Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat ketahanan energi tanpa harus selalu bergantung pada sumber energi dari luar negeri. Salah satunya adalah gas alam yang kaya akan kandungan metana (CH4).
Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama PT Pertamina, Oki Muraza, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya setelah melakukan management walkthrough ke salah satu fasilitas Pressure Reducing Station (PRS) CNG di Yogyakarta, Kamis (13/8/2026).
Oki mengatakan, kunjungan tersebut kembali mengingatkan pentingnya memanfaatkan secara maksimal molekul metana yang tersedia di dalam negeri.
“Metana (CH4) adalah komponen paling dominan dalam gas alam yang kita produksi di Indonesia,” ujar Oki dalam unggahannya.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi Indonesia. Sebab, kandungan C3 dan C4 yang menjadi bahan baku LPG hanya sekitar 6 persen dari kandungan gas alam Indonesia.
Dengan kata lain, Indonesia memiliki sumber daya metana yang jauh lebih besar dibandingkan propana dan butana.
“Negeri kami lebih kaya molekul methen dibandingkan propane dan butane,” tulis Oki.
Karena itu, Oki menilai molekul CH4 yang tersedia di darat maupun laut perlu dimanfaatkan secara optimal. Salah satu jalannya adalah memperluas pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG).
Menurut Oki, keberadaan PRS CNG di Yogyakarta menjadi bukti bahwa infrastruktur CNG dapat dibangun, dioperasikan, sekaligus direplikasi dengan baik.
Butuh Kepastian Alokasi dan Pembiayaan
Namun, pengembangan CNG tidak cukup hanya dengan memastikan ketersediaan gas. Oki menilai diperlukan kepastian alokasi gas untuk segmen CNG sekaligus dukungan pembiayaan untuk membangun infrastrukturnya.
Pasalnya, ekosistem CNG membutuhkan investasi awal yang tidak kecil. Mulai dari infrastruktur kompresi, mother station, daughter station, hingga jaringan distribusi menuju pelanggan.
Peluang pemanfaatannya pun cukup luas, mulai dari klaster hotel, restoran dan kafe (HOREKA) hingga kawasan perumahan.
“Kita perlu mendorong akses pembiayaan dengan bunga rendah, dengan skema green financing, agar keekonomian proyek CNG tetap kompetitif tanpa membebani harga jual ke pelanggan,” jelasnya.
Skema pembiayaan hijau, menurut Oki, dapat menjadi salah satu kunci agar pembangunan infrastruktur CNG dapat diperluas secara berkelanjutan.
Bukan Sekadar Soal Energi
Menariknya, Oki melihat pengembangan CNG bukan semata-mata sebagai proyek substitusi energi. Di balik ekspansi CNG, terdapat peluang besar untuk memperkuat industri dalam negeri.
Ia menilai CNG dapat menjadi salah satu kendaraan untuk mendorong Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), khususnya melalui pengembangan kapasitas manufaktur peralatan CNG di Indonesia.
Dengan demikian, ekspansi CNG ke berbagai daerah tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menciptakan permintaan bagi industri nasional.
“Ekspansi kita ke depan tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tapi juga menggerakkan industri nasional,” tulis Oki.
Yogyakarta Jadi Model
Oki menyebut Yogyakarta telah menunjukkan bahwa model distribusi CNG berbasis klaster dapat berjalan.
Karena itu, ia berharap model PRS yang telah beroperasi di Yogyakarta dapat direplikasi ke lebih banyak kota di Indonesia.
“Semoga PRS bisa direplikasi ke lebih banyak kota untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia, dari molekul yang sudah kita miliki sendiri,” ujarnya.
Pesan Oki tersebut menegaskan satu hal: Indonesia tidak kekurangan molekul gas alam, tetapi membutuhkan ekosistem yang mampu mengolah, mendistribusikan, dan memanfaatkannya secara optimal.
Jika infrastruktur, kepastian pasokan, pembiayaan murah, dan dukungan industri dalam negeri dapat berjalan beriringan, CNG berpotensi menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menggerakkan industri manufaktur di dalam negeri.

