PLTP Dieng

Geo Dipa Akan Lakukan Signing Pengembangan PLTP dengan PLN

Jakarta, Ruangenergi.comPT Geo Dipa Energi (Persero), menyatakan pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan Head of Agreement (HoA) dengan PT PLN (Persero) untuk pengembangan di beberapa Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) miliknya.

Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Utama PT Geo Dipa, Riki Firmandha Ibrahim, dalam diskusi online yang bertajuk “Sinergi Mendukung Percepatan Panas Bumi”, yang dihelat oleh Ruangenergi.com dan disiarkan secara live di channel YouTube Ruang Energi, Kamis, (06/05).

Selian itu, Riki pun ingin menyampaikan bagaimana Pemerintah telah memberikan dukungan khususnya kepada Energi Terbarukan dalam hal ini panas bumi?

Menurutnya, kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) terpasang menurut hitungannya sebesar 2.136 Megawatt (MW), dengan rincian, PLN memiliki kapasitas terpasang sebesar 577,5 MW, Pertamina Geothermal sebesar 332 MW, lalu Geo Dipa sebesar 130 MW, swasta 968,8 MW.

“Jadi saat ini PLN lah yang memiliki PLTP terbanyak di Indonesia. Kita bisa melihat kesimpulan bahwa KOB sebesar 1.203,6 MW saat ini terbesar dan itu merupakan harapan Pemerintah bahwa pengembangan sektor energi harus dikuasai oleh swasta,” ungkap Riki.

Ia menambahkan, Geo Dipa yang merupakan BUMN sekaligus SMV (Special Mission Vehicle) yang berfokus memanfaatkan energi panas bumi untuk menjadi listrik.

Di mana SMV dibentuk untuk melaksanakan tugas dari Kementerian Keuangan diluar pengelolaan fiskal utama/rutin dan mendukung investasi pemerintah dan penyediaan barang serta sarana publik yang dibutuhkan secara social ekonomi meskipun tidak menguntungkan langsung secara komersial. Sebagai mana diketahui saham Geo Dipa 94,5% dimiliki oleh Kementerian Keuangan dan 5,5% dimiliki oleh PLN.

Ada beberapa hal yang dilakukan oleh Geo Dipa, di antaranya yakni melaksanakan Mandat dari pemerintah yaitu meningkatkan komposisi bauran energi listrik nasional yang bersumber dari Energi Terbarukan melalui PLTP Dieng dan PLTP Patuha.

Melaksanakan penugasan Pemerintah untuk Government Drilling sebagai salah satu bentuk insentif fiskal untuk meng-absorb risiko ekplorasi panas bumi.

Kemudian, meningkatkan penerimaan negara berupa pajak dan PNBP (termasuk bonus produksi kepada daerah penghasil).

“Geo Dipa tahun 2021, Insya Allah, kami memberikan deviden kepala pemerintah, karena sebagai penugasan dan mandat kami untuk memberikan deviden kepada pemerintah melalui aset yang tidur sejak 2002 sampai 2019. Insya Allah, aset ini tidak tidur bisa bekerja,” paparnya.

Serta keberhasilan mengakses atau leverage pembiayaan dari Multilateral Bank cerminan kepercayaan kepada pemerintah pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia.

“Geo Dipa yang merupakan satu-satunya BUMN Panas Bumi harus unik. BUMN bukan sebagai sektor yang berkompetisi dengan swasta, tapi BUMN merupakan pendukung swasta melalui menurunkan risiko-risiko dari kepanjangan tangan pemerintah,” papar Riki.

Lebih jauh, Riki menjelaskan, Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) milik Geo Dipa yakni berada di Dieng dengan total kapasitas sumber daya sebesar 401 MW; Patuha dengan total kapasitas sumber daya sebesar 110 MW; Candi Umbul dengan total kapasitas sumber daya sebesar 54 MW; dan Arjuno Welirang dengan total kapasitas sumber daya sebesar 230 MW.

BACA JUGA  Pemerintah Perlu Tingkatkan Stimulus Energi Terbarukan Saat Pandemi

Riki F Ibrahim

“Di mana WKP Arjuno Welirang merupakan wilayah konservasi yang kamipun ditugasi untuk menata ulang lokasi tersebut sebagai lokasi lahan pengembangan panas bumi,” imbuhnya.

Terkait program Government Drilling, sebagai BUMN, Geo Dipa pun turut melaksanakan program tersebut yang berlokasi di Wae Sano (Nusa Tenggara Timur) dengan total sumber daya sebesar 40 MW; Bittuang (Sulawesi Selatan) dengan total sumber daya sebesar 34 MW; Jailolo (Maluku Utara) dengan total sumber daya sebesar 20-50 MW; Nage (Nusa Tenggara Timur) dengan total sumber daya sebesar 20 MW, bersama PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur) dan PT PII (Penjamin Infrastruktur Indonesia).

“Empat daerah ini mudah-mudah kami selesaikan 2020-2023 paling lama 2024. Dan setelah itu kami pun akan lanjut ke tempat lain,” katanya.

Ia menambahkan, ekplorasi yang dilakukan Geo Dipa sangat padat, terlebih lagi dalam beberapa waktu kedepan pihaknya akan melakukan penandatanganan kerja sama dengan PLN.

“Pada hari Selasa depan (11 April 2021),¬† Insya Allah, kami akan menandatangani Head of Agreement (HoA) bersama PLN yang disaksikan oleh Pemerintah untuk pelaksanaan GUDP ekplorasi PLTP Candradimuka, dataran tinggi Dieng dan eksplorasi-eksplorasi lainnya melalui penugasan yang menggunakan dana murah yang kami contohkan dulu agar pengembang-pengembang lainnya dapat mengikuti,” tuturnya.

Untuk ekploitasi di WKP Dieng dan Patuha Geo Dipa akan mengembangkan dengan bermitra swasta yang kompatibel baik Tbk atau Pabrikan yang dapat berpartisipasi dalam menurunkan harga listrik.

Selain itu, Geo Dipa juga terlibat dalam pencapaian target EBT pemerintah dalam Perjanjian Paris untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sampai dengan 2030 sebesar 29% melalui skema BaU atau 41% dengan skema kerja sama internasional.

“Kita harapkan mudah-mudahan 2030-2032 kami selesai pembangunan sampai dengan 2075 kami dapat 138 juta ton CO2. Dan untuk kapasitas kami lebih dari 1.2 GW karena Dieng, Patuha , Arjuno Welirang dan Telomoyo cukup baik buat kami bisa mencapainya di tahun 2035,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *