Dari Perut Bumi Prabumulih: Sumur L5A-312 Jadi Mesin Baru Produksi Minyak Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Prabumulih, Sumsel, ruangenergi.com-Senin, 11 Mei 2026 menjadi hari yang membawa optimisme baru bagi industri hulu migas nasional.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan kabar menggembirakan dari wilayah operasi Pertamina Hulu Rokan Zona 4 di Sumatera Selatan.

Sebuah sumur pengembangan baru bernama L5A-312 di Lapangan Limau Timur berhasil menunjukkan performa produksi yang menjanjikan. Sumur yang mulai ditajak pada 31 Maret 2026 itu sukses menjalani uji produksi pada 9 Mei 2026 dengan capaian sementara sebesar 643 barel minyak per hari (BOPD).

Angka tersebut menjadi sinyal positif di tengah upaya pemerintah dan industri migas nasional menahan laju penurunan alamiah produksi minyak nasional yang selama ini menjadi tantangan utama sektor energi Indonesia.

“Alhamdulillah, hasil awal sumur menunjukkan produksi minyak mencapai 643 BOPD dengan kandungan air hanya sekitar 1 persen,” demikian laporan yang disampaikan Djoko Siswanto kepada Menteri ESDM, Wakil Menteri ESDM, Komwas SKK Migas, dan jajaran pimpinan tinggi terkait, seperti diceritakan kembali kepada ruangenergi.com.

Produksi dari sumur L5A-312 berasal dari lapisan eksisting TAF-W3. Untuk mengoptimalkan pengangkatan fluida, tim operasi menggunakan teknologi Electric Submersible Pump (ESP) yang dipasang langsung di dalam sumur dengan skema open flow.

Dengan water cut hanya 1 persen, kualitas produksi awal dinilai sangat baik dan efisien untuk mendukung peningkatan lifting nasional.

Lokasi sumur ini berada sekitar 10 kilometer di sebelah barat Kota Prabumulih, di kawasan yang dikenal sebagai salah satu tulang punggung produksi migas tua di Sumatera Selatan. Secara geografis, area ini diapit Lapangan Betung di sisi barat dan Lapangan Karangan di sisi timur.

Lapangan Limau sendiri bukan nama baru dalam sejarah migas Indonesia. Struktur ini merupakan bagian dari tren antiklin dan patahan Lematang yang membentang dari barat ke timur.

Wilayahnya terbagi dalam sejumlah kompartemen struktur seperti Belimbing, Niru, Limau Barat, Limau Tengah, hingga Limau Timur. Meski tergolong lapangan mature, keberhasilan pengeboran baru ini membuktikan bahwa potensi migas di kawasan tersebut masih sangat prospektif apabila dikelola dengan teknologi dan strategi eksplorasi yang tepat.

62 Ribu Jam Kerja Tanpa Kecelakaan

Tak hanya soal produksi, keberhasilan operasi ini juga menjadi catatan penting dalam aspek keselamatan kerja.

SKK Migas dan Pertamina mencatat total 62.712 jam kerja tanpa kecelakaan sejak pengeboran dimulai. Capaian tersebut menunjukkan komitmen kuat terhadap prinsip HSSE (Health, Safety, Security & Environment) serta operational excellence di lapangan.

Sumur L5A-312 dibor secara directional menggunakan rig PDSI#32.2/N80UE-E hingga mencapai kedalaman akhir 2.546,50 meter measured depth (mMD) atau 2.532,60 meter true vertical depth (mTVD).

Seluruh proses pengeboran hingga uji produksi berhasil diselesaikan dalam waktu 40 hari.

Keberhasilan sumur Limau Timur ini menjadi suntikan semangat bagi target peningkatan lifting minyak nasional yang terus digenjot pemerintah.

Di tengah tantangan penurunan produksi alamiah dari lapangan-lapangan tua, keberhasilan pengeboran sumur pengembangan dengan hasil optimal menjadi bukti bahwa kolaborasi SKK Migas dan Pertamina masih mampu menghadirkan terobosan nyata.

Pesan optimisme pun mengemuka di akhir laporan:

“Bersama kita BISA. Lifting naik: BISA, BISA, BISA.”