampung, ibu-ibu menyalakan tungku minyak tanah sebelum matahari benar-benar naik. Bunyi sumbu terbakar dan aroma khas minyak tanah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat selama puluhan tahun.
Namun sejarah energi rumah tangga Indonesia berubah drastis ketika pemerintah meluncurkan program konversi minyak tanah ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada pertengahan dekade 2000-an. Tabung hijau 3 kilogram hadir sebagai simbol perubahan besar: subsidi energi diarahkan ulang, impor minyak ditekan, dan jutaan rumah tangga diperkenalkan pada cara memasak yang dianggap lebih efisien.
Saat itu, perubahan berlangsung masif. Pemerintah membagikan paket kompor dan tabung gas kepada masyarakat. Warung-warung kecil mulai menjual LPG 3 kilogram. Dapur Indonesia pun perlahan berubah wajah.
Dari sisi kebijakan ekonomi energi, langkah tersebut dianggap salah satu program transformasi energi rumah tangga terbesar dalam sejarah Indonesia. Beban subsidi minyak tanah yang terus membengkak dianggap tidak lagi sehat bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). LPG dipilih karena dinilai lebih praktis, cepat, dan ekonomis.
Tetapi seperti banyak kebijakan energi lainnya, cerita tidak berhenti di sana.
Beberapa tahun kemudian, arah kebijakan kembali bergerak. Pemerintah mulai mendorong masyarakat menggunakan kompor listrik sebagai bagian dari agenda efisiensi energi nasional. Narasi transisi energi mulai masuk ke ruang-ruang domestik.
Masyarakat diajak melihat listrik bukan hanya sebagai sumber penerangan, melainkan juga energi utama untuk memasak. Bantuan rice cooker dibagikan kepada sebagian warga. Kampanye penggunaan kompor induksi digaungkan. Dalam logika pemerintah, pemanfaatan listrik domestik yang berlebih pada malam hari bisa dioptimalkan, sementara ketergantungan terhadap impor LPG dapat dikurangi.
Namun dapur rumah tangga tidak hanya berbicara soal statistik konsumsi energi.
Ia juga berbicara tentang kebiasaan, budaya, dan rasa aman.
Bagi sebagian keluarga Indonesia, memasak bukan aktivitas sederhana. Ada tradisi panjang yang hidup di dalamnya. Memasak opor selama berjam-jam menjelang Lebaran, merebus gulai dalam panci besar saat hajatan, atau mengaduk rendang hingga matang sempurna sepanjang malam adalah bagian dari kebudayaan yang tidak mudah disesuaikan hanya lewat slogan efisiensi energi.
Di tengah dorongan elektrifikasi, pemerintah kembali memperkenalkan gagasan baru: Dimethyl Ether (DME). Energi alternatif berbahan baku batu bara ini diproyeksikan menjadi pengganti LPG untuk mengurangi impor yang terus membebani neraca perdagangan energi nasional.
Proyek DME sempat digadang-gadang sebagai jawaban strategis. Indonesia memiliki cadangan batu bara melimpah yang dapat dihilirisasi menjadi bahan bakar rumah tangga. Narasi kemandirian energi kembali dikedepankan.
Tetapi lagi-lagi, perjalanan belum benar-benar tiba di tujuan.
Belakangan, muncul lagi opsi substitusi LPG menggunakan Compressed Natural Gas (CNG). Gas bumi dipandang lebih tersedia di dalam negeri dan berpotensi menjadi alternatif yang lebih murah. Infrastruktur distribusi gas untuk rumah tangga mulai kembali dibicarakan.
Di titik ini, masyarakat seolah menyaksikan satu hal yang terus berulang: energi untuk dapur terus berganti nama dan bentuk.
Minyak tanah pernah dianggap solusi. Lalu LPG menjadi jawaban. Setelah itu listrik diperkenalkan. DME sempat dipromosikan. Kini CNG mulai disebut-sebut sebagai masa depan baru.
Tetapi bagi masyarakat, terutama kelas menengah bawah, kebutuhan dasarnya sesungguhnya sangat sederhana: kepastian energi.
Mereka tidak terlalu mempersoalkan apakah api berasal dari minyak tanah, LPG, listrik, DME, atau CNG. Yang mereka inginkan adalah energi yang mudah diperoleh, aman digunakan, dan terjangkau harganya.
Sebab di dapur rakyat, teori transisi energi bertemu dengan realitas sehari-hari.
Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, misalnya, yang dibutuhkan keluarga Indonesia adalah kemampuan memasak rendang hingga matang sempurna tanpa khawatir bahan bakar habis di tengah proses. Tidak ada yang ingin panik mencari tabung gas saat malam takbiran, atau cemas listrik padam ketika santan sedang mendidih.
Pada akhirnya, energi rumah tangga bukan sekadar soal teknologi atau pilihan bahan bakar. Ia adalah soal kehadiran negara dalam menjamin rasa tenang masyarakat di ruang paling domestik: dapur mereka sendiri.
Karena bagi rakyat, kepastian jauh lebih penting daripada sekadar pergantian jargon energi dari satu era ke era berikutnya.


