Sumur LLA-6 ONWJ Mengalir Deras: Sinyal Positif Lifting Migas Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari laut Jawa Barat. Di tengah upaya keras pemerintah mendongkrak lifting nasional, satu lagi sumur berhasil menunjukkan performa impresif.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan capaian positif dari PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Sumur pengembangan LLA-6 yang mulai dibor pada 24 Maret 2026 kini telah membuktikan potensinya sebagai kontributor baru produksi migas nasional.

Dalam uji produksi yang berlangsung sejak 25 April hingga 2 Mei 2026, sumur LLA-6 mencatatkan initial production sebesar 1.321 barel minyak per hari (BOPD) dan 2 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Menariknya, aliran fluida terjadi secara natural flow pada choke 40/64, dengan kandungan air nol persen (BSW 0%)—indikasi kualitas reservoir yang sangat baik.

Sumur ini mengalir dari lapisan eksisting LL-30 yang masih menyimpan tekanan reservoir optimal. Berlokasi di Platform LLA, wilayah Offshore North West Java (ONWJ), keberhasilan ini menegaskan bahwa lapangan mature pun masih menyimpan potensi signifikan jika dikelola dengan pendekatan teknis yang tepat.

Dari sisi operasional, pengeboran dilakukan secara directional menggunakan Rig PVD-II hingga kedalaman akhir 5.407 ftMD / 3.561 ftTVD. Seluruh proses—mulai dari pengeboran hingga uji alir—diselesaikan hanya dalam waktu 33 hari, mencerminkan efisiensi eksekusi di lapangan.

Tak hanya itu, efisiensi juga tercermin dari sisi biaya. Hingga tahap ini, realisasi biaya baru mencapai 61,5% dari AFE (Authorization for Expenditure) yang disetujui—memberikan ruang optimisme bagi keekonomian proyek secara keseluruhan.

Keberhasilan LLA-6 menjadi momentum penting. PHE ONWJ kini melanjutkan pengeboran ke sumur berikutnya, LLA-5, dengan harapan mampu mereplikasi—bahkan melampaui—hasil yang telah dicapai.

Di tengah tantangan produksi migas nasional, capaian ini menjadi pengingat bahwa strategi intensifikasi di lapangan eksisting masih menjadi tulang punggung peningkatan lifting. Dengan sinergi antara SKK Migas dan operator, optimisme pun kembali menguat: target produksi 2026 bukan sekadar angka, tetapi tujuan yang semakin mendekati kenyataan.

“Bersama kita bisa. Lifting naik: bisa, bisa, bisa.”