Abu Dhabi, UAE, ruangenergi.com – Di tengah gemerlap pameran energi dunia, sebuah kisah kebanggaan industri nasional hadir dari Paviliun Indonesia di Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026. Bukan sekadar kesepakatan bisnis, tetapi juga bukti bahwa karya anak bangsa mampu menjawab kebutuhan industri energi global.
Kisah itu datang dari kapal penunjang kegiatan hulu minyak dan gas bumi buatan Indonesia yang kembali dipesan Saudi Aramco. Setelah sebelumnya menggunakan dua kapal sejenis, perusahaan energi raksasa Arab Saudi tersebut memesan dua kapal tambahan untuk mendukung kegiatan operasionalnya.
Kapal ini memiliki keunggulan yang menjadi daya tarik utama: mampu menghemat konsumsi bahan bakar hingga 50 persen.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, dalam laporannya dari ADIPEC 2026, menyebut kesepakatan tersebut sebagai salah satu capaian yang membanggakan bagi Indonesia.
“Alhamdulillah,” demikian ungkapan Djoko saat melaporkan perkembangan kerja sama dan berbagai capaian Indonesia di ajang internasional tersebut, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com.
Di balik kapal yang menarik perhatian Saudi Aramco itu, tersimpan cerita tentang kemampuan industri nasional yang terus berkembang.
Kapal tersebut dibuat di Gresik, Jawa Timur, dengan melibatkan sekitar 100 pekerja Indonesia. Desainnya dikembangkan oleh para insinyur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sementara pengoperasiannya dapat dikendalikan langsung dari Surabaya.
Kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kapal mencapai 70 persen. Artinya, sebagian besar nilai dan komponen produksinya telah melibatkan kemampuan serta sumber daya industri dalam negeri.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah komponen yang harus didatangkan dari luar negeri, terutama mesin kapal dan aluminium untuk badan kapal yang diimpor dari Yunani.
Ke depan, Djoko berharap PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dapat memenuhi kebutuhan aluminium untuk produksi kapal tersebut. Dengan begitu, rantai pasok industri nasional diharapkan semakin kuat dan ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.
Hingga saat ini, sebanyak 10 kapal sejenis telah diproduksi. Tahun depan, produksi direncanakan bertambah dua unit, sejalan dengan pesanan tambahan dari Saudi Aramco.
Bagi Indonesia, capaian ini bukan hanya soal bertambahnya pesanan kapal. Lebih dari itu, ada peluang untuk memperluas peran industri nasional dalam rantai pasok global sektor minyak dan gas bumi.
Indonesia menjadi bagian penting dari percakapan energi dunia

Kebanggaan dari industri kapal tersebut menjadi salah satu warna dalam partisipasi Indonesia di ADIPEC 2026.
Ajang internasional yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, itu dibuka oleh Menteri Energi UEA dan dihadiri sekitar 30 pejabat setingkat menteri, duta besar, CEO perusahaan energi dunia, serta pimpinan perusahaan penunjang industri migas.
Sebanyak 40 negara membuka paviliun, termasuk Indonesia, dengan ribuan stan perusahaan minyak dan gas bumi serta penyedia jasa pendukung dari berbagai negara.
Dalam laporan yang disampaikan pada Kamis (5/11/2026), Djoko Siswanto menyebut dirinya hadir mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, bersama Wakil Menteri Riset dan Teknologi Stella Christie, saat membuka Paviliun Indonesia.
Kehadiran Indonesia di forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi investasi hulu migas, sekaligus memperluas kerja sama dengan para pelaku industri energi internasional.
Dalam sambutan pembukaan, Menteri Energi UEA menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara dan antarpemangku kepentingan di sepanjang rantai bisnis energi, mulai dari hulu, tengah, hingga hilir.
Kolaborasi tersebut dinilai semakin penting untuk memastikan pasokan energi yang berkelanjutan, dari produsen hingga konsumen.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kebutuhan energi dunia juga diperkirakan terus meningkat. Namun, teknologi AI sekaligus menawarkan peluang untuk mempercepat pencarian sumber energi dan meningkatkan efisiensi pemanfaatannya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan industri energi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi minyak dan gas, tetapi juga oleh inovasi teknologi, efisiensi, dan kerja sama global.
Dari Masela hingga Andaman, peluang investasi terus dibuka
Di sela-sela kegiatan ADIPEC, Djoko juga melakukan sejumlah pertemuan strategis dengan pimpinan perusahaan energi internasional.
Pertemuan dengan CEO INPEX, Ueda, dan jajaran manajemen perusahaan membahas perkembangan proyek pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela.
Sementara itu, pertemuan dengan CEO Mubadala membicarakan perkembangan pengembangan Lapangan Andaman.
Djoko juga bertemu dengan pimpinan Searah dan ENI untuk membahas kemajuan proyek Geng North, Gendalo-Gehem, serta Geliga.
Pertemuan-pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi dan mendorong percepatan proyek-proyek hulu migas yang memiliki arti strategis bagi ketahanan energi Indonesia.
Selain itu, Paviliun Indonesia turut menjadi tempat berlangsungnya berbagai pembahasan kerja sama investasi, mulai dari eksplorasi, pembangunan infrastruktur, hingga penyediaan barang dan jasa penunjang industri hulu migas.
Salah satu kesepakatan lainnya adalah kerja sama pembangunan fasilitas pencampuran bahan kimia untuk kebutuhan enhanced oil recovery (EOR) di Abu Dhabi, antara PT Tara Abu Dhabi dan PT Luas Birus.
Bahan baku kimia untuk fasilitas tersebut akan berasal dari Indonesia, sehingga membuka peluang bagi industri nasional untuk masuk lebih jauh ke dalam rantai pasok teknologi peningkatan produksi migas.
Di ruang diskusi ADIPEC, isu gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) juga menjadi perhatian para pelaku industri.
Berbagai pertanyaan muncul mengenai keseimbangan pasokan dan permintaan LNG, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.
Pembahasan mencakup produksi, infrastruktur, harga, hingga kebutuhan kontrak LNG yang lebih fleksibel agar dapat menyesuaikan dinamika pasar energi.
Isu ini menjadi semakin relevan ketika negara-negara di dunia berupaya menjaga keamanan pasokan energi di tengah perubahan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
Indonesia, dengan potensi sumber daya gas bumi yang dimiliki, memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam pasar energi global sekaligus memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi.
Diaspora dan masa depan industri migas Indonesia
Rangkaian kegiatan Indonesia di Abu Dhabi juga menyentuh pengembangan sumber daya manusia dan jejaring profesional.
Di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abu Dhabi, digelar diskusi panel bersama diaspora Indonesia.
Forum tersebut menghadirkan Sandiaga Uno, Duta Besar RI, Kepala SKK Migas, Ketua IATMI, serta sejumlah narasumber internasional dan pakar di bidang migas nonkonvensional dan sour gas.
Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman, sekaligus memperkuat hubungan antara tenaga profesional Indonesia di luar negeri dengan perkembangan industri energi nasional.
Di tengah upaya mempercepat pengembangan proyek hulu migas, kebutuhan terhadap keahlian teknis, inovasi, dan kolaborasi lintas negara semakin penting.
ADIPEC 2026 memperlihatkan bahwa peluang Indonesia di industri energi global tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang dimiliki.
Di balik potensi minyak dan gas bumi, terdapat kemampuan rekayasa, tenaga kerja terampil, dan industri pendukung yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah.
Pesanan tambahan kapal dari Saudi Aramco menjadi gambaran nyata bagaimana karya anak bangsa dapat memperoleh kepercayaan pasar internasional melalui efisiensi dan kualitas teknologi.
Dengan TKDN 70 persen, kapal tersebut juga memperlihatkan bahwa industri nasional memiliki ruang untuk terus memperbesar kontribusinya, termasuk melalui penguatan pasokan bahan baku dalam negeri.
Dari Gresik, kapal-kapal buatan Indonesia berlayar membawa lebih dari sekadar teknologi. Kapal-kapal itu membawa cerita tentang kemampuan, kerja keras, dan peluang industri nasional untuk semakin diperhitungkan di panggung dunia.
Bagi Djoko Siswanto dan jajaran SKK Migas, semangat yang dibawa dari Abu Dhabi adalah memperkuat kolaborasi, membuka peluang investasi, dan mendorong industri hulu migas Indonesia agar terus berkembang.
Sebagaimana pesan penutup dalam laporan Djoko, perjuangan meningkatkan produksi migas nasional harus terus dilakukan dengan semangat bersama.


