Bontang, Kaltim, ruangenergi.com-Di lepas pantai Kalimantan Timur, laut bukan sekadar hamparan air biru tempat para nelayan menggantungkan asa dan menebar jala. Di balik deburan ombaknya, berdenyut nadi ketahanan energi nasional yang menopang kehidupan jutaan rakyat Indonesia. Di sinilah industri hulu minyak dan gas (migas) beroperasi—sebuah sektor dengan risiko tinggi di mana kata “keselamatan” bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan harga mutlak yang tidak bisa ditawar.
Komitmen tingkat tinggi terhadap keselamatan inilah yang tercermin kuat dalam langkah PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) Daerah Operasi Bagian Utara (DOBU). Pada Kamis, 5 Maret 2026 lalu, kota Bontang menjadi saksi bagaimana perusahaan ini merangkul seluruh elemen masyarakat dan negara melalui Kampanye Keselamatan & Keamanan Hulu Migas Tahun 2026.
Bagi masyarakat awam, pipa gas atau anjungan lepas pantai mungkin hanya terlihat sebagai bangunan besi raksasa yang diam. Namun, bagi para pekerja hulu migas, fasilitas tersebut adalah Objek Vital Nasional (Obvitnas) yang bernapas dan memiliki denyut risiko operasional yang harus dijaga ketat siang dan malam.
Head of Communication, Relations & CID Zona 10 PHKT, Elis Fauziyah, memaparkan bahwa kampanye yang digelar bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah upaya preventif yang krusial. Tujuannya satu: membangun awareness atau kesadartahuan masyarakat terhadap Daerah Terbatas Terlarang (DTT).
”Area tersebut merupakan bagian dari Objek Vital Nasional (Obvitnas) yang memiliki standar pengamanan khusus,” jelas Elis.
Di lapangan, pelanggaran terhadap area DTT sering kali terjadi bukan karena niat buruk, melainkan murni karena ketidaktahuan. Melalui kampanye ini, PHKT mengedukasi para nelayan dan masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga jarak aman dari fasilitas operasi, seperti pipa minyak dan gas yang melintang di rute pelayaran mereka.
”Kami menjelaskan pentingnya menjaga jarak aman ketika nelayan melintasi area DTT sehingga dapat menjaga keselamatan dirinya, fasilitas operasi hulu migas, dan lingkungan,” imbuh Elis. Sinergi antara perusahaan, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat inilah yang diyakini menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan operasi yang kondusif demi keberlanjutan energi nasional.
Langkah PHKT ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah daerah. Keterlibatan perwakilan instansi pemerintah pusat dan daerah, aparat keamanan, otoritas pelabuhan, unsur maritim, hingga kelompok nelayan membuktikan bahwa keamanan migas adalah tanggung jawab bersama.
Kabid Pengelolaan Ruang Laut Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, M. Ali Aripe, menyoroti betapa pentingnya harmonisasi di ruang laut yang sama-sama dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat pesisir.
”Pemerintah daerah, provinsi, dan PHKT perlu mensosialisasikan kegiatan ini agar berjalan aman, dan lancar, sekaligus mewujudkan ketahanan energi nasional yang menjadi prioritas dari pemerintah Indonesia,” terang Ali. Keterbukaan komunikasi ini memastikan nelayan tetap bisa mencari nafkah dengan aman, sementara negara tetap bisa memproduksi energi tanpa gangguan insiden.
Kepedulian ekstrem terhadap keselamatan ini tidak hanya digaungkan ke luar, tetapi juga mengakar kuat di dalam sanubari setiap pekerja PHKT. Keselamatan dan keamanan bukanlah beban, melainkan budaya yang hidup dalam keseharian operasi.
Hal ini tergambar jelas saat Sunaryanto (Anto) melakukan Management Walkthrough (MWT) di fasilitas produksi Handil Central Processing Area (CPA). Di hadapan para pekerja di lapangan yang berhadapan langsung dengan risiko setiap harinya, pesan yang disampaikan sangat tegas dan humanis. Ia melarang keras para pekerja untuk ragu atau takut dalam melaporkan kondisi yang tidak aman.
“Segera follow up dan mitigasi risiko setiap pekerjaan. Kita harus berangkat kerja selamat dan pulang kembali ke rumah dengan selamat,” tegas Anto seperti dikutip dari website PHI.
Lebih dari sekadar mematuhi Standard Operating Procedure (SOP) di lokasi kerja, nilai-nilai keselamatan ini didorong untuk dibawa pulang dan diterapkan di lingkungan keluarga masing-masing.
Pada akhirnya, kampanye keselamatan di Bontang dan inspeksi di Handil CPA bermuara pada satu filosofi mendalam: Tidak ada liter minyak atau kubik gas yang lebih berharga dari nyawa manusia. Sinergi utuh dari seluruh pemangku kepentingan inilah yang memastikan bahwa roda energi Indonesia tetap berputar, jala nelayan tetap terisi, dan yang terpenting, setiap ayah, ibu, dan anak yang beraktivitas di sekitar fasilitas hulu migas dapat selalu kembali ke pelukan keluarga dengan selamat.

