Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com-Di sebuah pagi yang hangat di Balikpapan, suasana PRCC Auditorium di Kompleks Pasir Ridge tampak berbeda dari biasanya. Perempuan-perempuan dari berbagai lini pekerjaan berkumpul, bukan sekadar untuk menghadiri acara seremonial, melainkan merayakan makna yang lebih dalam tentang menjadi perempuan di era modern—seimbang, sehat, dan berdaya.
Momentum itu hadir dalam peringatan Hari Kartini 2026 yang digelar oleh Grup PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Zona 10. Mengusung tema “Energi Kartini: Jaga Sehatmu, Jaga Cantikmu, & Jaga Keluargamu”, kegiatan ini menjelma menjadi ruang refleksi sekaligus inspirasi.
Alih-alih sekadar mengenang sosok R.A. Kartini sebagai simbol emansipasi, acara ini mengajak perempuan untuk menafsirkan ulang perjuangan tersebut dalam konteks kekinian: bagaimana tetap tumbuh dalam karier tanpa kehilangan peran strategis di dalam keluarga.
Di antara rangkaian kegiatan, mulai dari talk show kesehatan hingga demo kecantikan, satu pesan terasa kuat—perempuan perlu mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. Bukan dalam arti yang dangkal, melainkan kesadaran untuk menjaga kesehatan fisik dan mental sebagai fondasi kehidupan yang lebih luas.
Talk show kesehatan menjadi salah satu sesi yang paling menyentuh. Kehadiran dokter spesialis, tenaga medis, hingga para penyintas kanker menghadirkan realitas yang tak bisa diabaikan: pentingnya deteksi dini sebagai langkah sederhana namun krusial. Dari cerita-cerita yang dibagikan, tersirat kekuatan perempuan yang tidak hanya bertahan, tetapi juga menginspirasi.
Di balik terselenggaranya acara ini, ada peran komunitas PERTIWI—wadah pekerja perempuan di lingkungan Pertamina yang sejak 2021 aktif mendorong pemberdayaan dan kepemimpinan perempuan. Komunitas ini menjadi bukti bahwa perubahan tidak datang dari wacana semata, melainkan dari ruang-ruang nyata yang memberi kesempatan perempuan untuk berkembang.
General Manager Zona 10, Darmapala, dalam sambutannya menegaskan bahwa Hari Kartini bukanlah seremoni tahunan yang rutin dilalui. Ia adalah pengingat bahwa kesetaraan harus terus dirawat. Di lingkungan kerja, hal ini diterjemahkan dalam komitmen membangun ruang yang inklusif, adil, dan memberi peluang setara bagi setiap individu.
Namun lebih dari itu, ia menyoroti satu hal yang sering luput: kontribusi perempuan tidak berhenti di ruang kerja. Di rumah, mereka adalah penggerak utama keluarga—peran yang justru menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih kuat.
Hal senada disampaikan Ketua PERTIWI Zona 10, Mangisi Herawati. Baginya, tema self love yang diangkat tahun ini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan. Perempuan yang mampu merawat dirinya akan memancarkan energi positif, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Dari Balikpapan, semangat Kartini itu terasa hidup—bukan dalam bentuk pidato panjang atau slogan kosong, tetapi dalam kesadaran sederhana: bahwa perempuan yang sehat, percaya diri, dan berdaya adalah kunci lahirnya generasi yang kuat.
Di tengah dinamika industri energi yang terus bergerak, pesan itu menjadi semakin relevan. Bahwa di balik setiap produksi, inovasi, dan target besar, ada peran perempuan yang tak tergantikan—sebagai profesional, sebagai ibu, dan sebagai agen perubahan.
Kartini mungkin hidup di masa lalu, tetapi semangatnya menemukan bentuk baru hari ini—di ruang-ruang seperti ini, di perempuan-perempuan yang terus melangkah, menjaga diri, menguatkan keluarga, dan tanpa henti memberi energi bagi masa depan.


